Kondisi Ekonomi Indonesia Tahun 2023 Semakin Gelap, Perang Ukraina dan Rusia Picu Resesi Global

hal ini tidak lepas dari belum usainya perang antara Rusia dan Ukraina yang terjadi sejak Februari 2022

Editor: Wiedarto
YouTube/Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo mengingatkan kondisi ekonomi tahun 2023 semakin gelap akibat perang Ukraina dan Rusia yang berkepanjangan. 

SRIPOKU.COM, JAKARTA--Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, kondisi ekonomi akan semakin gelap dan sulit pada tahun 2023. Menurut dia, hal ini tidak lepas dari belum usainya perang antara Rusia dan Ukraina yang terjadi sejak Februari 2022. Menurut Jokowi, kondisi tersebut tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.


Dalam diskusi yang ia lakukan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dan di lokasi berbeda dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, bisa disumpulkan bahwa perang tidak akan usai dalam waktu dekat.


“Dunia sekarang ini pada posisi yang tidak gampang dan betul-betul sulit di mana tahun depan akan lebih gelap. Saya bertemu dengan Presiden Zelensky dan satu setengah jam berdiskusi, serta Presiden Putin dua setengah jam berdiskusi, saya menyimpulkan perang tidak akan segera selesai, akan lama,” kata Jokowi.


Jokowi mengatakan, dampak dari perang antara Rusia dan Ukraina akan dirasakan oleh Indonesia dan dunia. Beberapa dampak, seperti krisis energi, pangan, dan finansial, akan membebani pergerakan ekonomi di tahun 2023.


“Itu akan berakibat pada kesulitan lain, seperti krisis pangan, krisis energi, krisis finansial, Covid-19 yang belum pulih, dan akibatnya kita tahu sekarang ini saja 19.600 orang mati karena kelaparan, karena krisis pangan,” lanjut Jokowi.


Perlambatan ekonomi pada tahun 2023 juga diramalkan oleh Bank Indonesia (BI) sebelumnya. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan ekonomi global tahun 2023 yang berisiko tumbuh lebih rendah ini juga disertai dengan tingginya tekanan inflasi dan ketidakpastian pasar keuangan global.

“Tahun depan kami perkirakan turun jadi 2,7 persen, bahkan ada beberapa risiko yang menjadikan ke 2,6 persen,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (22/9/2022).

 

Perlambatan pertumbuhan perekonomian global ini terutama terjadi di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat (AS) yang tahun ini tumbuh 2,1 persen, tetapi tahun depan diperkirakan hanya tumbuh 1,5 persen.

"Hal ini juga terjadi di Eropa yang pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan 2,1 persen, tahun depan lebih rendah menjadi 1,2 persen dan Tiongkok tahun ini tumbuh 3,2 persen dan tahun depan 4,6 persen,” ucapnya.

Penurunan pertumbuhan ekonomi ini disertai dengan risiko resesi di sejumlah negara maju. Selain itu, volume perdagangan dunia juga tetap rendah. “Faktornya (pelambatan pertumbuhan ekonomi global 2023), masih terjadinya disrupsi atau gangguan mata rantai pasokan global, kebijakan proteksi diberbagai negara, konflik geopolitik, dan respons kebijakan suku bunga yang agresif di AS dan sejumlah negara,” jelas Perry.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved