Menangkal Hukum Rimba

Tidak efektifnya peraturan hukum tentunya diakibatkan profesionalitas dan integritas aparat penegak hukum masih berada dalam fase yang belum memuaskan

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/Istimewa
Muhammad Syahri Ramadhan, S.H.,M.H Dosen Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya 

Data tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat di Indonesia mudah sekali untuk diprovokasi dengan berita–berita yang belum tentu kebenarannya.

Kedewasaan para pengguna perangkat gawai saat mengakses akun media sosialnya memang sangat diuji.

Adagium “saring sebelum sharing” jangan dianggap isapan jempol belaka.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel TikTok Sriwijayapost di bawah ini:

Logo TikTok Sripoku.com

Setiap informasi atau berita yang diterima sudah selayaknya disaring yaitu dengan memverifikasi keabsahan sumber berita sebelum untuk dishare (dikirimkan) ke beranda plat-form media sosial.

Kasus yang dialami kakek wiyanto halim harus menjadi pelajaran berharga bagi semua pi-hak Ketika ada pelaku kejahatan tertangkap tangan maka proses penanganan perkara yang diberikan sudah seharusnya diserahkan kepada pihak yang berwajib.

Dengan menggunakan asas praduga tidak bersalah atau presumption of innocent yakni seseorang atau kelompok yang dianggap atau diduga tidak bersalah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang menyatakan pihak tersebut bersalah.

Fenomena main hakim sendiri yang dilakukan masyarakat merupakan bentuk kontaminasi hukum rimba terhadap hukum positif.

Hukum rimba yaitu hukum yang berlaku bagi pihak yang kuat atau menang, maka dialah yang berkuasa.

Jika terduga pelaku kejahatan langsung diekseskusi masyarakat dengan memukul atau menganiaya dalam bentuk lain, hal tersebut bukanlah solusi atas suatu masalah, justru akan menimbulkan masalah yang baru.

Cara hukum rimba yang diterapkan tersebut akan menimbulkan kontraksi sosial yang pada ujungnya hukum kehilangan eksistensinya.

Sehingga, bukan ketertiban yang akan dilihat tetapi penyalahgunaan kekuasaan akan menghiasi di setiap sendi kehidupan masyarakat.

Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Tindakan main hakim ini sendiri sebenarnya memiliki 2 (dua) sisi pesan sosial yang ber-tentangan.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved