Wacana Penghapusan Honorer, Guru MAN 2 Palembang Ini Sudah 13 Tahun Mengabdi Berharap Ada Solusi

Lidia, guru honorer yang telah mengabdi MAN 2 Palembang, berharap ada solusi bagi honorer yang sudah lama mengabdi

Penulis: Merry Lestari | Editor: adi kurniawan
SRIPOKU.COM/MERRY LESTARI
Lidya (berjilbab merah), guru honorer di MAN 2 Palembang sejak tahun 2009, Jumat (13/5/2022) 

Laporan wartawan Sripoku.com Merry Lestari 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Kabar terkait rencana penghapusan tenaga honorer oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Tjahjo Kumolo pada 28 November 2023 mendatang membuat gusar guru honorer di kota Palembang, Selasa (14/6/2022).

Seperti diungkap Lidia, guru honorer yang telah mengabdi selama kurang lebih 13 tahun di Madrasah Aliyah (MA) Negeri 2 Palembang.

Lidia mengaku sudah tak bisa berkata apa-apa lagi jikalau hal tersebut benar-benar terjadi.

“Tak bisa berkata-kata,” ungkap Lidya diiringi dengan senyuman.

Menurutnya, alih-alih menghapus tenaga honorer pemerintah harusnya bisa memberikan perhatian lebih terhadap tenaga honorer yang sudah mengabdi cukup lama.

Selain karena akan memperhitungkan waktu yang sudah dihabiskan tenaga honorer tersebut, dihapusnya tenaga honorer jelas akan menyebabkan meningkatnya jumlah pengangguran terutama bagi mereka yang hanya bergantung pada pekerjaan honorer itu saja.

Lidya sendiri menjadi salah satu dari tenaga honorer yang saat ini hanya bergantung dari pekerjaannya itu saja.

Ia mengaku sempat membuka usaha makanan dulunya, namun kini sudah tak dapat melanjutkan usahanya itu lagi karena padatnya jadwal mengajar.

“Sebelum corona sempat jualan minuman dan makanan, tapi sekarang karena jam ngajar sudah padat jadi gak bisa lanjut lagi,” jelas Lidya.

Ia kemudian mengungkap harapannya agar pemerintah kiranya dapat membuat kebijakan khusus bagi para tenaga honorer yang sudah lama mengabdi.

“Harapannya semoga ada kebijakan bagi honorer yang sudah lama mengabdi, artinya ada perhatian lebih terhadap honorer yang sudah 10 tahun ke atas mengabdinya,” tutur Lidya.

“Atau setidaknya dengan persyaratan yang lain dengan mempertimbangkan masa kerja dan kinerja dari honorer tersebut,” lanjutnya.

Lidya yang mengaku sudah mengabdi kurang lebih selama 13 tahun itu hanya berharap agar Tuhan memberikan yang terbaik baik padanya.

Sebab menurutnya menjadi seorang guru adalah sebuah pekerjaan mulia, dimana membagikan ilmu yang dimilikinya kepada siswa adalah sebuah tanggungjawab.

Oleh sebab itu ia mengaku tak pernah merasa keberatan dengan pekerjaan yang dijalaninya selama ini.

“Mengajar itu bukan soal betah, tapi itu kewajiban untuk membagikan ilmu yang kita punya," kata Lidya.

Mengajar sejak tahun 2009 membuat Lidya sudah cukup nyaman dengan pekerjaan yang ditekuninya selama ini, meski dengan gaji secukupnya.

Saat ini Lidya sudah memiliki waktu sebanyak 32 jam mengajar dengan insentif Rp40.000 per jam, sehingga setiap bulan ia dapat mengantongi kurang lebih sebesar Rp1.200.000 per bulan.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved