Harga Karet

Update Harga Karet Hari Ini, Imbas Nilai Tukar Rupiah Melemah Harga Karet Naik Tipis

Harga karet di Sumatera Selatan (Sumsel) untuk kadar karet kering (KKK) 100 persen hingga 40 persen hari ini naik tipis dibanding harga kemarin.

Editor: adi kurniawan
eko hepronis/ts
Petani karet di Lubuklinggau -- Update harga karet hari naik tipis imbas dari nilai tukar rupiah melemah 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Harga karet di Sumatera Selatan (Sumsel) untuk kadar karet kering (KKK) 100 persen hingga 40 persen hari ini naik tipis dibanding harga kemarin.

Naiknya harga karet ini karena memang harga karet dunia hari ini naik tipis dibanding harga kemarin dan juga dibarengi dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika sehingga harga secara keseluruhan ikut naik juga.

Berdasarkan data Singapore Commodity yang diolah Dinas Perdagangan Provinsi Sumsel bersama Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, harga karet KKK 100 persen pada Rabu (16/11/2022) dibandrol Rp 20.131 per kg atau naik Rp 83 dibanding harga kemarin, Selasa (15/11/2022) dibandrol Rp 20.048 per kg.

"Indikasi harga karet hari ini naik Rp 83 per kg dibandingkan indikasi karet Selasa (16/11/2022) untuk KKK 100 persen," kata Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perdagangan Sumsel, Achmad Mirza, Rabu (16/11/2022).

Naiknya harga KKK 100 persen juga diikuti naiknya juga harga karet kualitas lainnya mulai dari 40-90 persen.

Harga KKK 90 persen dibandrol Rp 18.117 per kg, KKK 80 persen dibandrol harga Rp 16.104 per kg.

Sedangkan untuk KKK 70 persen dibandrol Rp 14.091 per kg, KKK 60 persen diharga Rp 12.078 per kg, KKK 50 persen diharga Rp 10.065 per kg, dan KKK 40 persen diharga Rp 8.052 per kg.

Menurut Mirza secara keseluruhan, ada enam faktor yang mempengaruhi harga karet di pasar internasional yaitu, nilai tukar mata uang regional terhadap dolar AS.

Apabila penguatan kurs dolar AS menjatuhkan nilai tukar mata uang lain, maka akan berpengaruh terhadap harga karet.

Lalu, penggunaan karet sintetis sebagai competitor karet alam, suplay dan demand karet di pasar karet internasional, perkembangan industri otomotif dan ban, kemudian faktor cuaca dan hama penyakit.

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved