Harga Cabai Rawit Naik Jelang Nataru, Para Petani Kopi di OKU Selatan Merasa Terbantu

Harga cabai rawit yang naik sejak beberapa hari lalu, menjadi berkah tersendiri bagi sebagian besar petani Kopi di Kabupaten OKU Selatan.

Tayang:
Penulis: Alan Nopriansyah | Editor: adi kurniawan
Sripoku.com/Jihan Alfarizi
Harga cabai merah naik Rp 40 kilogram di Pasar Induk Jakabaring Palembang, Kamis (19/11/2021). 

Laporan Wartawan Sripoku.com, Alan Nopriansyah


SRIPOKU.COM, MUARADUA -- Harga cabai rawit yang naik sejak beberapa hari lalu, menjadi berkah tersendiri bagi sebagian besar petani Kopi di Kabupaten OKU Selatan.

Kini harga perkilogram mencapai Rp 33 ribu. Minggu (26/12).


Sebab, tumbuhan cabai sudah menjadi pilihan para petani sebagai tanaman tumpang sari oleh mayoritas komuditi petani kopi di kebun. 


"Dengan harga sekarang yang naik berkisar Rp 33 ribu menjadi berkah tersendiri jelang tahun baru. Apalagi cabai ini perawatannya tidak sulit,"ujar Tri petani di Kecamatan Sungai Are, Minggu (26/12).


Selain itu, ia memilih tanaman tumpang sari di sela-sela batang pohon kopi miliknya. Pohon Cabai tersebut dinilai tidak mempengaruhi kesuburann tanaman pokok yakni buah dan batang kopi.


"Ya, enaknya dengan Cabai ini dijadikan tanaman tumpang sari tidak mengganggu tanaman kopi yang merupakan penghasilan utama petani,"ungkapnya.


Senada dikatakan oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten OKU Selatan, Ir Asep Sudarno. Menurutnya mengingat kopi merupakan tumbuhan sebagai penghasilan tahunan petani memang dinilai cocok dengan tanaman pendamping.


Asep mengatakan tanaman tumpang sari yang cocok untuk petani Kopi tidak hanya cabai, tetapi juga tumbuhan yang bernilai jual lainnya.


"Sekarang memang lahan kopi sudah berkurang, akan tetapi seharusnya petani tidak perlu membongkar lahan, bisa tumpang sari seperti tanaman Cabai, Jahe, Lada dan tanaman lainnya,"ungkapnya.


Diakuinya, petani OKU Selatan kerap kali mengganti tanaman dilahan karena terbuai oleh harga yang mahal, namun saat panen harga malah kembali turun.


"Maka tak heran, lahan kopi berkurang, data terakhir berkisar 54 ribu hektare di OKU Selatan. Lahan tersebut berkurang banyak dibabat diganti petanj dengan bertani lainnya, seperti jagung,"ungkapnya

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved