Berita Ogan Ilir

SISWA DITAMPAR, Orangtua di Pemulutan Selatan Berang ke Kepala Sekolah, Lapor ke Polres Ogan Ilir

Namun adik Dedi tetap diberi hukuman, dia dikumpulkan bersama siswa-siswi lainnya di lapangan sekolah dan ditampar

Editor: Yandi Triansyah
handout
Oknum Kepala Sekolah di Pemulutan Selatan, Kabupaten Ogan Ilir diduga menampar siswa, orangtua berencana melaporkan kasus tersebut ke Polres Ogan Ilir, Jumat (16/9/2022) 

SRIPOKU.COM, INDRALAYA - Sejumlah orangtua siswa yang ditampar guru di Pemulutan Selatan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel), berencana akan melapor ke Polres Ogan Ilir, Jumat (16/9/2022).

Sebagian orangtua ini merasa anak mereka tak pantas diperlakukan kasar karena tak bersalah.

Dedi, kakak salah seorang siswi SMAN 1 Pemulutan Selatan yang ditampar guru pada Rabu (14/9/2022) lalu, merasa perlakuan yang diterima adiknya tak adil.

"Adik saya tidak salah apa-apa," kata Dedi kepada TribunSumsel.com, Kamis (15/9/2022).

Dedi menegaskan, adiknya benar-benar tak tahu ada siswa yang merokok di dalam kelas sehingga membuat guru memberikan hukuman.

Namun adik Dedi tetap diberi hukuman, dia dikumpulkan bersama siswa-siswi lainnya di lapangan sekolah dan ditampar oleh Kepala SMAN 1 Pemulutan Selatan, Masnawati.

"Adik saya kan tidak tahu apa-apa, kok ikut dipukul. Jumat kami mau lapor ke Polres (Ogan Ilir)," ucap Dedi.

Padahal, lanjut Dedi, secara pribadi dia mengapresiasi tindakan tegas guru terhadap siswa yang dianggap melakukan pelanggaran berat.

Namun Dedi kembali menegaskan bahwa dia keberatan jika adiknya ikut dipukul di bagian wajah.

"Kalau salah ya salah. Kalau tidak, ya jangan (dihukum)," tandasnya.

Sementara Masnawati mengaku mendaratkan tangan di wajah para anak didiknya itu, semata-mata karena ingin mendidik.

Masnawati menerangkan, dia mendapat laporan dari salah seorang guru bahwa para siswa tersebut kerap membuat ulah di dalam kelas.

"Ada yang makan di kelas, sampahnya berantakan. Ada yang merokok di kelas, kemudian nendang-nendang meja saat jam pelajaran," ungkap Masnawati.

"Begitu ditanya 'siapa yang nendang meja?' Siswa malah menyahut 'awas ada mata-mata. (Guru yang bertanya) muka dua belas'. Malah dibegitukan gurunya," bebernya.

Sebelum para siswa mendapat hukuman, lanjut Masnawati, dia mendapat laporan ada siswa yang merokok di kelas.

Namun saat diperiksa, tak ada satupun siswa di kelas tersebut yang mengaku sehingga semua dihukum.

"Saat ditanya, tidak ada yang mengaku dan kompak menutupi. Kami ini mendidik, sama sekali bukan menyakiti," kata Masnawati.

Bahkan, menurut Masnawati, seorang guru berhenti mengajar karena tak tahan dengan kenakalan siswa.

"Guru itu sampai menangis curhat ke saya. Dia sekarang berhenti mengajar," kata dia.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved