Berita Musi Rawas

Musi Rawas Mulai Kembangkan Sapi Wagyu, Sapi Asal Jepang dengan Kualitas Daging Premium

"Dagingnya lembut serta berair dengan titik leleh rendah ketika dimasak untuk rasa manis dan ekstra juicy yang unik," kata drh Marzuki.

Penulis: Eko Mustiawan | Editor: Ahmad Farozi
Dok Distannak Musi Rawas
Sapi jenis wagyu yang saat ini dikembangkan oleh Distannak Kabupaten Musi Rawas, Sumsel. 

SRIPOKU.COM, MUSIRAWAS - Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Kabupaten Musi Rawas, Sumsel, kini tengah mengembangkan sapi jenis Wagyu.

Kepala Distannak Musi Rawas, Zuhri Syawal melalui Kabid Peternakan dan Keswan, Drh Marzuki mengatakan, Sapi Wagyu merupakan sapi yang dibudidayakan di wilayah Jepang, dengan kualitas daging yang premium.

"Saat ini, kami sedang mengembangkan sapi dengan kualitas daging yang tinggi, atau sapi jenis Wagyu," kata Marzuki saat diwawancarai Sripoku.com, Kamis (15/9/2022).

Dikatakan, daging sapi wagyu mengandung sekitar 30 persen lemak tak jenuh yang lebih tinggi dari daging sapi biasa. Tingginya konsentrasi lemak tak jenuh inilah yang membuat daging sapi wagyu berbeda dari daging sapi lainnya.

"Berupa kualitas dan rasanya yang halus, lembut serta berair dengan titik leleh rendah ketika dimasak untuk rasa manis dan ekstra juicy yang unik," jelasnya.

Pengembangan sapi jenis wagyu tersebut lanjut Marzuki, dilakukan dengan cara perkawinan silang antara indukan sapi simental dan jantan wagyu melalui program inseminasi buatan atau kawin suntik.

"Hasil lumayan. Tapi ini baru awal mula pengembangan di Kabupaten Mura, untuk memastikan cocok atau tidaknya sapi jenis di wagyu itu di Kabupaten Mura," jelasnya.

Dikatakan, percobaan pengembangan sapi wagyu sudah dilakukan sejak tahun 2021. Pengembangan dilakukan, karena Kabupaten Mura mendapat bantuan semen beku dari provinsi sebanyak 500 straw.

"Awalnya, karena kita dapat bantuan bibit sapi jenis wagyu sebanyak 500 straw. Jadi kita coba kembangkan dengan cara kawin silang," ucapnya.

Dikatakan, dari perkembangan tersebut, hingga saat ini sudah ada sekitar 20 ekor populasi sapi jenis wagyu di Kabupaten Mura dengan usia masih terbilang muda.

"Karena banyak yang baru lahir, kalau yang paling tua usia 9 bulan. Melihat banyaknya kelahiran itu, jadi saya rasa sudah berhasil dan cocok dikembangkan di Kabupaten Mura," ungkapnya.

Untuk perawatan kata Marzuki, tidak ada perbedaan dengan pemeliharaan sapi pada umumnya. Sehingga, tidak akan menyulitkan masyarakat yang hendak mengembangkannya.

"Kalau perawatannya sama dengan sapi pada umumnya. Karena cocok, jadi kami sarankan kepada masyarakat untuk mulai mengembangkannya. Karena dagingnya tinggi, dan juga mahal kalau di Jepang," pungkasnya.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved