Penyesalan Kerab Tiba Belakangan, Kebahagian Ferdy Sambo Telah Sirna Berganti Suram dan Sepi

Terdakwa pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J yakni Ferdy Sambo berharap hakim dapat memberikan keputusan

Editor: Yandi Triansyah
(KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO)
Ferdy Sambo menjalani sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (17/1/2023). 

SRIPOKU.COM - Terdakwa pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J yakni Ferdy Sambo berharap hakim dapat memberikan keputusan yang adil terhadap dirinya.

Sesuai dengan hukum dan penilaian yang objektif atas fakta dan bukti yang telah dihadirkan di persidangan.

Menurut dia, peristiwa pembunuhan terhadap Brigadir J tidak direncanakan karena peristiwa itu terjadi begitu singkat dan diliputi emosi.

Harapan itu ia sampaikan melalui pledoi yang dibacakan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (24/1/2023).

Pledoi itu Ferdy Sambo beri judl "Setitik Harapan dalam Ruang Sesak Pengadilan".


Sambo mengaku pledoi itu mulanya hendak diberi judul 'Pembelaaan yang Sia-Sia'.

Sebab pembelaan itu ia buat di tengah hinaan, caci maki, olok-olok serta tekanan luar biasa dari semua pihak.

Tekanan itu pula yang membawa dirinya dalam keputusan dan rasa frustasi.

Sebab kata dia vonis dan tuduhan sudah dijatuhkan kepada dirinya sebelum adanya putusan Majelis Hakim.

"Rasanya tidak ada ruang sedikit pun untuk menyampaikan pembelaan. Bahkan sepotong kata pun tidak pantas untuk didengar lagi dipertimbangkan dari seorang terdakwa seperti saya," ujar Sambo.

Sambo menjelaskan selama 28 tahun bekerja sebagai aparat penegak hukum dan menangani berbagai perkara kejahatan, termasuk pembunuhan, ia belum pernah menyaksikan tekanan yang begitu besar terhadap seorang terdakwa seperti dirinya.

Perkara ini, membuat dirinya nyaris kehilangan hak sebagai seorang terdakwa dalam mendapatkan pemeriksaan yang objektif.

Dianggap telah bersalah sejak awal pemeriksaan dan haruslah dihukum berat tanpa perlu mempertimbangkan alasan apa pun dari dirinya sebagai terdakwa.

Tak hanya itu media framing dan produksi hoax terhadap dirinya sebagai terdakwa dan keluarga secara intens terus dilancarkan sepanjang pemeriksaan.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved