Breaking News:

OPINI : Nilai Manusia Bergantung Pada Hati dan Mulut

Lukmanul Hakim bukanlah nabi atau rasul tapi namanya diabadikan oleh Allah SWT dalam Qur’an lantaran keshalehannya

Editor: Welly Hadinata
IST
Drs.H.Ishak Shafar, M.Pd Pengawas Agama Diknas /Kementerian Agama Kota Palembang 

Oleh : Drs.H.Ishak Shafar, M.Pd Pengawas Agama Diknas /Kementerian Agama Kota Palembang

SRIPOKU.COM - Lukmanul Hakim bukanlah nabi atau rasul tapi namanya diabadikan oleh Allah SWT dalam Qur’an lantaran keshalehannya. Sebagai seorang budak, ia diperintah majikannya menyembelih kambing.
Setelah kambing disembelih, majikan memerintahkan agar Lukamanul Hakim mengambil dua bagian yang terpenting dari daging kambing itu.

Ternyata yang diambil Lukmanul Hakim adalah lidah dan hati kambing, lalu diserahkan kepada majikannya.
Keesokan harinya majikan kembali memerintahkan untuk menyembelih kambing dan meng-ambil dua bagian terpenting dari daging kambing itu. Lukmanul Hakim kembali mengambil li-dah dan hati kambing kemudian diserahkan kepada majikannya.

Oleh karena sudah dua kali diperintah mengambil dua bagian terpenting dari daging kambing, dan oleh Lukmanul Hakim selalu mengambil lidah dan hati kambing. Kemudian majikan tanya mengapa selalu lidah dan hati ? Lukmanul Hakim menjawab bahwa lidah dan hati itu kalau bagus maka akan bagus pula anggoa badan yang lain.

Namun jika lidah dan hati jahat atau kotor maka akan ikut jahat atau kotor pulalah anggota badan yang lainnya.
Sekarang banyak sudah orang yang tidak terlalu peduli dengan “hati” dan “lidahnya”. Karena lidah tidak terlalu diperhatikan maka kata-kata buruk pun berseleweran lebih-lebih di media sosial misalnya. Kita sering membaca kata-kata “bohong”, “kotor”, “fitnah”, “menghina”, “ghibah”, “keji”, “nista”, dan lain-lain.

Kata-kata ini yang manakala menghiasi prilaku kita berarti kita tidak jauh dari kata-kata itu sendiri. Ada kata hikmah yang menyebutkan “berka-talah anda nanti saya katakan siapa anda”. Ini artinya kata-kata kita gunakan menggambarkan siapa kita.

Bahkan orang yang dicap dengan sebutan munafik pun berawal dari kata-kata (berkata bohong, berjanji dengan kata-kata lalu ingkar, dipercaya dengan mendengar kata-katanya tapi kemudian kepercayaan itu disia-siakan). Padahal munafik itu siksanya sangat berat, dimasukkan ke dalam neraka pada lapis yang paling bawah dari neraka itu (QS.An-Nisa: 145).

Selain kata-kata, juga hati yang menjadi tolok ukur manusia baik atau tidak baik. Seperti yang diperintahkan majikan kepada Lukmanul Hakim agar mengambil bagian terpenting dari kam-bing yang disembelih. Dan Lukmanul Hakim pun mengambil hati dan lidah dari kambing tersebut. Demikian pula bunyi kata hikmah yang mengatakan nilai manusia itu nergantung pada dua anggota tubuhnya yang kecil-kecil, yaitu hati dan mulut atau lidah.

Hati Rasul berkata; “Dalam diri manusia itu ada segumpal daging, manakala segumpal daging itu bagus akan baguslah seluruh jasad kita sebaliknya manakala segumpal daging itu jahat atau kotor maka akan rusaklah semua jasad kita, ketahuila kata Rasul bahwa segumpal daging itu-lah hati”.

Dari hadits ini jelas pada kita bahwa hati yang masing-masing orang mempunyainya menjadi tolok ukur kita ini baik atau buruk. Hati ibarat pemimpin dalam diri setiap manusia dan anggota tubuh yang lain adalah pekerjanya. Jika pemimpinnya kuat maka pekerjanya akan kuat, dan jika ketuanya baik maka pekerjanya juga akan baik.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved