Breaking News:

Kilas Balik

46 TAHUN di Belanda, Pencipta Bendera Bintang Kejora Kembali ke Tanah Papua: Hidup Matiku NKRI

Tongkat penopang dia lepaskan dari tangan, badannya membungkuk dan akhirnya tengkurap. Dia mencium tanah Papua, melunasi rindu yang menggebu.

Editor: Wiedarto
Tribun-Papua.com/Istimewa
Nicolaas Jouwe, tokoh pendiri Organisasi papua Merdeka (OPM) sekaligus perancang bendera Bintang Kejora. 

SRIPOKU.COM, JAKARTA--Berkalung bunga, bertopi fedora, pria renta itu berdiri di Bandara Sentani, Papua. Tongkat penopang dia lepaskan dari tangan, badannya membungkuk dan akhirnya tengkurap. Dia mencium tanah Papua, melunasi rindu yang menggebu.

Pria tua itu adalah Nicolaas Jouwe, dan peristiwa di Bandara Sentani pada 22 Maret 2009 itu sekaligus menghancurkan sumpah untuk tak kembali lagi ke Papua sejak dia pergi ke Belanda pada 1963 silam.

Dia adalah sosok paling penting di balik bendera kontroversial dari Bumi Cenderawasih, yakni Bendera Bintang Kejora, atau sering juga disebut sebagai Bendera Bintang Fajar (Morning Star Flag).

"Sayalah yang membuat Bendera Bintang kejora yang pertama kali dikibarkan pada 1 Desember 1961," kata Nicolaas dalam bukunya, 'Kembali ke Indonesia: Langkah, Pemikiran, dan Keinginan'.

Nicolaas lahir di Hollandia (saat ini Jayapura) pada 24 November 1924.

Garis tangan, begitulah istilah yang dia gunakan, membawanya menjadi tentara meski dia tak pernah ingin jadi tentara.

Garis tangan pula yang membawanya menjadi salah satu tokoh Papua di masa silam meski dia mengaku tak menginginkan sebutan itu.

Nicolaas adalah salah satu dari alumni sekolah pamong praja di Jayapura yang didirikan Residen Belanda, Jan Pieter Karel van Eechoud.

Sekolah itu didirikan van Eechoud pada 1944, termasuk juga sekolah polisi.

Atas jasanya mendidik orang Papua, van Eechoud dijuluki Bapak Orang Papua.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Papua
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved