Berita Ogan Ilir

Nasib Proyek Sumur Bor di Indralaya, PU Perkim Sumsel Tunggu Hasil Riset Pertamina-SKK Migas

Semburan gas metan yang berdampak pada riakan lumpur, masih terjadi di area Sekolah Islam Terpadu (SIT) Menara Fitrah

Editor: Yandi Triansyah
SRIPOKU.COM / Agung
Semburan lumpur di area SIT Menara Fitrah Indralaya masih berlanjut, pagi tadi semburan sempat setinggi 1 meter, Senin (26/9/2022). 

SRIPOKU.COM, INDRALAYA - Dinas PU Perkim Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) masih menunggu hasil kajian Pertamina dan SKK Migas soal kelanjutan proyek sumur bor di Menara Fitra yang mengeluarkan lumpur.

Semburan gas metan yang berdampak pada riakan lumpur, masih terjadi di area Sekolah Islam Terpadu (SIT) Menara Fitrah di Indralaya, Ogan Ilir.

Dinas PU Perkim Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sebagai OPD yang ditunjuk Pemprov Sumsel membangun proyek sumur tersebut, belum menentukan langkah yang akan ditempuh terkait kelanjutan proyek.

Kadis PU Perkim Sumsel Basyaruddin Akhmad, melalui Kabid Perumahan Yudho Joko Prasetyo mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil penelitian dari pihak terkait.

"Kemarin kan sudah dilakukan pengecekan oleh Pertamina dan SKK Migas di titik semburan. Nanti kan seperti apa hasilnya, itu yang menjadi masukan ke kami (Dinas PU Perkim)," kata Yudho kepada wartawan di Indralaya, Jumat (30/9/2022).

Yudho sendiri merupakan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dari Dinas PU Perkim Sumsel untuk proyek sumur bor di SIT Menara Fitrah.

Jika masih memungkinkan, maka proyek sumur bor akan dilanjutkan di titik yang saat ini terdapat semburan lumpur.

"Kalaupun harus pindah lokasi, maka kita menyesuaikan dengan rekomendasi dari Pertamina dan SKK Migas. Atau misalnya ganti sumur biasa, maka ganti juga RAB-nya," kata Yudho.

Dijelaskannya, sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB), kedalaman sumur bor tersebut mencapai 135 meter.

Di dunia maya, banyak yang menyamakan semburan lumpur di Indralaya dengan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur.

Lalu, apakah benar semburan lumpur yang pertama kali muncul dengan ketinggian 50 meter itu akan membanjiri wilayah Indralaya seperti lumpur Lapindo?

Menurut Yudho, setelah semburan dengan intensitas tinggi, saat ini di titik pengeboran tak ada lagi semburan material berbahaya.

Yudho menerangkan, dorongan gas metan dari bawah tanah mengakibatkan riakan lumpur di lubang dengan diameter 10 meter di titik pengeboran.

"Kalau sekarang kan bisa lihat sendiri, tidak ada semburan yang tekanannya sangat tinggi. Hanya riakan lumpur karena dorongan gas," jelas Yudho.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved