Berita Pali

Diduga Kerap Memeras, Oknum Anggota Polres Pali Bripka F Dilaporkan ke Divpropam Mabes Polri

"Kami mohon maaf kepada seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Pali atas ketidaknyamanan ini," kata Kapolres Pali AKBP Efrannedy.

Penulis: Reigan Riangga | Editor: Ahmad Farozi
reigan/sripoku.com
Kapolres Pali AKBP Efrannedy didampingi PJU Polres Pali saat memberikan keterangan. 

SRIPOKU.COM, PALI - Oknum anggota Satreskrim Polres Pali inisial Bripka F dilaporkan warga ke Divisi Propam Mabes Polri, karena diduga kerap melakukan pemerasan terhadap masyarakat.

Kuhon Saputra, perwakilan dari sejumlah korban menerangkan, pihaknya telah melaporkan oknum polisi itu ke divisi Propam Mabes Polri beberapa waktu lalu.

Laporan diterima Divpropam Polri berdasarkan Surat Penerimaan Surat Pengaduan Propam Nomor: SPSP2/5642/IX/2022/ perihal pengaduan atas dugaan pemerasan yang dilakukan Bripka F terkait bermacam kasus pada 26 September 2022.

Menurut Kuhon, korban dari pemerasan oknum anggota Polres Pali itu mencapai puluhan orang.

"Polisi seharusnya sebagai pengayom masyarakat bukan malah sebaliknya, seperti kita lihat masih banyak polisi yang berhati baik," ujar Kuhon mewakili korban yang berani bersuara, Rabu (19/10/2022).

"Oleh karena itu, tindak tegas oknum polisi itu sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku," katanya.

Menurutnya, ulah oknum Polres Pali inisial F ini tentu bisa mencederai institusi kepolisian. Karena yang seperti ini bisa merusak citra polisi.

Dalam kesempatan itu, Kuhon juga mengucapkan terimakasih kepada warga yang sudah mau dan berani membuka suara terhadap ulah dari oknum kepolisian itu.

"Apa yang sudah dilakukan oleh oknum Polres Pali berinisial F itu sudah menyalahi aturan dan sudah sangat meresahkan masyarakat serta merusak citra Polisi di kabupaten Pali," tutupnya.

Setor Rp30 Juta Boleh Pulang

Salah seorang korban inisial DE mengatakan, dia dan seorang rekannya pernah dibawa ke kantor polisi, lantaran telah dituduh sebagai bandar judi online jenis Macau.

"Alat bukti hanya kertas dicoret-coret dengan angka dan kami diminta Rp30 juta baru boleh pulang," katanya.

Senada namun berbeda kasus, warga inisial KT (39) asal Kecamatan Talang Ubi mengaku dipinta uang Rp8 Juta, karena dituding sebagai penadah.

Namun, Ia membantah tudingan itu. Ia tidak tahu kalau barang yang dibeli itu merupakan hasil curian.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved