Menantang Maut Demi Cari Nafkah Warga Kecamatan Kikim Selatan Lahat Rela Terobos Arus Sungai Pangi

Puluhan tahun warga di Kecamatan Kikim Selatan, Kabupaten Lahat terpaksa harus menyeberangi arus Sungai Pangi untuk melakukan aktifitas pertanian

Penulis: Ehdi Amin | Editor: adi kurniawan
SRIPOKU.COM/Ehdi Amin
Warga di beberapa desa di Kecamatan Kikim Selatan, Kabupaten Lahat terpaksa harus menyeberangi arus Sungai Pangi selebar 30 meter lebih untuk melakukan aktifitas pertanian. 

Laporan Wartawan Sripoku. Com Ehdi Amin


SRIPOKU.COM, LAHAT -- Tak ada pilihan lain, puluhan tahun warga di beberapa desa di Kecamatan Kikim Selatan, Kabupaten Lahat terpaksa harus menyeberangi arus Sungai Pangi selebar 30 meter lebih untuk melakukan aktifitas pertanian.

Hal itu terpaksa dilakukan sebab tak ada jembatan penyeberangan di Sungai Pangi bagi warga untuk melintas dengan aman.


Warga yang menyebrangi Sungai Pangi yakni warga Desa Pandan Arang dan warga Desa Beringin Janggut, Kecamatan Kikim Selatan, Kabupaten Lahat.

Menurut masyarakat kondisi ini sudah menjadi pemandangan yang biasa terjadi.

Sebab warga yang menyebrangi Sungai Pangi untuk pulang pergi ke sawah maupun ke kebun.

Warga berharap ada jembatan penghubung untuk penyeberangan di atas Sungai Pangi yang menghubungkan Desa Pandan Arang dengan beberapa desa lainnya ini.

Menyelusuri Sungai Pangi tampak warga kesulitan untuk membawa hasil pertanian jika air Sungai Pangi mengalami pasang.

Meski telah berulang kali diajukan, namun pembangunan jembatan tak kunjung direalisasikan.

Warga Desa Keban Agung, Yayusmar menuturkan bahwa ia rutin menyebrangi sungai untuk pergi ke sawah, meski bisa menggunakan kendaraan motor, namun ketika debit air sungai tinggi apalagi musim hujan, maka warga mengurungkan niat untuk menyebrangi sungai. 

"Sejak berdirinya desa ini belum ada jembatan untuk masyarakat pergi ke sawah, kebun karet dan sawit," kata Yayusmar, Rabu (27/7/2022)

Senada disampaikan Ahmad Fauzi warga Desa Padang Arang, ia mengaku belasan tahun berjalan kaki menyebrangi sungai mengangkut hasil kebun di ladang.

"Kalau air nya deras, maka kami terpaksa menyebrangi sungai pakai ban karet," ujarnya. 

Fauzi berharap pemerintah secepatnya membangun jembatan agar roda perekonomian masyarakat dapat bergerak lebih baik.

"Karena masyarakat desa mayoritas melewati jalan ini satu-satunya ke antar desa," ujarnya.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved