Kenaikan Harga BBM Akan Menyulitkan Masyarakat!

Pemerintah harus memahami kondisi masyarakat saat ini, sehingga pemerintah rasanya masih perlu menggelontorkan subsidi terhadap BBM,

Editor: Bejoroy

Oleh: Amidi
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Palembang

SRIPOKU.COM -- BEBERAPA bulan lalu dikabarkan bahwa pemerintah akan menghapus BBM (Bahan Bakar Minyak) jenis premium dan pertalite dengan alasan untuk memperbaiki kondisi lingkungan dengan mendorong penggunaan BBM yang ramah lingkungan. BBM yang dinilai ramah lingkungan yakni memiliki nilai oktan atau Research Octane Number (RON) di atas 91. Sedangkan premium (RON 88) dan pertalite (RON 90). (Kompas.com, 25 Desember 2021).

Sepertinya dalam tempo dekat BBM jenis premium dan pertalite tersebut segera akan mengalami kenaikan alias subsidi terhadap BBM jenis premium dan pertalite tersebut akan segera dicabut.

Untuk BBM jenis premium mungkin tidak begitu menyita perhatian masyarakat, karena selain pemakai/pembeli BBM jenis premium memang sudah sedikit, lagi pula BBM jenis premium ini produksi/penjualannya sudah jauh-jauh hari dikurangi alias sudah langka dipasaran (hanya SPBU tertentu yang menjualnya).

Lain hal nya dengan BBM jenis pertalite, karena memang jumlah permintaan/pemakai-nya terus bertambah. Sehingga, bila ada rencana kenaikan harga terhadap BBM jenis pertalite, maka pasar dan atau masyarakat akan bereaksi cepat.

Beberapa bulan terakhir ini kita disuguhkan pemandangan antri panjang kendaraan yang akan membeli/mengisi BBM jenis pertalite. Tak ayal lagi, menyebabkan jalan macet, karena ruas jalan tersita oleh kendaraan yang parkir dipinggir jalan untuk menunggu giliran membeli/mengisi BBM jenis pertalite tersebut.

Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Logo instagram.com/sriwijayapost/

Perlu diketahui kendaraan yang antri tersebut bukan untuk melakukan aksi borong BBM pertalite, tetapi hanya sekedar untuk membeli/mengisi tengki mobil atau motor mereka untuk kebutuhan sehari-hari saja.

Dalam hal ini ada kekhawatiran dipihak pemerintah, akan terjadi panic buying di kalangan masyarakat/konsumen pemakai BBM jenis pertalite, sehingga Staf khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga meminta masyarakat untuk menunggu kebijakan pemerintah dan tidak panic buying dengan membeli pertalite dalam jumlah besar. (Kompas.com, 29 Agustus 2022). Sebetulnya tidak perlu dilontarkan persoalan panic buying ini. Masyarakat/konsumen sudah cerdas, dan sudah rasional, hanya mereka tidak berdaya dengan kondisi yang ada. Apa mau dikata?

Jika kebijakan kenaikan harga BBM pertalite ini belum ada kejelasan, maka pemandangan antrian ini akan terus kita saksikan diarena SPBU-SPBU yang ada di negeri ini.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved