Cerita Rakyat Sumatera Selatan: Sebuah Tinjauan Persfektif Ekofenomenalogi

Cerita rakyat salah satu cerita yang tergolong karya sastra yang berasal dari masyarakat dan berkembang dalam masyarakat

Editor: pairat
net
Jembatan Ampera tempo dulu 

SRIPOKU.COM - Karya sastra sangat berkaitan dengan aspek sosial, terutama aspek kemasyarakatan. Bahkan dikatakan bahwa karya sastra merupakan gejala humaniora.

Ini berarti bahwa karya sastra harus dipahami sebagai karya kreatif manusia (Endraswara, 2006). Karya sastra diciptakan untuk mengemukakan segala aspek kehidupan manusia beserta lingkungannya. Oleh karena itu, karya sastra sangat menarik untuk ditelaah.

Cerita rakyat merupakan salah satu cerita yang tergolong karya sastra yang berasal dari masyarakat dan berkembang dalam masyarakat pada masa silam yang diwarisi secara lisan. Cerita rakyat merupakan kekayaan budaya suatu bangsa.

Hal ini disebabkan cerita rakyat umumnya memuat seperangkat nilai-nilai kehidupan mengenai sikap dan perilaku. Nilai-nilai budaya itu berkaitan erat dengan suatu peristiwa atau kejadian yang terjadi di masa lampau.

Sumatera Selatan memiliki banyak kekayaaan tradisi sastra lisan. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Balai Bahasa Palembang, terdapat 236 sastra lisan di Provinsi Sumatera Selatan yang telah didokumentasikan (https://nasional.republika.co.id).

Dari sejumlah itu terdapat cerita rakyat yang berupa dongeng, mite, legende. Beberapa cerita rakyat Sumatera Selatan seperti Hikayat Antu Ayek, Legenda Puyang Maharajabesi, Legenda Pusang Seketi (sastra lisan Lematang; legenda Puyang Kute Tanjung Ayek Hening.

Selain itu, Legenda Puyang Rasakadim, Legenda Puyang Pandak Siku (sastra lisan Enim); Cerita Rakyat Batu Kebayan, Cerita Rakyat Batu Lesung, Cerita Rakyat Sisik Naga Emas, Cerita Rakyat Pungguk Merindukan Bulan, Si Pahit Lidah, Si Mata Empat, (sastra lisan Ogan Komering Ulu dan Ilir) (Sudarmanto, 2020).

Cerita rakyat sebagai suatu sastra lisan memiliki banyak makna yang tersirat di dalamnya. Walaupun disampaikan dari mulut ke mulut, makna yang terkandung dalam pesan cerita rakyat memiliki kearifan. Nilai kearifan dalam cerita rakyat perlu digali agar dapat memberikan kontribusi dalam pembentukan karakter seseorang khususnya peserta didik umumnya.

Beberapa kajian analisis cerita rakyat Sumatera Selatan telah diteliti dengan berbagai sudut persfektif. Tahun 2010, peneliti telah melakukan riset terhadap flora dan fauna dalam cerita rakyat Lematang. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa nilai flora, antara lain, daun sirih memberikan efek terhadap kesehatan dan keselamatan.

Pohon kemuning memberikan petunjuk terhadap kehidupan seseorang. Bambu memberikan manfaat bagi kehdupan manusia, seperti untuk membuat jembatan, rakit, dan anyaman. Selain itu, batangnya yang muda (rebung) dibuat gulai. Sebaliknya dari fauna, nilai yang dapat dipetik hikmahnya adalah penggambaran kehidupan suatu ekosistem hewan (Indrawati, 2010).

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved