Berita Musi Rawas

Tari Turak, Piring Gelas dan Putri Berias Khas Musi Rawas Dapat Sertifikat HAKI dari Kemenkum HAM RI

"Ada empat tari yang didaftarkan, tapi tiga yang diterima dan diberikan sertifikat HAKI," kata Kasi Kesenian Disbudpar Mura Erwina, Senin (26/9/2022).

Penulis: Eko Mustiawan | Editor: Ahmad Farozi
Dok Disbudpar Musi Rawas
Tiga tarian tradisional khas dari Kabupaten Musi Rawas, yaitu Tari Piring Gelas, Tari Turak dan Tari Putri Berias dapat sertifikat HAKI dari Kemenkum dan HAM. Tampak penari sedang menari piring gelas. 

SRIPOKU.COM, MUSIRAWAS - Tiga tarian tradisional khas dari Kabupaten Musi Rawas, Sumsel, yaitu Tari Piring Gelas, Tari Turak dan Tari Putri Berias dapat sertifikat Surat Pencatatan Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kemenkum dan HAM.

Kasi Kesenian pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Musi Rawas, Erwina mengatakan, tiga tarian tersebut sebelumnya didaftarkan ke Kemenkum HAM, agar tidak diklaim oleh daerah lain.

"Ada empat tarian yang didaftarkan, tapi tiga yang diterima dan diberikan sertifikat HAKI," kata Erwina kepada Sripoku.com, Senin (26/9/2022).

Dikatakan, pendafataran tiga tarian tersebut dilakukan, untuk menghindari saling klaim kepemilikan. Setelah mendapat sertifikat HAKI, maka tiga tarian tersebut menjadi hak milik Kabupaten Mura.

"Sekarang kan banyak yang saling mengakui, jadi dengan sertifikat ini, tidak bisa yang asal mengaku, karena sudah terdaftar di HAKI," ungkapnya.

DIlanjutkan, sejauh ini baru tiga tari tersebut yang mendapat sertifikat HAKI. "Ini yang pertama diajukan, karena terkendala anggaran. Jadi baru tiga tari ini yang dapat sertifikat HAKI," katanya.

Dijelaskan, Tari Piring menceritakan tentang keberanian orang jaman terdahulu, dalam memperjuangkan harkat dan martabatnya. Dimana tarian ini, juga menceritakan tentang kesucian seseorang.

"Untuk tariannya itu sendiri menari di atas piring. Dulunya, tarian ini hanya bisa diperankan oleh orang yang masih gadis atau perawan. Karena sesuai maknanya adalah kesucian," ungkapnya.

Hanya saja sambung Erwina, karena berkembangnya zaman, sehingga kini tarian tersebut bisa dibawakan oleh siapapun, termasuk masyarakat umum, baik muda maupun tua.

"Tarian ini biasanya, dipakai untuk menyambut tamu undangan dan mengisi acara-acara persedekahan dan untuk menghibur para pejuang," jelasnya.

Adapun Tari Turak adalah tarian yang tujuannya untuk mengelabuhi penjajah. Dimana para penari, ini menggunakan bambu yang didalamnya diisi dengan isian cabai dan lain sebagainya.

"Dulu, tarian ini dipakai untuk mengelabuhi penjajah. Penari yang menggunakan bambu, dan bambunya diisi cabai, kemudian, ketika para penjajah lengah, penari ini menyiramkan isian bambu tadi," ucapnya.

Namun untuk saat ini, karena berkembangnya zaman, isian bambu itu diganti dengan beras dan juga kunyit. Sebab, Tari Turak saat ini dipakai untuk hiburan atau mengisi kegiatan-kegiatan.

Sedangkan Tari Putri Berias, menceritakan, dahulu kala zaman nenek moyang Terawas ada seorang putri dari kayangan yang cantik molek, yang selalu berhias mempercantik dirinya.

"Bahkan, berita kecantikannya tersebar kemana-mana, sehingga menjadi buah bibir gunjingan mayarakat. Kemudian akhirnya, putri ini dijadikan istri keturunan raja pada waktu itu," ujarnya.

Dari cara putri itu berhias, muncul inisiatif para leluhur yang mempunyai jiwa seni dijadikan tarian yang menceritakan cara putri kayangan berhias.

Hanya saja, pada waktu itu namanya tari gunjing. Namun, perubahan zaman, tari gunjing diubah jadi tari Putri Berias.

"Ceritanya, ketika salah satu penari dari Terawas yakni guru Kare Wak Bayni, menari di istana negara yang menyebutkan nama Tari Gunjing itu kurang serasi, dengan cerita tariannya. Maka diubah nama gunjing jadi Putri Berias.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved