Identitas 2 Tersangka Kasus Tewasnya Santri Gontor Asal Palembang, Ini Kata Kuasa Hukum Korban

Polres Ponorogo telah menetapkan dua tersangka tewasanya AM (17) santri asal Palembang di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo.

Editor: adi kurniawan
.(KOMPAS.COM/AJI YK PUTRA)
Dari kiri ke kanan, Kasat Reskrim Polres Ponorogo AKP Nikolas Bagas Yudhi dan kuasa hukum keluarga Titis Rachmawati saat mengikuti proses otopsi jenazah AM yang berlangsung di TPU Sungai Selayur, Kecamatan Kalidoni, Kota Palembang,Sumatera Selatan mulai dibongkar oleh tim forensik, Kamis (8/9/2022). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Polres Ponorogo telah menetapkan dua tersangka tewasanya AM (17) santri asal Palembang di Pondok Pesantren Darussalam Gontor 1 di Ponorogo.


Kedua tersangka adalah mantan santri Pondok Pesantren Darussalam Gontor 1 Ponorogo, Jawa Timur itu sendiri yang berinisial MFA (18) asal Sumatera Barat dan Ih (17) asal Pangkal Pinang.


Kuasa Hukum AM (17) santri asal Palembang di Pondok Pesantren Darussalam Gontor 1 di Ponorogo, Titis Rachmawati mengapresiasi  kinerja Polres Ponorogo yang telah menetapkan dua tersangka penganiayaan hingga mengakibatkan AM meninggal dunia.


"Selanjutnya sebagaimana harapan keluarga, semoga pelaku diproses hukum setimpal dengan perbuatannya," ujar Titis, Senin (12/9/2022).


Sementara terkait kemungkinan keluarga pelaku yang akan menemui keluarga korban, Titis menyebut bila hal itu diharapkan terjadi maka keluarga pelaku yang harus mengupayakannya. 


"Kalau mau bertemu, ya harusnya keluarga pelaku yang mencari keluarga korban di Palembang ajak bicara baik-baik, tapi sejauh ini belum ada dari keluarga pelaku yang menghubungi keluarga korban," terangnya.

Sementara itu, Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta mengatakan pihak kepolisian masih akan melakukan penyidikan dalam kasus penganiyaan AM (17) santri Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) hingga meninggal dunia.

Saat ini polisi telah menetapkan dua tersangka yaitu MFA (18) dan IH (17) yang tak lain adalah senior AM di Pondok Gontor.

Nico mengatakan dalam lanjutan penyidikan nanti tidak menutup kemungkinan akan ada tambahan tersangka.

"Dalam proses penyidikan apakah 2 orang yang ditetapkan tersangka ini bisa menyeret orang lain atau tidak, bagaimana tanggung jawab pondok, ini masih proses," kata Nico yang dikutip dari Tribun Jatim, Senin (12/9/2022)..

Nico juga mendapatkan informasi terkait rencana kedatangan korban ke Ponorogo yang nantinya bisa diambil keterangannya sehingga bisa melengkapi proses penyidikan yang sedang berjalan.

Dalam kesempatan itu, jenderal bintang tersebut juga menyampaikan hasil koordinasinya dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga.

Dalam rapat terbatas itu, fokus pembahasan adalah membangun mekanisme pencegahan agar kejadian serupa tidak terjadi kembali terutama dalam lembaga pendidikan di Jatim.

"Kami melakukan kerjasama dengan stakeholder terkait membentuk Satgas perlindungan perempuan dan anak. Dalam Satgas ini ada beberapa dinas yang terkait terutama Dinsos P3A dan lembaga swadaya masyarakat," lanjutnya.

Satgas tersebut bertugas untuk memudahkan dalam memberikan informasi dengan memberikan nomor telepon hotline bagi siapapun yang menjadi korban.

"Korban bisa segera melapor dan kami bisa segera menindaklanjuti," tegas Nico.

Namun yang terpenting, Pria asal Surabaya tersebut berharap setiap lembaga pendidikan agar mematuhi perlindungan terhadap anak sehingga bisa memperoleh pendidikan tanpa kekerasan.

"Ini bisa dibentuk peran aktif lembaga pendidikan dan anak2 itu sendiri," pungkasnya.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved