Berita Pali

Keluhan Petani Karet di Pali, 'Kalau Mengandalkan Getah Karet, Keluarga Kami tak Makan'

"Dari pabriknya sudah turun, kami sesuaikan harga saat membeli di petani. Kalau harga naik di pabrik, kami juga pasti akan naikan harga," kata Munir.

Penulis: Reigan Riangga | Editor: Ahmad Farozi
reigan/sripoku.com
Petani karet wilayah Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Pali, nampak lesu menyadap hasil getah karet lantaran harganya yang terus menurun. 

SRIPOKU.COM, PALI - Harga karet di Kabupaten Pali saat ini terus mengalami penurunan. Sempat membaik di harga Rp11 ribu per kg, kini sejak memasuki bulan Agustus, harganya turun Rp8,5 ribu per kg, untuk getah kualitas mingguan.

Amrin, salah seorang petani asal Desa Karta Dewa Kecamatan Talang Ubi mengaku, perekonomian keluarganya saat ini tengah kembang kempis akibat harga getah karet menurun. Sementara harga bahan pokok terus melonjak.

Padahal, kata dia, bulan-bulan sebelumnya, petani karet mulai bergairah lantaran harga getah karet mulai membaik yang hampir menembus angka Rp11.000 per kg untuk getah kualitas mingguan.

Tetapi saat memasuki bulan Agustus, petani karet hanya bisa mengelus dada. Sebab harga getah karet mulai mengalami penurunan diangka kisaran Rp8.500 per kg untuk getah kualitas mingguan.

Turunnya harga karet ini membuat petani kembali lesu. Sebab, selain harga yang menurun hampir setiap minggunya, cuaca yang tidak menentu juga menjadi penyebab bertambahnya derita petani yang ada di Kabupaten Pali.

"Dengan harga getah saat ini pendapatan kami jauh menurun. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saja sudah pas-pasan, belum lagi mencukupi keperluan anak sekolah," ungkap Amrin, Rabu (24/8/2022).

Anto, petani karet lainnya memilih kembali menekuni pembuatan batu bata akibat harga getah karet tidak menentu.

"Harga getah tidak menentu dan cenderung semakin menurun. Kalau kami hanya mengandalkan menyadap karet, keluarga kami tidak makan." Katanya.

Maka kini dia kembaki menekuni pembuatan batu bata. Meski hasilnya tidak setiap hari didapatkan, namun menurutnya usaha ini lebih menjanjikan daripada menyadap karet.

Sementara, H Munir, salah satu pembeli getah di Pasar Getah Desa Karta Dewa menyebut, dirinya membeli getah sesuai harga dipasaran.

"Dari pabriknya sudah menurun, jadi kami sesuaikan harga saat membeli di petani. Kalau harga naik di pabrik, kami juga pasti akan menaikan harga," ucapnya.

Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pali, Ahmad Jhoni menyarankan petani karet untuk memanfaatkan Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) untuk memperbaiki harga dan sekaligus meningkatkan kualitas karet.

"Sudah ada beberapa desa di Kabupaten Pali terdapat UPPB, kami harap dimanfaatkan agar harga getah tidak tergantung pada pembeli atau toke getah," katanya.

Melalui UPPB ini kata Ahmad Jhoni, petani bisa mengumpulkan hasil getah secara berkelompok. Kemudian dijual dengan cara lelang 4S, atau satu lokasi, satu mutu, satu harga dan satu hari lelang. "Jadi melalui UPPB, harga bisa bersaing antar pembeli," ujarnya.

Teks Foto:
Petani karet wilayah Kecamatan Talang Ubi nampak lesu menyadap hasil getah karet lantaran harganya yang terus menurun.

 

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved