Berita Empat Lawang

Melihat Keindahan Air Terjun Duo Begadeng Empat Lawang, Surga Tersembunyi di Bukit Barisan

Desa Sawah, Kecamatan Muara Pinang, Empat Lawang tak kehabisan akan destinasi wisata air terjun

Editor: Odi Aria
Tribunsumsel.com/Sahri Romadhon
Kelompok Laskar Penjelajah Alam Desa Sawah saat berkunjung ke Air Terjun Duo Begadeng beberapa waktu lalu 

SRIPOKU.COM.COM, EMPAT LAWANG - Desa Sawah, Kecamatan Muara Pinang, Empat Lawang tak kehabisan akan destinasi wisata air terjun atau masyarakat setempat menyebutnya sebagai Cughop.

Terdapat puluhan air terjun atau cughop di daerah yang letaknya ada di area Bukit Barisan dan Gunung Dempo ini.

Salah satunya yakni Cughop Duo Begadeng atau Air Terjun Dua Beradik yang terletak di area hutan yang tidak jauh dari kebun kopi warga.

Menurut Riki Abdiansyah, Ketua Laskar Penjelajah Alam Desa Sawah masih banyak potensi wisata air terjun yang ada di areal tersebut yang belum banyak diketahui masyarakat.

"Cughop Duo Begadeng pertama kali ditemukan dan kami publikasikan ke media sosial sekitar September 2020 lalu," katanya, Sabtu (17/09/2022).

Ia bercerita untuk ide nama duo begadeng atau dua beradik berdasarkan penampilan dari air terjun tersebut yang terdapat dua aliran air yang mengalir, dimana satu berukuran besar dan satunya lagi berukuran kecil.

"Jadi dianggap dua bersaudara dan diartikan dalam bahasa Suku Lintang Empat Lawang menjadi duo begadeng," jelasnya.

Untuk lokasi tepatnya lanjut Riki, air terjun yang belum banyak dikunjungi ini berada di hutan Bukit Barisan  Empat Lawang yang berbatasan dengan Kabupaten Lahat tepatnya berada di aliran Dungai Semah Kiri, tidak berjauhan dengan Air Terjun Tematang Asmara dan Air Terjun Luang Rindu hanya berjarak sepuluh menit perjalanan.

"Untuk akses menuju kesana membutuhkan waktu berjalan kaki sekitar dua hingga tiga jam tergantung kondisi fisik dan cuaca bahkan bisa lebih dari itu," jelasnya.

Selain itu menurutnya juga bisa mengunakan kendaran roda dua khusus medan perkebunan yang membutuhkan waktu satu hingga dua jam bila kondisi jalan sedang kering.

"Kalau jalan sedang basah bisa sampai setengah hari karena berlumpur selain itu kalau menggunakan kendaraan masih harus lanjut berjalan kaki sekitar dua puluh menit," ujarnya.

Hingga sejauh ini berdasarkan cerita Riki masih belum banyak pengunjung yang datang ke air terjun tersebut sebab yang mengetahui lokasi dan rutenya masih terbatas, selain itu lokasinya terbilang cukup jauh untuk ditempuh.

"Hanya beberapa orang tertentu dan beberapa kelompok pecinta alam saja yang pernah kesana," tuturnya.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved