Cerita Pedagang Durian di Palembang, Modal Puluhan Ribu Bisa Raup Keuntungan Hingga Puluhan Juta

Cerita pedagang durian ini dengan bermodalkan Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu per buah, dalam satu bulan saja mereka bisa meraup pendapatan hingga puluhan

Penulis: Mita Rosnita | Editor: adi kurniawan
SRIPOKU.COM/Mita Rosnita
Salah satu anak dari Anton Dogan yang tengah memilih durian yang diperuntukkan bagi pembeli di Jalan Demang Lebar Daun Palembang 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Musim durian yang sudah berlangsung hampir tiga bulan terakhir ternyata telah memberikan keuntungan bombastis bagi para pedagang durian yang membanjiri sejumlah kawasan di Kota Palembang.

Cerita pedagang durian ini dengan bermodalkan Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu per buah, dalam satu bulan saja mereka bisa meraup pendapatan hingga puluhan juta dari penjualan durian yang didistribusikan dari berbagai wilayah di Sumsel.

Melihat peluang tersebut salah satu pedagang durian yang berlokasi di Jalan Demang Lebar Daun Palembang, Anton Dogan bahkan memutuskan untuk berhenti menjual kelapa muda atau dogan demi bisa meraup keuntungan lebih dari berdagang durian.

"Kemarin sebelum musim durian, saya dan istri jualannya dogan, karena memang momen ini tidak bisa dilewatkan mangkanya saya ambil kesempatan, karena untungnya bisa 2 hingga 3 kali lipat dari berjualan dogan," katanya saat diwawancarai Sriwijaya Post, Kamis (29/9/2022).

Dalam satu hari Anton bisa menghabiskan sebanyak 1.000 buah durian yang dia ambil dari Kota Lubuk Linggau.

"Biasanya juga bisa lebih dari itu, tergantung permintaan pembeli tapi Alhamdulilah sejauh ini kita belum pernah kehabisan pengunjung, pasti selalu ada," ujarnya pula.

Dalam kesempatan tersebut Anton menyebutkan dalam per bulannya dia bisa menerima keuntungan bersih sampai Rp 30 juta dari hasil penjualan buah durian yang dia jual mulai dari harga Rp 10 ribu hingga Rp 40 ribu per buah.

"Kalau kotornya pendapatan perhari itu bisa Rp 2 juta, itu belum dipotong upah angkutan duriannya dan gaji pegawai disini yang ikut bantu-bantu," ujarnya.

Apabila dibandingkan dengan pendapatannya berjualan dogan, angka tersebut diakuinya sangat jauh dan hanya bisa mencapai belasan juta saja.

"Kalau jualan dogan mungkin cuma belasan juta, mengingat dogan ini ramainya hanya di hari Sabtu dan Minggu saat pekerja libur," jelasnya.

Tidak hanya durian, Anton juga turut menjual tempoyak dari hasil durian yang tidak laku terjual dalam rentang waktu satu hari, sehingga tak menutup kemungkinan ada keuntungan lain yang bisa dia peroleh.

"Selain durian disini juga ada tempoyak dari durian-durian yang tidak laku. Tidak laku disini maksudnya durian yang kurang manis atau campah, sebab pembeli disini wajib mencicipi durian yang kami jual kalau tidak manis bisa digantikan, nah durian inilah yang kami olah jadi tempoyak," lanjutnya.

Saat disinggung mengenai penghujung musim durian di tahun ini, Anton mengaku tidak kehabisan akal untuk bisa memanfaatkan momen dari buah musiman lainnya seperti duku dan manggis yang sudah mulai membanjiri Provinsi Sumsel.

"Rencana kalau memang musim durian habis, kami akan jualan duku atau manggis yang diambil dari linggau juga. Meskipun belum tahu pasti berapa keuntungannya, tapi kami berharap bisa sedkit menyentuh angka berjualan durian ini," katanya.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved