Korupsi Harga Al Quran, 2 Mantan Pejabat Pemda Bengkulu Ditetapkan Kejari Jadi Tersangka

Kejaksaan Negeri Bengkulu menetapkan dua mantan pejabat di Pemda Bengkulu menjadi tersangka kasus pembeliaan Al Quran.

Editor: Yandi Triansyah
(Ahmad Sendy Kurniawan Putra/TribunBengkulu.Com)
Kedua tersangka korupsi pengadaan Al Quran pada dana kesra tahun 2015, kedua tersangka digiring untuk dilakukan penahanan, Kamis (17/11/2022).(Ahmad Sendy Kurniawan Putra/TribunBengkulu.Com) 

SRIPOKU.COM - Kejaksaan Negeri Bengkulu menetapkan dua mantan pejabat di Pemda Bengkulu menjadi tersangka kasus pembeliaan Al Quran.

Selain kasus pembelian Al Quran juga kasus SPPD fiktif dan rekayasa perjalanan dinas.

Dua mantan pejabat yang tersandung kasus korupsi Al Quran yakni mantan Kasubag Kesejahteraan Sosial Masyarakat sekaligus PPTK kegiatan berinisial ES.

Satu lagi yakni mantan Kasubag Kemasyarakatan Bagian Kesra Sekretariat Daerah Bengkulu Selatan inisial S.

Perkara dugaan korupsi ini berlangsung di bidang Kesra Pemkab Bengkulu Selatan Tahun Anggaran 2015.

Kepala Kejaksaan Negeri Bengkulu Selatan Hendri Hanafi menyebut, sebenarnya ada tiga orang tersangka dalam pengembangan kasus korupsi dan kesra.

Namun satu tersangka lainnya Mantan Kasubag Pendidikan Keagamaan dan Kerohanian Bagian Kesra Bengkulu Selatan, Khalidi Jamal telah meninggal dunia.

Sedangkan dua orang tersangka lainnya yakni S dan ES berstatus pensiunan setelah keduanya mengajukan pensiun dini.

“Untuk menghindari tersangka melarikan diri, menghilangkan barang bukti, serta mengulangi perbuatannya, penyidik melakukan penahanan terhadap keduanya di Rutan Manna terhadap keduanya selama dua puluh hari ke depan," ujar Kajari dalam keterangan tertulis, Kamis (17/11/2022).

Sebelumnya, dalam perkara tindak pidana korupsi pengelolaan anggaran Bagian Kesra Sekretariat Daerah Kabupaten Bengkulu Selatan Tahun Anggaran 2015 ini, Pengadilan Tipikor Bengkulu telah menghukum bersalah dua orang, yakni Mantan Kabag Kesra Pemkab Bengkulu Selatan Heriyadi dan Bendahar Pengeluaran Nexke Yunita.

“Telah terjadi tindak pidana korupsi secara bersama-sama perbuatan tersebut dilakukan oleh S dan E dan Khalidi Jamal Almarhum bersama Kabag Kesra saat itu Heriyadi dan Bendahara Pengeluaran Nexke Yusita.

Yang mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 319 juta," ungkap Kajari.

Kerugian negara sebesar Rp 319 juta dari pagu DPA anggaran sebesar Rp 2,2 Miliar tersebut diantaranya ditimbulkan dari beberapa kegiatan fiktif dan mark up harga.

Peran ketiga Kasubag tersebut melakukan beberapa kegiatan fiktif, menggunakan pertanggungjawaban fiktif, mark up harga pembelian dan rekayasa SPPD Perjalan Dinas.

“Misalnya harga pembelian Alquran yang dimark up, kemudian proses SPPD perjalanan dinas misalnya tim safari ramadhan di beberapa tempat yang dicarikan untuk 10 kecamatan, tapi yang dibayarkan, diterima riil oleh yang bersangkutan hanya dua lokasi saja.

Sisanya digunakan oleh pihak-pihak tertentu,” demikian Hendri Hanafi.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved