Breaking News:

Berita Musi Rawas

Melihat dari Dekat Desa Cinta Kerukunan di Musi Rawas, Pemeluk 3 Agama Hidup Rukun Berdampingan

"Ada tiga keyakinan di Desa Mataram yang dianut warga kami, yakni Islam Kristen Protestan dan Katolik," kata Rahman.

Penulis: Eko Mustiawan | Editor: Ahmad Farozi
eko mustiawan/sripoku.com
Suasana di Desa G1 Mataram Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Mura, Sumsel, Kamis (29/9/2022). Di desa ini pemeluk tiga agama hidup rukun berdampingan. 

SRIPOKU.COM, MUSIRAWAS - Hidup rukun, saling menghargai dan menghormati, tercermin di kehidupan masyarakat Desa Mataram Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas, Sumsel.

Meski di desa setempat ada tiga keyakinan agama berbeda, namun masyarakatnya hidup rukun berdampingan tanpa merasa ada perbedaan satu sama lain.

Tiga agama yang dianut warga di Desa Mataram, yaitu Agama Islam, Kristen Protestan dan Katolik.

Tingginya toleransi antar umat beragama di desa tersebut, menjadikan Mataram sebagai desa Cinta Kerukunan (Taruna) yang dideklarasikan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Musi Rawas.

Kerukunan tersebut akan semakin terlihat dan terasa disaat hari-hari besar masing-masing. Dimana warganya, saling membantu dan terkadang tak sungkan saling memberikan ucapan selamat.

Namun, kerukunan itu hanya sebatas sikap, tanpa ada keikutsertaan dari masing-masing keyakinan yang dianut warga Desa Mataram Kecamatan Tugumulyo.

Arifin salah seorang warga Desa Mataram mengaku, pada hari besar Islam seperti Hari Raya Idul Fitri, saat warga merayakan kemenangan dan melaksanakan solat idul fitri, maka warga non muslim membantu pengamanan disetiap masjid.

Begitu juga saat hari besar umat Kristiani, disaat umat Kristiani melaksanakan hari besar, maka umat muslim akan membantu pengamanan di area sekitar gereja tempat ibadahnya.

"Jadi kami disini saling membantu, saling menjaga dan saling menghormati, tanpa membedakan," kata Arifin saat dibincangi Sripoku.com, Kamis (29/9/2022).

Tak hanya itu sambung Arifin, bahkan terkadang warga tak segan saling mengucapkan selamat, tanpa mengikutinya lebih jauh. Hal itu, sudah terjalin sejak lama, sehingga masyarakat di Desa Mataram hidup rukun.

Warga lainnya, Iran, mengatakan hal senada. "Kalau sehari-hari ya biasa, ngobrol meski beda keyakinan. Jadi biasa, tidak ada bedanya. Tapi semua dilakukan tanpa melewati batas keyakinan masing-masing," kata Iran.

Sekretaris Desa Mataram, Rahman membenarkan hal tersebut. Bahkan, dengan kerukunan antar agama, menjadikan Desa Mataram bukan hanya sebagai Desa Cinta Kerukunan (Desa Taruna), tapi juga dijadikan Kampung Pancasila.

Desa Taruna digagas oleh FKUB Kabupaten Mura. Sedangkan, Kampung Pancasila digagas oleh Komandan Dandim (Kodim) 0406 Lubuklinggau.

"Ada tiga keyakinan di Desa Mataram yang dianut warga kami, yakni Islam Kristen Protestan dan Katolik," kata Rahman.

Disebutkan, kehidupan masyarakat di Desa Mataram sudah berbaur. Termasuk keseharian maupun di hari-hari besar masing-masing keyakinan. Dimana warga saling membantu dan menghargai satu sama lain.

"Kalau hari-hari besar, kami saling membantu. Jadi memang sudah berbaur untuk kehidupannya," jelasnya.

Lebih lanjut Rahman menjelaskan, termasuk juga ketika memiliki hajatan, maka masyarakat antar agama pun akan berkumpul menjadi satu.

"Kalau yang hajatan orang non muslim, biasanya mereka membuat acara dua versi. Versi pertama khususnya untuk orang muslim, yang masak juga orang muslim," katanya.

"Kemudian sebaliknya, versi kedua itu biasanya khusus untuk mereka, yang masak orang non muslim juga," tutupnya.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved