Berita Palembang

Kisah Jendi Panggabean, dari Kena Musibah Kecelakaan Hingga Jadi Atlet Para Renang Berprestasi

Prestasi terakhir berhasil meraih lima medali emas ASEAN Para Games 2022 di Solo

Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Odi Aria
Handout
Atlet para renang asal Sumsel, Jendi Panggabean Akmal. 


SRIPOKU.COM: Anda dikenal sebagai atlet disabilitas asal Sumsel yang berprestasi, boleh diceritakan bagaimana berproses hingga saat ini? Boleh dong diceritakan A sampai Z


JENDI: Saya sangat ingin membahagiakan kedua orang tuanya, namun harus kehilangan kaki kiri pada tahun 2003, saat umur 12 tahun. Dibonceng kawan menggunakan sepeda motor mengalami kecelakaan, dan mengharuskan kaki kiri diamputasi.


Saya merantau untuk mengenyam pendidikan SMA di Palembang dan bertemu dengan Pelatih yang sedang mencari calon-calon atlet difabel.


Tahun 2012, berhasil mendapat medali 2 medali emas, 1 medali perak, dan 1 medali perunggu di ajang Pekan Paralimpik Nasional tahun 2012. Memecahkan rekor 50 M gaya punggung. Pencapaian pada ajang olahraga Paralimpiade nasional mengantarkan saya masuk pelatnas.


2013 ASEAN Para Games, Myanmar mendapatkan 2 emas dan 1 perak. Selain itu kembali memecahkan rekor 50m gaya punggung.


2015 ASEAN Para Games Singapore, meraih 3 emas, 2 perak, dan 1 perunggu dan kembali memecahkan rekor 100m gaya punggung dan 200m gaya ganti.


2017 Ajang ASEAN Para Games, Malaysia berhasil membawa pulang lima medali emas sekaligus, di nomor 400M gaya bebas, 100M gaya punggung, 200M gaya ganti, estafet 4×100M gaya bebas 34 point dan 4x100M gaya ganti 34 poin.


Menorehkan prestasi kelas Asia pertamanya dengan meraih perunggu saat turun di nomor gaya bebas 100M putra klasifikasi S9 pada Senin (8/10/2018) malam. 

 

Kembali berhasil mengukir sejarah baru dimana pada final Asian Para Games nomor gaya punggung 100M klasifikasi S9, Jendi berhasil menduduki tempat pertama sebagai para inspirasi renang tercepat se Asia, Kamis (11/8/2018). Menjadi Pembawa Obor terakhir dan menyalakan kuali Asian Para Games 2018.

 


SRIPOKU.COM: Bagaimana Anda menemukan diri sebagai seorang atlet? Apakah ada bantuan atau bimbingan orang lain?


JENDI: Sebenarnya dari kecil bakat. Tapi diasah. Tidak ada yang langsung jadi. Renang harus latihan, kerja keras, disiplin. Banyak perenang ada yang berhasil dan tidak. Berhasil itu ada motivasi lebih walaupun program sama. 


Kalau aku dari keluarga tidak mampu ingin mengangkat derajat keluarga. Dengan kondisi seperti ini membuktikan bisa (memiliki prestasi). Apalagi yang normal. Kalau keluarga apa yang dibutuhkan ortu sudah terpenuhi. Memberangkatkan ke tanah Suci sudah. Punya rumah sudah dibikinkan, mobil dan motor. Kalau saya setahun sekali pulang kampung ke Muaraenim. 

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved