Opini

Gaya Manajemen Konflik, Sinergi antar Bidang dan Pengaruhnya Terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan

PEMAHAMAN dan penerapan manajemen konflik yang baik sangat penting dilakukan, terlebih pada Rumah Tahanan

Editor: Yandi Triansyah
Dokumen pribadi
Puasna Teruna 

PENULIS: Puasna Teruna, SH

 Pembimbing Kemasyarakatan Muda Balai Pemasyarakat Kelas I Palembang, Kanwil Kemenkumham Sumsel

PEMAHAMAN dan penerapan manajemen konflik yang baik sangat penting dilakukan, terlebih pada Rumah Tahanan dan Lembaga Pemasyarakatan.

Dengan memahami konflik warga binaan pemasyarakatan, diharapkan bisa mengatasi potensi terjadinya konflik yang sering berakhir dengan kerusuhan.

Sebenarnya konflik merupakan hal wajar dalam suatu organisasi. Seringkali konflik tidak dapat dihindari dalam organisasi, karena konflik dapat menjadi kekuatan positif dan negatif, sehingga manajemen seyogyanya tidak perlu menghilangkan semua konflik, tetapi hanya pada konflik yang menimbulkan dampak gangguan organisasi dalam mencapai tujuan saja yang perlu dihilangkan.

Beberapa jenis atau tingkatan konflik mungkin terbukti bermanfaat jika digunakan sebagai sarana untuk perubahan atau inovasi.

Dengan demikian konflik bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan, tetapi merupakan sesuatu hal yang perlu untuk dikelola agar dapat memberikan kontribusinya bagi pencapaian tujuan organisasi.


Menurut pakar manajemen konflik, Prof. Dr. Winardi, SE dalam bukunya A Biografi Winardi (2007). Bahwa dalam aktivitas organisasi dijumpai bermacam-macam konflik yang melibatkan individu-individu maupun kelompok-kelompok anggota organisasi tersebut.

Pada hakekatnya konflik terdiri atas empat bentuk, yaitu : 1. Konflik dalam diri individu. 2. Konflik antar individu dan 3. Konflik antar kelompok. Serta 4. Konflik antar organisasi. Pada dasarnya, setiap orang yang menjadi narapidana/warga binaan pemasyarakatan sudah memiliki konflik dalam dirinya sendiri atau biasa disebut konflik individu.


Sebagai makhluk sosial, tidak ada satu orang pun yang menginginkan menjadi narapidana/warga binaan pemasyarakatan. Secara psikologis, keberadaan warga binaan pemasyarakatan narapidana di dalam Lembaga Pemasyarakatan, pada hakikatnya adalah merupakan upaya pengekangan kebebasan seseorang dalam memenuhi segala kebutuhannya, sehingga penghuni mengalami kesakitan yang diakibatkan kehilangan-kehilangan.

Baik kehilangan kemerdekaan bergerak (lose of liberty), kehilangan rasa aman (lose of security), kehilangan relasi seksual (lose of heterosexual relationship), kehilangan otonomi (lose of outonomi), maupun kehilangan kekuasaan atas barang-barang yang dimilikinya (lose of good and services). Orang-orang yang menjadi warga binaan pemasyarakatan sudah “berkonflik” dengan dirinya sendiri.

Pada kondisi yang demikian dia harus hidup bersama dengan orang lain yang juga “berkonflik”.

Dalam menjalani kehidupan di Lembaga Pemasyarakatan mereka akan membentuk kelompok-kelompok. Hampir di semua Lembaga Pemasyarakatan diisi oleh Warga Binaan Pemasyarakatan yang heterogen dari berbagai asal suku.

Dari masing masing asal suku biasanya akan hidup mengelompok dengan asal suku yang sama.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved