Berita Musi Rawas

Keluhan Petani Karet di Musi Rawas, 'Sudah Harga Murah, Karet Banyak yang Maling'

Neni salah seorang petani karet di Desa Manah Resmi mengatakan, akibat turunnya harga sawit, membuat aksi pencurian karet di kebun marak terjadi.

Penulis: Eko Mustiawan | Editor: Ahmad Farozi
eko mustiawan/sripoku.com
Salah satu tempat pengepul karet di Desa Manah Resmi Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas, Sumsel. Di pengepul inilah petani setempat menjual hasil karetnya. 

SRIPOKU.COM, MUSIRAWAS - Petani Karet di Desa Manah Resmi Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas, Sumsel, mengeluhkan aksi pencurian jedol/karet yang sering terjadi di kebunnya.

Bahkan aksi tersebut terjadi sudah berulang kali di kebun milik warga. Menurut warga, hal itu dampak turunnya harga sawit saat ini, sehingga membuat pencuri beralih ke petani karet.

Neni salah seorang petani karet di Desa Manah Resmi mengatakan, akibat turunnya harga sawit, membuat aksi pencurian karet di kebun marak terjadi.

"Belakangan ini, sering terjadi pencurian karet di sini (Desa Manah Resmi). Mungkin, karena harga sawit turun, jadi imbasnya ke karet sekarang," kata Neni saat diwawancarai Sripoku.com, Kamis (15/9/2022).

Menurutnya, dengan anjloknya harga sawit, yang mungkin awalnya para pencuri ini menyasar buah sawit, kini beralih ke karet warga. Hal itu, tentu menjadi keluhan bagi petani karet disamping harga karet yang tidak stabil.

"Sudah murah, tapi banyak malingnya. Karet baru satu hari disadap, sudah hilang. Jadi sekarang, paling lama dua kali sadap, langsung kita cetak. Ya hasilnya tidak seberapa, tapi daripada hilang," ungkapnya.

Dikatakan, maraknya aksi pencurian karet tersebut, tidak dilaporkan oleh petani ke pihak kepolisian.

"Tidak, malas dan tidak sempat mau lapor polisi. Jadi sekarang, dua hari nyadap langsung kita cetak saja," ungkapnya.

Seorang pengepul karet di Desa Manah Resmi, Surat, mengatakan, saat ini harga karet ditingkat petani hanya Rp6.000 per kilogram. Harga itu masih sama dengan harga minggu lalu.

"Murah harga karet karet sekarang, masih sama Rp6.000 perkilonya ditingkat petani. Karena, kalau dari petani ini kadar airnya masih tinggi," kata Surat.

Dikatakan, harga karet di pabrik kini turun harga hingga Rp500. Namun, dia memilih tidak ikut menurunkan harga, agar pelanggan tetap bertahan.

"Sebenarnya di pabrik sudah turun Rp500. Tapi kalau, saya turunkan dibawah Rp6.000, pelanggan pasti pindah dan mungkin petani berhenti nyadap karet. Jadi, saya masih bertahan di harga itu. Meskipun untungnya sedikit," katanya.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved