Breaking News:

Mimbar Jumat

Niat, Awal yang Menentukan Akhir

"Setiap amal tergantung pada niatnya. Masing-masing individu akan mendapatkan (sesuatu berdasarkan) apa yang ia niatkan...

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/Istimewa
DR. Hj. Uswatun Hasanah, M.Ag. Sekretaris Program Dokror dan Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Raden Fatah. 

Balasan kebaikan ataupun kejahatan merupakan timbal- balik dari perbuatan individu.

Boleh jadi balasan yang diterima tidak sama dalam bentuk dan arah.

Sebagai contoh sedekah kepada Si A, balasannya tidak harus berbentuk sedekah dari si A pula.

Tidak lantas menjadi heran atau merasa tidak ikhlas ketika kebaikan tidak berbalas kebaikan dari orang yang sama.

Balasan bisa berupa sedekah dari orang lain atau dapat berupa banyak kemudahan dalam berbagai urusan.

Pastinya kejahatan akan tetap memberi mudharat bagi si pelaku baik di dunia maupun di akhirat, begitupun juga balasan dari perbuatan baik.

Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Firman Allah: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri… (Q.S. al-Isra: 7).

Nilai kebaikan dari amalan yang hanya ditujukan kepada Allah tidak akan ber-kurang hanya karena respon kurang baik dari penerima kebaikan.

Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin al-Akhnas berkata bahwa ayahnya Yazid pernah mengeluarkan beberapa dinar dengan niat sedekah kepada orang yang datang ke masjid.

Ayahnya meletakkan uang di bebrapa tempat di dalam masjid.

Kemudian saat datang ke masjid Ma’an menemukan dan mengambil uang tersebut, lalu ia menemui ayahnya menceritakan kalau ia telah menemukan uang di masjid dan mengambilnya.

Kemudian ayah Ma’an (Yazid) berkata, “Sedekah itu sebenarnya bukan kutujukan padamu.” Ma’an pun mengadukan masalah tersebut kepada Rasulullah.

Bersabda Rasul: “Yazid mendapatkan apa yang ia niatkan, sedangkan anaknya (Ma’an) boleh mengambil apa yang telah ia dapati (al-Bukhari,1422).

Riwayat tersebut menegaskan bahwa setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai apa yang ia niatkan meskipun orang yang menerima kebaikannya bukanlah orang yang tepat.

Eksistensi sebuah niat juga terlihat jelas pada amalan yang menjadi rutinitas se-hari-hari.

ilustrasi
Update 18 November 2021. (https://covid19.go.id/)

Niat yang dijaga dalam amal rutin akan menjadikan amalannya terus tercatat meskipun di suatu kesempatan terhalang untuk dilaksanakan.

Hal ini sebagaimana penjelasan Rasulullah SAW bahwa orang sakit atau sedang berpergian akan tetap dicatat pahala kebaikan untuknya seperti ketika ia (rutin melaksanakannya) dalam keadaan mukim atau ketika sehat.” (al-Bukhari, 2996).

Diriwayatkan pula dari Anas bahwa Rasul dalam suatu peperangan pernah berkata:

“Sesungguhnya ada beberapa orang di Madinah yang tidak ikut berperang disebabkan oleh sakit, namun hakikatnya mereka (dicatat) tetap bersama (berperang) melewati lereng dan lembah” (al-Bukhari, 2839).

Tidak hanya balasan kebaikan bagi niat yang mengiringi rutinitas meskipun pada kondisi berhalangan, niat yang kuat layaknya sebuah tekad akan membawa balasan kebaikan yang sama dengan perbuatan yang baik.

Dikisahkan dalam sebuah riwayat bahwa seorang yang memiliki harta kemudian berinfak, saat ada seorang fakir yang melihat sehingga berkeinginan untuk berinfak pula maka si fakir tercatat telah melakukan infak sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang berinfak (Muslim, 595).

Satu hal penting yang harus dipahami dan menjadi motivasi bagi semua makhluk bahwa Allah Maha Baik.

Selain Maha Baik Allah juga memiliki sifat Maha Mengetahui semua perbuatan hamba-Nya meskipun baru berupa niat di dalam hati.

Tidak satupun yang luput dari pengawasan Allah karenanya jangan pernah ber-pikir mau “menipu” atau “mempermainkan” Allah dalam perkara niat.

Jika niat mengarah pada kebaikan maka akan dicatat sebagai amal baik meskipun tidak terlaksana.

Jika niat baik tersebut dilaksanakan maka pahala akan ditambah menjadi sepuluh kali lipat.

Adapun keburukan tidak akan dihitung sebagai dosa selama belum terlaksana.

Tidak ada pelipat gandaan balasan bagi keburukan meskipun dilaksanakan, bahkan niat buruk yang ditinggalkan karena takut kepada Allah akan mendapat pahala.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved