Berita Palembang

Ahmad Nasuhi Gigit Jari, Terdakwa Kasus Masjid Raya Sriwijaya Tetap Divonis 8 Tahun Penjara

"Pengadilan Tinggi Palembang, menguatkan putusan majelis hakim pengadilan tipikor, yang berapa waktu lalu menjatuhkan vonis selama 8 tahun penjara

Editor: Yandi Triansyah
sripoku.com/Chairul Nisyah
Terdakwa Ahmad Nasuhi, saat akan dibawa kembalinke Rutan Pakjo Palembang, usai jalani sidang di Pengadilan Tipikor Palembang, Kamis (30/9/2021). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pengadilan Tinggi menguatkan putusan dari Pengadilan Tipikor Palembang, dan menyatakan Ahmad Nasuhi tetap divonis dengan hukuman 8 tahun penjara.

Hal tersebut di katakan oleh Jaksa Kejati Sumsel, Naimullah SH MH yang dikonfirmasi, Minggu (3/4/2022).

Naim mengatakan jika banding yang dilakukan oleh pihak terdakwa Ahmad Nasuhi, masih belum membuahkan hasil.

"Pengadilan Tinggi Palembang, menguatkan putusan majelis hakim pengadilan tipikor, yang berapa waktu lalu menjatuhkan vonis selama 8 tahun penjara," ujar Naim.

Ahmad Nasihi merupakan terdakwa kasus dugaan korupsi dana hibah Masjid Raya Sriwijaya.


Disinggung mengenai langkah hukum selanjutnya yang akan diambil oleh pihak JPU Kejati Sumsel, yang menangani perkara ini, Naim mengatakan pihaknya masih pikir-pikir.


"Kita saat ini masih pikir-pikir untuk nantinya mengambil sikap, apakah Kejati Sumsel mengajukan Kasasi ke Mahkamah Agung (MA) atau menerima putusan Pengadilan Tinggi yang amar putusannya menguatkan putusan Pengadilan Tipikor Palembang," jelasnya.

Mukti Sulaiman Legowo Divonis 7 Tahun, Ahmad Nasuhi Ngotot Banding, Kasus Korupsi Masjid Raya

Sementara itu, dikonfirmasi pada kuasa hukum terdakwa Ahmad Nasuhi, Redho Junaidi SH MH mengatakan saat ini belum menerima salinan putusan resmi atas banding tersebut.

Redho mengatakan akan segera berkoordinasi dengan terdakwa Ahmad Nasuhi.

"Jika salinan putusan itu sudah kami dapat, maka selanjutnya kami akan berkoordinasi dengan klien untuk dicermati dipelajari dahulu putusan banding tersebut," ujar Redho, Minggu (3/4/2022).

Selaku kuasa hukum Ahmad Nasuhi, Redho menilai putusan tersebut masih terlalu berat meskipun itu sudah separuh dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Sumsel yang kala itu menuntut terdakwa selama 15 tahun penjara.

Dijelaskan olehnya, dalam fakta persidangan yang dipermasalahkan hanya domisili yayasan, sedangkan dalam fakta persidangan domisili yayasan sebelum Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) ditandatangani itu berlokasi di Palembang.

"Selama ini kan diasumsikan pihak penerima hibah itu, pada saat tanda tangan NPHD itu domisilinya bukan di Palembang, jelas itu salah besar," jelasnya.

Hal itu, menurutnya sesuai dengan bukti akte yang terdaftar di Kemenkumham, yang tidak mungkin bisa di manipulasi oleh siapapun.

"Kami menduga dalam perkara ini seperti titipan, ada hal yang semestinya harus digali namun nyatanya tidak dilakukan,"ujarnya.

Untuk diketahui, dalam kasus dugaan korupsi dana hibah Masjid Raya Sriwijaya, terdakwa Ahmad Nasusi dijatuhi vonis pidana oleh majelis hakim Tipikor Palembang dengan hukuman 8 tahun penjara.

Terdakwa dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi melanggar Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 UU nomor 20 tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke (1) KUHP Jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved