Berita Lahat

Lahat Urutan Kedua Kabupaten Termiskin di Sumsel, Pemkab Gandeng Akademisi Entaskan Kemiskinan

Dikatakan Cik Ujang, awal dilantik sebagai bupati Lahat, angka kemiskinan sempat naik ke posisi tiga. Namun saat ini kembali turun posisi dua.

Penulis: Ehdi Amin | Editor: Ahmad Farozi
ehdi amin/sripoku.com
Bupati Lahat, Cik Ujang, saat focus group discussion (FGD) Pemkab Lahat bersama dekan UNSRI. 

SRIPOKU.COM, LAHAT - Pengentasan kemiskinan masih jadi fokus utama Pemkab Lahat.

Sebagai upaya pengentasan kemiskinan, Pemkab Lahat menggandeng akademisi Universitas Sriwijaya (Unsri), yang kebetulan putra-putri Kabupaten Lahat, untuk mengkonsep starategi mengurangi angka kemiskinan di Lahat.

Bupati Lahat, Cik Ujang, SH mengatakan, awal dirinya dilantik sebagai bupati Lahat, angka kemiskinan sempat naik ke posisi tiga. Namun saat ini kembali turun posisi dua.

"Karena itu, kita menggandeng Unsri, berdiskusi apa saja kiat untuk menurunkan angka kemiskinan di Lahat. Mengingat Lahat kaya akan SDA dan SDM)," kata Cik Ujang saat membuka FGD Pemkab Lahat bersama dekan UNSRI, Rabu (5/10/2022).

"Terima kasih kepada UNSRI. Dan kepada OPD terkait, pelajari ini. Buat kerjasama dengan UNSRI, cari cara meningkatkan produksi SDA di Lahat. Ini harus cepat ditindak lanjuti, dan lakukan secara continue," katanya.

Prof H Ahmad Muslim, Dekan Fakultas Pertanian UNSRI mengatakan, dari data BPS Sumsel tahun 2022, penduduk miskin di Lahat mencapai 16,14 persen dan Lahat urutan kedua termiskin di Sumsel, dibawah Kabupaten Muratara.

Menurutnya, dengan APBD Rp 2,2 Triliun, PAD Rp 1,4 miliar, ditambah SDA luar biasa, untuk menurunkan angka kemiskinan masih sangat memungkinkan.

"Dilihat dri garis kemiskinan, ada 16 persen warga miskin, 34,2 persen rawan miskin. Rawan miskin ini yang perlu antisipasi, jika tidak angka kemiskinan akan semakin tinggi," katanya, Rabu (5/10/2022).

Dikatakan, untuk mengentaskannya, harus ada evaluasi data dengan melakukan pemetaan dan karakteristik jumlah kemiskinan di tiap wilayah.

Lalu di grup berdasarkan tingkat kemampuan, apakah fakir miskin, tidak ada pekerjaan. Bagi UMKM apa karena usaha tidak berkembang. Untuk sektor lain, apa karena tidak ada sarpras dan tidak terarah.

"Target dua tahun turunkan 7 persen kemiskinan, bisa dilakukan. Jika dari 68 ribu orang miskin itu tercatat 5012 Kepala Keluarga. Terget kita cukup mengejar 1.064 kk, satu tahun cukup kejar selesaikan 500 KK. Tapi ini perlu kerja seluruh sektor," katanya.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved