KOMPOR Listrik Lebih Hemat 30 Persen Ketimbang Kompor Gas, Pakar Sebut Alasannya

Salah satunya, biaya yang dikeluarkan masyarakat jika menggunakan kompor induksi dapat 10-30 persen lebih rendah dibandingkan kompor gas.

Editor: Wiedarto
kompas.com
ilustrasi kompor listrik 

SRIPOKU.COM, JAKARTA--Rencana pemerintah yang ingin masyarakat beralih dari kompor gas ke listrik menuai komentar negatif, lantaran biaya penggunaan kompor listrik dinilai masyarakat lebih mahal ketimbang kompor gas.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, setidaknya terdapat beberapa manfaat jika program ini dijalankan dengan benar.


Salah satunya, biaya yang dikeluarkan masyarakat jika menggunakan kompor induksi dapat 10-30 persen lebih rendah dibandingkan penggunaan kompor gas.

"Manfaatnya adalah buat masyarakat, memasak dengan kompor induksi 10-15 persen lebih lebih rendah daripada memasak dengan menggunakan elipji 3 kg," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (20/9/2022).


Namun, kata dia, penerapan konversi kompor gas ke kompor listrik ini harus dibarengi dengan pengkonversian daya listrik masyarakat miskin dengan benar. Hal ini agar masyarakat miskin tidak terbebani dengan biaya pembayaran listriknya di mana untuk menggunakan kompor listrik ini masyarakat harus menambah daya listrik.


"Yang bikin masyarakat bertanya-tanya, 'kalau misal daya kami dinaikkan lalu tarif listriknya berapa?' Ya kalau tarif listriknya sama dengan tarif listrik pelanggan PLN yang biasa, ya gak ada penghematan dari sisi biaya bagi pengguna kompor induksi," ucapnya.

"Bisa lebih rendah itu karena ada tarif listriknya (tetap disubsidi), kan yang elpiji disubsidi. Kita bandingkannya begitu," ungkapnya.

Seperti diketahui, program konversi dari kompor gas ke listrik ini dilakukan pemerintah untuk rumah tangga miskin yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Adapun tarif listrik yang disubsidi pemerintah yaitu dengan daya 450 volt ampere (VA) dan 900 VA.

Dengan adanya peralihan dari kompor gas ke induksi ini, maka pemerintah perlu menambah daya listrik masyarakat miskin dari 450 VA dan 900 VA menjadi misalnya 2.200 VA. Penambahan daya listrik ini dapat menambah biaya listrik yang dibayar oleh masyarakat.


Untuk itu, dia menyarankan agar pemerintah dapat menaikkan daya listrik masyarakat miskin tapi tetap memberikan tarif listrik subsidi kepada mereka agar biaya yang ditanggu masyarakat tidak bertambah.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved