Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Lanosin Hamzah tak Terpikir Jadi Bupati OKU Timur, Masa Kecil Asyik Ngebolang

Dengan menjadi seorang bupati, tentu saya memiliki kesempatan lebih banyak kesempatan untuk berbuat dan membangun kampung halaman.

Penulis: Odi Aria Saputra | Editor: Soegeng Haryadi
TANGKAPAN LAYAR
Bupati OKU Timur Lanosin Hamzah berpose foto bersama Kepala Newsroom Sripo - Tribun Sumsel, Weny Ramdiastuti di studio Graha Tribun, Kamis (21/8). 

TAK pernah terpikirkan sebelumnya dibenak soerang Lanosin Hamzah bahwa dimasa mendatang ia akan menjabat sebagai Bupati OKU Timur. Bagaimana tidak, sebagai anak desa ia dulunya gemar hidup di alam dan sudah tebiasa menjadi bocah petualang (Bolang). Dalam program Ngopi Sore (Ngobrol Pintar Sore-sore) yang dipandu Kepala Newsroom Sripo - Tribun Sumsel, L Weny Ramdiastuti, adik kandung Gubernur Sumsel Herman Deru ini menceritakan dirinya senantiasa menghindari godaan pelicin proyek. Berikut petikan wawancaranya.

*******

Sebelum menjabat sebagai Bupati, seperti apa masa lalu seorang Lanosin Hamzah?
Saya ini asli orang desa. Sejak kecil sampai dewasa hidup saya dihabiskan di Desa Sidumulyo Belitang OKU Timur.

Sebagai anak desa yang besar di wilayah lumbung pangan, semasa kecil kegiatan apa saja yang Anda lakukan?
Kalau berbicara menjadi seorang anak di daerah pertanian itu sangat bangga sekali. Sejak kecil itu saya sudah terbiasa ngebolang, mulai dari cari ikan di sungai, belut dan kegiatan alam lainnya jadi keseharian saya di desa. Dulu kan enak bermain di desa, penduduk juga belum begitu ramai.

Setiap orang sewaktu kecil tentu pernah berbuat nakal, bagaimana dengan Pak Bupati?
Tentunya kalau berantem pastilah pernah di masa anak-anak. Apalagi saya banyak saudara, kami ada 14 saudara. Dengan saudara saja tentu pernah selisih paham waktu kecil, ya kenakalan standar anak kecil pada umumnya lah.

Untuk latar belakang pendidikan apakah semuanya Anda habiskan di Belitang?
Dari SD sampai SMA saya habiskan di OKU Timur, barulah tahun 1995 saya kuliah di Unsri. Setelah itu saya bekerja di Palembang lalu kembali ke OKU Timur.

Sebagai putra daerah, apa yang membuat Anda tertarik menjadi seorang Bupati?
Saya cukup lama bekerja di Palembang, lalu saya bertekad untuk mengabdi di tanah kelahiran di OKU Timur. Dengan menjadi seorang bupati, tentu saya memiliki kesempatan lebih banyak kesempatan untuk berbuat dan membangun kampung halaman.

Sekarang Anda sebagai Bupati, gimana enak nggak sih Pak?
Tentu enak, karena dengan jabatan ini kesempatan saya untuk berbuat kebaikan semakin luas. Jika dulu hanya terbatas, sekarang semakin leluasa untuk menyebar kebaikan.

Selama menjabat apa program yang Anda tawarkan dan apakah semuanya sudah terelasasi?
Program unggulan saya adalah maju dan lebih mulia. Dimana untuk maju, kita terus menggenjot pembangunan infrastruktur, meningkatkan mutu pendidikan dan kemajuan lainnya untuk OKU Timur. Sementara, untuk lebih mulia tentu kita harus memperbaiki ahlaknya. Maka itu saya ada program santunan kematian, tali asih guru agama non formal, insentif penjaga makam dan pengurus jenazah.

Apakah semua program itu telah berjalan?
Alhamdulilah, semua janji sudah saya penuhi kepada masyarakat. Kenapa sekaligus? Itu saya laksanakan di tahun pertama ini untuk memberikan wujud nyata program ke masyarakat. Di tahun-tahun mendatang kita tingggal mengawasi saja sambil melakukan evaluasi.

Beberapa waktu lalu, ada Bupati Muba terkena OTT. Bagaimana Anda melihatnya?
Soal adanya OTT KPK, tentunya kita tidak ingin hal itu terjadi di Sumsel dan menjadi pelajaran untuk kepala daerah. Saya juga turut prihatin atas musibah yang menimpa Bupati Muba.

Sebagai seorang Bupati tentu banyak sekali godaan, bagaimana Anda menyikapinya?
Tingkat kepuasaan harta itu tidak melulu diukur dari materi. Dalam berbagai langkah yang saya ambil, saya selalu berusaha berjalan di jalan yang benar selalu mendekatkan diri dengan ulama dan umarah. Sebisa mungkin saya selalu menghindari jika ada yang akan memberi uang pelicin.

Sejak Anda menjabat adakah godaan mendekat?
Godaan itu pasti selalu ada, sekarang bagaimana pintar-pintar kita dalam menghindarinya. Jika spiritual kita kuat dan memiliki feeling kuat tentu kita bisa menghindarinya. (oca)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved