Berita Nasional

Apa Itu Ekshumasi? Prosedur yang Disarankan untuk Bongkar Kasus Penembakan Brigadir J

Ekshumasi terhadap jenazah Brigadir J dilakukan seiring dengan akan dilaksanakannya autopsi ulang Brigadir Nofriansah Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Penulis: Nadyia Tahzani | Editor: Odi Aria
Sripoku.com
Apa Itu Ekshumasi 

SRIPOKU.COM - Apa Itu Ekshumasi? prosedur yang disarankan untuk menguak kasus penembakan Brigadir J, Senin (25/7/2022).

Berikut Pengertian ekshumasi yang akan di lakukan pada jenazah Brigadir J.

Seperti diketahui, Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Dedi Prasetyo mengungkapkan, ekshumasi atau pembongkaran makam Brigadir J untuk autopsi dan visum ulang akan digelar secepatnya.

Ekshumasi terhadap jenazah Brigadir J dilakukan seiring dengan akan dilaksanakannya autopsi ulang Brigadir Nofriansah Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Baca juga: Eks Kabareskrim Susno Duadji Sebut Kasus Brigadir J Peristiwa Biasa, Namun Ada Hambatan Psikologis

Brigadir J
Brigadir J (tribunjambi)

Lantas apa itu Ekshumasi? berikut ulasannya.

Melansir Urbanasia, Dalam jurnal karya Asan Petrus dari Departemen Forensik dan Mediokolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/RS H Adam Malik Medan, dijelaskan bahwa ekshumasi adalah proses mengeluarkan kembali mayat yang sudah dikubur.

Berasal dari bahasa latin 'ex' yang berarti 'keluar', dan 'humus' yang berarti tanah.

Dalam hal ini, yang dimaksud penggalian kuburan atau ekshumasi yang dilakukan pihak kedokteran kehakiman.

Ini adalah proses pengeluaran kembali mayat yang sudah dimakamkan dari dalam kuburnya, di mana umumnya dilakukan karena setelah beberapa waktu mayat dikubur.

Timbul kecurigaan bahwa korban mati secara tidak wajar (adanya tindak pelanggaran hukum) yang dimungkinkan karena kecelakaan yang disengaja ataupun keracunan.

Artinya, Ekshumasi adalah penggalian kuburan yaitu mengeluarkan kembali mayat yang sudah dimakamkan dari kuburnya.

Di Indonesia, seringkali ada suatu laporan terkait peristiwa pembunuhan atau korban meninggal yang terlambat disampaikan kepada penyidik.

Sehingga dapat menimbulkan kesulitan, bagi pihak penyidik maupun dokter untuk melakukan tugasnya memeriksa mayat oleh karena korban telah dikubur.

Keterlambatan laporan tentang kecurigaan kejadian/kematian bisa disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya karena kebutaan tentang hukum, masalah transportasi.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved