Berita Sriwijaya FC

Tragedi Kanjuruhan, Eks Marketing Sriwijaya FC Desak Pemerintah Sediakan Tribun Khusus Ibu dan Anak

Eks Marketing Sriwijaya FC mendesak pemerintah membuat regulasi yang didalamnya mengatur mengenai pemberian tempat khusus untuk anak dan perempuan

Penulis: Abdul Hafiz | Editor: adi kurniawan
SRIPOKU.COM/RESHA
Eks Direktur Marketing perusahaan pengelola Sriwijaya FC yang kini menjadi Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Persatuan Bola Basket Indonesia Seluruh Indonesia 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG --- Tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan pasca laga Liga 1 antara tuan rumah Arema FC dan tim tamu Persebaya Surabaya rampung digelar pada Sabtu (1/10/2022) malam yang membawa korban 125 orang termasuk perempuan dan anak-anak membawa keprihatinan Sekretaris Jenderal PP Perbasi, Nirmala Dewi. 

Eks Direktur Marketing perusahaan pengelola Sriwijaya FC yang kini menjadi Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Persatuan Bola Basket Indonesia Seluruh Indonesia yang akrab disapa Cikwi ini berharap stadion sepak bola menyediakan tribun khusus perempuan dan anak.

“Saya sedih dan prihatin sekali atas kejadian di Stadion Kanjuruhan. Apalagi mendengar ada seorang ibu meninggal karena berupaya mencari anak dan suaminya saat kejadian,” kata Nirmala yang diwawancarai disela-sela Pelatihan Pelatih Basket di Palembang, Senin (3/10/2022). 

Nirmala yang pernah menjabat sebagai Direktur Marketing perusahaan pengelola Sriwijaya FC tahun 2013-2018 ini mengaku berduka atas tragedi Kanjuruhan yang terjadi di Stadion Kanjuran Malang, Jawa Timur, 


Tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan terjadi setelah laga Liga 1 antara tuan rumah Arema FC dan tim tamu Persebaya Surabaya rampung digelar pada Sabtu (1/10/2022) malam WIB.


Setelah pertandingan tuntas dengan skor 3-2 untuk kemenangan tim tamu, sejumlah oknum suporter Arema FC dilaporkan turun ke lapangan. Para oknum suporter Arema FC turun ke lapangan karena tidak puas dengan hasil akhir pertandingan.


Sebanyak 125 orang meninggal dunia dan belasan orang diantaranya yakni anak-anak usia dibawah 12 tahun.

Untuk itu, sebagai penggiat olahraga, Cikwi yang pernah menjadi Pengurus Asprov PSSI Sumsel 2014, mendesak pemerintah membuat regulasi yang didalamnya mengatur mengenai pemberian tempat khusus untuk anak-anak dan perempuan.

"Jangan sampai kejadian ini menimbulkan dampak buruk sehingga memunculkan ketakutan para ibu untuk menonton pertandingan sepak bola," kata Nirmala Dewi yang menjadi Staf Khusus Erick Thohir saat menjadi Presiden INASGOC pada Asian Games 2018.


Menurutnya, padahal dalam pertandingan olahraga itu banyak hal baik yang dapat dicontoh seperti sportivitas, semangat juang pantang menyerah dan solidaritas. Ini sangat baik untuk pembentukan karakter anak.


Cikwi mengatakan, hingga kini belum ada kiat ampuh untuk mencegah konflik antarkelompok suporter. 


Adanya militansi berlebihan terhadap klub menjadi pemicu utama konflik sering terjadi, apalagi jika tim kesayangan mengalami kekalahan. 


Wanita kelahiran Bandar Lampung, 18 Mei 1978 mengaku sempat juga dihadapkan pada perseteruan antarsuporter saat menjadi bagian manajemen Sriwijaya FC asal Sumatera Selatan.


“Bedanya di Sriwijaya FC itu konfliknya bersifat internal karena ada tiga kelompok suporter,” ujarnya. 


Menurutnya, sudah ada program klub untuk mengedukasi para suporter namun disayangkan, program tersebut tidak berjalan dengan konsisten atau hanya bersifat spontan setelah adanya kerusuhan.


Untuk itu, program edukasi kepada supporter sebaiknya dilakukan secara konsisten, jangan pada saat setelah kejadian saja agar mereka merasa dilibatkan, lalu mengenai pengaturan posisi duduk untuk perempuan dan anak sehingga jika terjadi hal darurat dapat mengurangi resiko korban terhadap perempuan dan anak-anak," ujar, mantan Manajer Sriwijaya FC U-19.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved