Berita Musi Rawas

Kecamatan Tugumulyo dan Muara Beliti di Musi Rawas Endemis DBD, 52 Kasus Sepanjang 2022

"Agustus ini ada 4 kasus. Tapi kalau keseluruhan selama 2022 ini ada 52 kasus DBD yang tersebar di 14 Kecamatan dalam Kabupaten Mura," kata Edwar.

Penulis: Eko Mustiawan | Editor: Ahmad Farozi
eko Mustiawan/sripoku.com
Edwar Zuliyar, Kabid P2P Dinkes Kabupaten Musi Rawas. 

SRIPOKU.COM, MUSIRAWAS - Dua Kecamatan di Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumsel, menjadi daerah endemis kasus demam berdarah degue (DBD).

Hal itu diungkapkan Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Musi Rawas, Drg Maya Kesuma Putri, melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Edwar Zuliyar saat diwawancarai Sripoku.com, Senin (29/8/2022).

Dikatakan, dua kecamatan tersebut yakni Kecamatan Tugumulyo dan Kecamatan Muara Beliti. Bahkan, selama Agustus 2022 ini, ada 2 kasus di Kecamatan Tugumulyo dan 1 kasus di Muara Beliti dan 1 kasus di Muara Kelingi.

"Agustus ini ada 4 kasus. Tapi kalau keseluruhan selama 2022 ini ada 52 kasus DBD yang tersebar di 14 Kecamatan dalam Kabupaten Mura," kata Edwar.

Hanya saja lanjut Edwar, dari 52 kasus DBD di Kabupaten Mura tersebut, belum ada kejadian luar biasa (KLB) atau kasus meninggal.

"Memang saat ini ada indikasi peningkatan kasus di Kota Lubuklinggau, dan saat ini masanya kasus DBD naik, karena faktor cuaca yang kadang hujan kadang panas. Sehingga mudah untuk nyamuk berkembang," ungkapnya.

Dijelaskan, upaya yang dilakukan Dinkes untuk mencegah kasus tersebut dengan terus melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pencegahan DBD. Khususnya di Kecamatan Tugumulyo dan Muara Beliti.

"Bahkan, di dua kecamatan ini, kita pernah membentuk kader Jumantik. Tapi belum optimal, khususnya di Desa F Trikoyo Kecamatan Tugumulyo. Di desa ini banyak tempat perkembangan nyamuk seperti di ban bekas," jelasnya.

Diharapkan, masyarakat didaerah endemis dan pernah ada kasus DBD, agar giat melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk dengan mengaktifkan 1 rumah 1 Jumantik atau pemantau jentik.

"Jika itu berjalan, bisa menekan kasus DBD. Sedangkan kalau fooging, itu hanya dilakukan untuk membunuh nyamuk dewasa yang sudah terinfeksi virus dengue," tutupnya.

Camat Tugumulyo, Heriyansyah mengatakan, pihaknya akan menyampaikan kepada seluruh Kepala Desa (Kades) di Kecamatan Tugumulyo, agar kembali mengaktifkan 1 rumah 1 jumantik.

"Nanti kami sampaikan kepada seluruh Kades, agar menindaklanjuti apa yang menjadi perhatian, khususnya kasus DBD. Apalagi, Kecamatan Tugumulyo ini salah satu Kecamatan endemik," tutupnya.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved