Berita Palembang

Pengamat Ekonomi Sebut Pelaku UMKM Tidak Perlu Khawatir dengan Resesi Global

Terkait Resesi Global sendiri, pengamat ekonomi Yan Sulistyo mengatakan, masyatakat khususnya pelaku UMKM di Kota Palembang, tidak khawatir

Penulis: Chairul Nisyah | Editor: bodok
SRIPOKU.COM/handout
Pengamat Ekonomi Yan Sulistyo 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -  Belakangan publik banyak membahas mengenai resesi global yang diprediksi akan terjadi di tahun 2023 mendatang.

Resesi global terjadi dipicu naiknya suku bunga oleh bank sentral di dunia.

Dalam hal ini tidak sedikit masyarakt yang mulai menyiapkan diri dari kemungkinan terjadinya inflasi.

Salah satunya Provinsi Sumsel, yang mana Gubernur Sumsel H Herman Deru mengajak seluruh masyarakatnya menjadikan Provinsi Sumatera Selatan Provinsi yang mandiri pangan.

Terkait Resesi Global sendiri, Pengamat Ekonomi Yan Sulistyo mengatakan, masyatakat khususnya pelaku UMKM di Kota Palembang, agar tidak terlalu khawatir dengan adanya resesi ekonomi di tahun 2023 mendatang.

"Resesi ini ditandai dengan banyaknya harga-harga barang secara global mengalami kenaikan. Serta ditandai dengan banyaknya jumlah pengangguran di sebuah kota bahkan negara," ujar Yan Sulistyo saat dihubungi Sripoku.com, Senin (17/10/2022).

Hal ini menjadi pemicu dari gejolak resesi ekonomi. Secara hlobal resesi ini dipicu karena adanya konflik antara Rusia dan Ukraina, yang menyerempet keterlibatan negara Unieropa.

Sebagaimana negara-negera tersebut adalah pemengang ekonomi dunia.

Dijelaskan Yan, jika Indonesia sendiri harusnya tidak perlu khawatir yang berlebihan pada Resesi ini, mengingat utang negara Indonesia ini masih ditingkat menengah.

"Kenapa sampai membahas utang negara, karena jika negara tidak terlalu memiliki banyak utang, maka tidak perlu terlalu khawatir dengan tingkat suku bunga dunia. Dalam hal ini Indonesia masih ditingkat menengah dibandinhkan dengan ada negara lainnyang tingkat utangnya lebih besar," jelasnya.

Disinggung mengenai dampak resesi pada pelaku UMKM, Yan mengatakan tidak perlu khawatir.

"Belajar dari krisis moneter yang terjadi di Indonesia tahun 1997-1998 lalu, justru pelaku usaha mikro ini lah yang tetap bertahan. Karena kebutuhan masyarakat akan kebutuhan sehari-hari akan terus berjalan. Masyarakat kecil ini tidak pelu dengan namanya ekspor impor, yang diperlukan bagaimana bertahan hidup sehari-harinya. Maka dari itu mereka akan mencukupi kebutuhannya dengan melakukan jual beli pada usaha-usaha kecil ini," jelasnya.

UMKM sendiri baiasanya berdiri tanpa utang, ataupun jika ada utang dinperbankan tidak dalam jumlah yang sangat besar.

"Pelaku usaha kecil ini sendiri kalaupun ada utang di Bank tidak akan besar sekali. Dan itu tidak akan banyak memberikan pengaruh, walaupun lebih baiknya jangan sampai memulai usaha dengan adanya bantuan pihak ketiga atau dengan cara mengutang," jelasnya.

Disinggung mengenai program Sumsel Mandiri Pangan dari Gubernur Sumsel Herman Deru, Pengamat Ekonomi, Yan Sulistyo mengatakan, setuju dengan program tersebut.

"Secara mikro program pak Gubernur itu sangat baik. Dengan mengajak masyarakat mau menanam cabai dan sayur-sayur di pelarangan rumah tentu baik untuk masyarakat itu sendiri dalam mencukupi kebutuhan sehari-harinya," ujar Yan Sulistyo.

Meski demikian Yan berharap program tersebut juga didukung dengan kebijakan lainnya seperti mengembalikan kebijakan yang mana setiap banguan 30 persennya untuk lahan hijau.

"Dengan berjalannya kebijakan dan program tersebut, tentu akan menghasilkan hasil yang maksimal," tutup Yan Sulistyo.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved