Berita Palembang

Harga Kedelai di Palembang Melejit, Solusi Pengamat Ekonomi Agar Pedagang Tahu Tempe Tak Menjerit

Kenaikan harga kedelai yang terjadi di Indonesia hingga saat ini masih menjadi keluhan produsen tahu dan tempe yang merugi akibat pengurangan jumlah p

Penulis: Mita Rosnita | Editor: Yandi Triansyah
SRIPOKU.COM / Mita Rosnita
Salah seorang pedagang tahu dan tempe di Pasar KM 5 Palembang mengeluhkan penurunan omzet penjualan sejak kedelai naik, Jumat (21/10/2022) 

Laporan Wartawan Sripoku.com Mita Rosnita

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kenaikan harga kedelai yang terjadi di Indonesia hingga saat ini masih menjadi keluhan produsen tahu dan tempe yang merugi akibat pengurangan jumlah produksi hingga penurunan omzet yang cukup besar.

Hal tersebut turut dirasakan Jumiarti (41) yang sudah lebih dari dua tahun ini memproduksi sekaligus menjual tahu dan tempe di Pasar KM 5 Palembang.

"Sejak kedelai naik tentu ada dampaknya ke kami, mulai dari pengurangan produksi sampai kecilnya keuntungan," katanya kepada Sripoku.com, Jumat (21/10/2022).

Disebutkan Jumiarti dalam kondisi ini, sebagai pedagang dirinya seperti dihadapkan pada dua hal yang membingungkan antara menaikan harga tahu dan tempe yang dia jual atau harga tetap namun kerugian besar akan menimpanya.

"Solusi lain yang akhirnya saya pilih adalah dengan mengecilkan ukuran tahu dan tempe, biasanya besar ini agak kecil," lanjutnya.

Menangkap adanya kondisi kenaikan harga kedelai ini, Pengamat Ekonomi, Sri Rahayu turut angkat bicara.
Menurutnya saat harga kedelai mengalami kenaikan harga seperti saat ini, pemerintah diharapkan dapat memberikan solusi dengan menghadirkan teknologi penanaman kedelai.

"Mengingat kedelai yang menjadi bahan baku tempe sendiri merupakan produk impor, artinya ini bisa dijadikan sebagai PR bagi pemerintah agar kita bisa memiliki teknologi sendiri untuk penanaman kedelai secara mandiri," ujarnya.

Terlebih dengan naiknya harga kedelai tentu akan meningkatkan harga produksi sehingga harga jual tahu, tempe, dan beberapa jenis lainnya yang menggunakan bahan kedelai pasti akan naik.

"Jadi kenaikan harga ini tentunya menyebabkan biaya produksi mereka akan meningkat, itu artinya siap-siap biaya produksi akan bertambah dan harga jual pasti naik," jelasnya.

Menurutnya, pemerintah juga harus lebih peduli dan mensupport petani agar mampu memproduksi kedelai sendiri.

"Harusnya ada kepedulian juga dari akademisi untuk bagaimana bisa melakukan tempe ataupun tahu di dalam negeri ini bisa digunakan, gimana caranya penelitian, intinya harus disupport oleh Pemerintah karena sudah dari dulu kedelai ini kita impor," kata dia.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved