Piala Dunia 2022
Kisah Piala Dunia 1950, Inspirasi Jersei Timnas Brasil yang Iconic Datang dari Tragedi Maracanazo
Kisah Piala Dunia 1950 menghadirkan timnas Uruguay yang meluluh-lantakkan ekspektasi berlebihan tuan rumah Brasil jadi juara di rumah sendiri.
Penulis: Muhammad Naufal Falah | Editor: bodok
SRIPOKU.COM - 15 hari lagi Piala Dunia 2022 akan segera bergulir, berikut ini kisah Piala Dunia sebelumnya, kali ini, Piala Dunia 1950 di Brasil.
Kisah Piala Dunia 1950 menghadirkan timnas Uruguay yang meluluh-lantakkan ekspektasi berlebihan tuan rumah Brasil jadi juara di rumah sendiri sehingga jadi tragedi Maracana (Maracanazo).
Simak kisah Piala Dunia 1950 yang jadi inspirasi perubahan jersei timnas Brasil yang iconic dan edisi pertama yang mewajibkan para pemain memiliki nomor punggung.
Baca juga: Kisah Piala Dunia Edisi 1938, Sukses Berlanjut Timnas Italia dan Ajang Pertama Timnas Indonesia
Usai absen selama 12 tahun, Piala Dunia keempat akhirnya dapat digelar pada 1950.
Sebelumnya ada rencana penyelenggaraan serupa pada tahun 1942 dan 1946.
Sayangnya, keduanya batal karena pecahnya Perang Dunia II.
Hingga akhirnya, Piala Dunia kembali bergulir pada 1950 dan kembali diselenggarakan di Benua Amerika, tepatnya Brasil.
Dikutip Kompas.com dari FIFA, Sabtu (5/11/2022), Piala Dunia 1950 Brasil menjadi edisi keempat dari turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Pada 1950, Piala Dunia kembali digelar di Amerika Seletan setelah dua edisi sebelumnya selalu dilangsungkan di Eropa.
Banyak Tim Mundur Sejak Kualifikasi
Format kualifikasi menuju putaran final kembali digunakan pada Piala Dunia 1950.
Akan tetapi, sejumlah negara memutuskan mundur saat kualifikasi.
Argentina, Ekuador, dan Peru mundur setelah undian kualifikasi. Sementara itu dari Asia, tiga tim yakni Filipina, Burma (Myanmar), dan Indonesia juga mundur.
Alhasil, Piala Dunia 1950 hanya diikuti oleh 13 tim yakni Brasil (tuan rumah), Italia (juara 1938), Uruguay (juara 1930), Bolivia, Chile, Meksiko, Paraguay, Spanyol, Swedia, Swiss, Amerika Serikat, dan Yugoslavia.
Piala Dunia 1950 juga menggunakan format berbeda dari tiga edisi sebelumnya.
Tuan rumah Brasil mengusulkan agar turnamen digelar menggunakan format round-robin untuk memaksimalkan pertandingan dan penjualan tiket.
Pada putaran pertama, ke-13 tim dibagi menjadi empat grup dengan Grup 3 berisi tiga tim dan Grup 4 hanya dua tim.
Air Mata Brasil di Maracana
Setelah melalui pertandingan putaran pertama, empat tim yang tampil sebagai juara masing-masing grup adalah Brasil (Grup 1), Spanyol (Grup 2), Swedia (Grup 3), dan Uruguay (Grup 4).
Keempat tim itu kemudian diadu lagi pada putaran final juga dengan format round-robin.
Pada matchday pertama, Uruguay bermain imbang 2-2 dengan Spanyol dan Brasil melibas Swedia 7-1.
Kemudian pada matchday kedua, Brasil kembali menang besar yakni 6-1 atas Spanyol. Sementara itu, Uruguay menang susah payah 3-2 atas Swedia.
Matchday ketiga menjadi laga penentuan dua tim yang berpeluang juara yakni Brasil dan Uruguay.
Brasil cuma butuh hasil imbang untuk menjadi juara, sedangkan Uruguay harus memenangkan laga jika ingin kembali mengangkat trofi Jules Rimet.
Laga penentu juara Brasil vs Uruguay itu digelar di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, dengan dihadiri oleh 173.850 penonton.
Jumlah yang hingga kini menjadi rekor penonton final Piala Dunia terbanyak.
Dukungan mutlak dari penonton plus "hanya" membutuhkan hasil imbang, laga itu seharusnya menguntungkan Brasil.
Akan tetapi, tragedi menimpa kubu tuan rumah. Brasil kalah 1-2 dari Uruguay.
Keunggulan Brasil lewat gol Albino Friaca bisa dibalas Uruguay melalui aksi Juan Schiaffino dan Alcides Ghiggia.
Dikisahkan, Stadion Maracana dengan ratusan ribu penonton yang sebelumnya riuh mendadak sunyi senyap bagai upucara pemakaman ketika wasit asal Inggris, George Reader, meniup peluit panjang tanda selesainya laga.
Sebuah tragedi sepak bola Brasil yang kemudian dikenal sebagai Maracanazo.
Di sana, di Maracana, Uruguay berjaya meraih gelar juara Piala Dunia kedua mereka.
Sementara itu, mimpi Brasil meraih trofi juara dunia pertama hancur terkubur bersama air mata rakyatnya.
Brasil selaku tuan rumah dinaungi optimisme dan kepercayaan diri ketika menyambut kembalinya pergelaran Piala Dunia itu.
Namun, tak ada yang menduga, mereka justru terperangkap dalam pesta semu di rumah sendiri.
Sejak saat itu, muncul dua mitos yang berkembang seusai kekalahan mengerikan di kandang sendiri.
Pertama, warna jersei putih, dan kedua, kiper keturunan Afrika.
Baca juga: Kisah Piala Dunia Edisi 1934, Awal Kejayaan Timnas Italia dan Jasa Pemain Argentina di Dalamnya
Kisah Jersei Putih Terkutuk dan Jersei Iconic Pembawa Tuah
Publik mengenal Brasil kini sebagai tim tersukses dalam sejarah Piala Dunia sebanyak lima kali (1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002).
Uniknya, tim nasional Brasil baru menghasilkan rentetan gelar juara Piala Dunia setelah mulai memakai kostum atau jersey berwarna dasar kuning.
Sebelum sukses dengan kostum kuning, timnas Brasil sempat terjebak dalam balutan jersey putih "terkutuk" dari Piala Dunia edisi pertama 1930 hingga edisi keempat 1950.
Kisah Brasil dengan jersey putih terkutuk tersebut mencapai puncak ketika mereka menjadi tuan rumah Piala Dunia 1950.
Kala itu, timnas Brasil memakai jersey putih dengan kerah berwarna biru sebagai identitas utama.
Mereka tampil dengan dukungan penuh dari para suporter yang percaya diri bisa melihat timnas Brasil menjadi juara Piala Dunia kala menyandang status tuan rumah.
Saking percaya diri, masyarakat Brasil tak melihat para pesaing sebagai masalah, apalagi soal warna kostum.
Namun, kepercayaan diri masyarakat Brasil berubah menjadi lara saat tim kebanggaan mereka takluk pada laga penentuan kontra Uruguay di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, 16 Juli 1950.
Laga penentuan juara Piala Dunia 1950 antara Brasil dan Uruguay kini dikenang dengan sebutan Maracanazo.
Peristiwa menyakitkan bagi masyarakat Brasil ini menjadi momen penting bagi persepakbolaan Negeri Samba. Maracanazo yang menyedihkan menuntut perubahan, termasuk soal warna kostum.
Putih Terkutuk Berubah Menjadi Kuning yang Suci
Setelah Brasil gagal menjadi juara Piala Dunia 1950, jersey putih yang sempat menjadi identitas dianggap tidak memiliki nilai patriotik atau cinta terhadap tanah air.
Kostum putih juga dinilai tidak mencerminkan bendera Brasil yang memiliki empat warna penuh arti.
Dilansir dari BBC, warna hijau di bendera Brasil melambangkan kawasan hutan yang luas, sedangkan warna kuning keemasan mewakili kekayaan sumber daya alam.
Lalu, ada juga bentuk bola dunia berwarna biru dan bintang putih yang menggambarkan langit Rio de Janeiro di malam hari.
Keempat warna penuh arti itu kemudian menjadi pedoman dalam proses perubahan warna kostum timnas Brasil.
Sebuah kompetisi untuk merancang desain kostum baru pun diluncurkan oleh surat kabar bernama Correio da Manha pada 1953.
Syaratnya jelas, setiap peserta harus menyertakan warna kuning, biru, hijau, dan putih dalam desain baru jersey timnas Brasil.
Desain terbaik dalam kompetisi tersebut bakal digunakan ketika Brasil berjuang pada Piala Dunia 1954 di Swiss.
Panitia dilaporkan menerima 401 pilihan desain sejak membuka kompetisi tersebut.
Namun, dari ratusan desain, hanya ada satu yang paling menarik perhatian juri.
Desain itu kemudian dipilih menjadi yang terbaik karena keselarasan warna dan kesederhanaannya.
Ilustrator surat kabar bernama Aldyr Garcia Schlee adalah sosok di balik desain terpilih tersebut.
Dia berhasil menemukan formula terbaik untuk kostum timnas Brasil setelah mencoba beberapa kombinasi warna dan pola.
Desain karya Aldyr Garcia Schlee itulah yang kemudian familier di mata pencinta sepak bola dunia hingga saat ini. Kaus kuning, kerah hijau, celana biru, dan kaus kaki putih adalah Brasil!
"Pada akhirnya saya menyadari bahwa kaus itu harus berwarna kuning. Itu cocok dengan biru dan kaus kaki bisa putih, dengan hijau di bagian kerah," kata Schlee, dikutip dari BBC.
Baca juga: Kisah Piala Dunia Edisi 1930, Edisi Perdana dengan Timnas Uruguay Sebagai Tuan Rumah dan Juaranya
Timnas Brasil kali pertama mengenakan jersey kuning karya Aldyr Garcia Schlee pada Maret 1954, ketika mereka mengalahkan Chile dengan skor 1-0 di Stadion Maracana.
Stadion Maracana yang sempat tertimbun rasa kecewa pun berubah menjadi monumen harapan bagi pasukan berjubah kuning.
Tuah jersey kuning timnas Brasil memang tak langsung terlihat pada Piala Dunia 1954. Brasil gugur di perempat final seusai takluk 2-4 dari Hongaria.
Namun, Brasil sukses meraih gelar juara Piala Dunia pertamanya empat tahun kemudian. Mereka menjadi kampiun Piala Dunia 1958 setelah menang 5-2 pada partai puncak melawan tuan rumah Swedia.
Dampak kostum kuning dalam awal kesuksesan timnas Brasil sejatinya kurang terasa ketika itu. Sebab, Brasil justru harus berganti kostum warna biru saat tampil pada final Piala Dunia 1958 kontra Swedia yang mengenakan jersey kuning.
Kala itu, Brasil memutuskan memilih warna biru sebagai pengganti setelah menolak mengenakan kostum putih lagi.
Setelah merayakan gelar juara Piala Dunia 1958 dengan kostum berwarna biru, Brasil akhirnya bisa mengangkat trofi Jules Rimet dalam balutan jersey kuning pada edisi 1962 di Chile.
Akan tetapi, tidak semua pencinta sepak bola dunia bisa melihat pesta pertama Brasil dengan kostum kuning. Pasalnya, sebagian besar tayangan televisi ketika itu masih berwarna hitam dan putih.
Pencinta sepak bola di seluruh belahan dunia baru bisa melihat pesta timnas Brasil dengan balutan kostum kuning ketika Pele dkk menjadi juara Piala Dunia 1970 Meksiko.
Itu adalah kali pertama Piala Dunia ditayangkan di televisi berwarna.
Melalui rentetan gelar juara Piala Dunia itu, rakyat Brasil melihat jersey kuning sebagai atribut yang suci.
Para pemain timnas Brasil juga merasakan langsung magi kostum kuning yang disebut memancarkan inspirasi dan gairah.
"Bagi orang Brasil, jersey kuning itu suci," kata Carlos Alberto, kapten yang memimpin langkah timnas Brasil menjadi juara Piala Dunia 1970.
"Ketika kami memakainya, tentu saja kami merasa bangga, tetapi juga membawa tanggung jawab, tanggung jawab yang menginspirasi dan menggairahkan," ujar pencetak gol terakhir dalam kemenangan 4-1 yang diraih Brasil pada final Piala Dunia 1970 kontra Italia tersebut.
Dapatkan berita terkait dan informasi penting lainnya dengan mengklik Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Final-Piala-Dunia-1950-kala-pemain-Uruguay-mencetak-gol-pamungkas-ke-gawang-Brasil.jpg)