Polda Sumsel dan KLHK RI Tangkap Pelaku Pembalakan Hutan di Muba, 500 Kubik Kayu Diamankan

Telah diamankan 500 kubik kayu senilai Rp 3 miliar dari Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin atau Muba, Sumsel. 

Editor: Refly Permana
sripoku.com/oki
Kapolda Sumsel membelakangi balok yang disita dari pelaku pembalakan liar di Muba. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Satuan Tugas atau Satgas Gabungan Polda Sumsel bersama Tim Penegak Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau KLHK RI berhasil mengamankan 500 kubik kayu senilai Rp 3 miliar dari Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin atau Muba, Sumsel. 

Kapolda Sumsel, Irjen Pol Toni Harmanto, mengatakan pihaknya mendapat informasi bahwa telah terjadi pembalakan liar di hutan kawasan produksi terbatas. 

Dari hasil informasi tersebut, tim dari Ditpolairud Polda Sumsel turun ke TKP untuk melakukan penyelidikan. 

"Dari hasil penyelidikan, tim berhasil mengamankan 18 orang dari TKP. Selain itu tim juga mengamankan kayu-kayu balok yang merupakan kayu bagus, bukan kaleng-kaleng," kata Toni, Kamis (3/2/2022). 

Dikatakan Kapolda, pembalakan hutan ini sudah terjadi selama 13 tahun. 

Para tersangka ini sangat pintar, mereka menghanyutkan kayu-kayu balok ini melalui parit gajah sehingga apa yang mereka lakukan tidak ketahuan. 

"Modus para tersangka ini menggunakan parit gajah dan getek untuk menggangkut ratusan kubik kayu ini dan tidak melalui sungai," ujarnya. 

Sementara itu, Dir Cegah Pam LHK RI , Soestyo Iriono mengatakan pembalakan hutan-hutan ini sering terjadi Bayung Lencir, Muba hingga Kecamatan Kumpe, Jambi.

Hal ini terjadi karena kurangnya pengamanan sehingga selama hampir belasan tahun terjadi illegal logging ini. 

"Jadi kita itu butuh pemertebal keamanan pada kawasan hutan produksi agar tidak terjadi pembalakkan hutan secara terus menerus yang dapat merugikan negara," ujarnya. 

Akibat dari pembalakan liar tersebut sangat berdampak pada perusakan hutan lindung yang berada dikawasan Sumsel.

Apalagi dengan rusaknya hutan dikawasan Sumsel akan berdampak dengan terganggunya habitat hewan liar yang dilindungi.

Diungkapkan Soestyo, kayu-kayu balok ini biasanya dipasarkan di Pulau Jawa. Kayu - kayu ini digunakan buat mebel dan kusen. 

"Untuk harga satu kayu ini dihargai sekitar Rp7 juta," ujarnya. 

Sementara itu, Dir Polairud Polda Sumsel Kombes Pol YS Widodo mengatakan hingga saat ini masih ada kayu yang sepanjang 13 km yang masih berada di TKP yang belum diangkut. 

"Saat kami di TKP menelusuri parit gajah sepanjang 60 km yang masih ada kayu - kayu balok disana yang belum bisa diambil karena bentuknya zig zag," ujarnya.

Dalam pengungkapan kasus ini tidak mudah.

Ia mengatakan, perlu kecepatan dan ketepatan waktu sebab harus masuk ke dalam hutan belantara, bahkan petugas dalam pengungkapan ilegal logging harus bertemu dengan harimau sumatera.

"Sangat sulit medan yang harus ditempuh untuk mengungkap kasus ini," tutupnya.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved