Breaking News:

Berita Palembang

Ada Catatan Aliran Dana, JPU Dalami Pemeriksaan Fee untuk Mukti Sulaiman & Ahmad Nasuhi

"Terkait fee masih akan terus kita dalami. Sidang ini masih panjang, tidak menutup kemungkinan mucul bukti-bukti baru,"

Editor: Yandi Triansyah
SRIPOKU.COM / Chairul Nisyah
Terdakwa Mukti Sulaiman dan Ahmad Nasuhi saat jalani persidangan di Pengadilan Tipikor Palembang, terkait dugaan korupsi dana hibah Masjid Raya Sriwijaya, Kamis (14/10/2021). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sidang kasus dugaan korupsi dana hibah pembangunan Masjid Raya Sriwijaya hingga saat ini terus berlangsung di Pengadilan Tipikor Palembang.

Sudah ada dua belas nama ditetapkan tersangka yang diduga terlibat dalam dugaan korupsi dana hibah dari Pemerintahan Provinsi Sumsel, sebesar Rp. 130 miliar.

Enam dari 12 tersangka saat ini sedang menjalanin proses persidanga.

Pada persidangan atas terdakwa Mukti Sulaiman dan Ahmad Nasuhi, dua terdakwa lainnya yakni Yudi Arminto dan Dwi Kridayani turut dimintai keterangnanya sebagai saksi di muka sidang.

Hingga saat ini beberapa fakta-fakta baru dipersidanganpun bermunculan.

Seperti yang dikonfirmasi pada JPU Kejati Sumsel, Roy Riyadi, mengatakan pihaknya saat ini akan mendalami keterlibatan dua terdakwa Mukti Sulaiman dan Ahmad Najib dalam perkara dugaan korupsi dana hibah pembangunan Masjid Raya Sriwijaya.

Untuk Sumsel I JPU Bongkar Catatan yang Ditemukan di Rumah Syarifuddin

"Terkait fee masih akan terus kita dalami. Sidang ini masih panjang, tidak menutup kemungkinan mucul bukti-bukti baru," ujar Roy Riyadi usai persidangan, Kamis (14/10/2021).

Roy juga mengakatan bahwasanya pihak JPU dalam perkara ini mendapat catatan dari pihak PT Brantas Abipraya, berupa catatan aliran-aliran dana.

"Catatan tersebut kita dapatkan di rumah terdakwa Syarifuddin," jelasnya.

Catatan tersebut berisi laporan pengeluran PT Brantas Abipraya, ke sejumlah rekening lainnya.

"Dari catatan tersebut dilihat berdasarkan mutasi rekening pusat dan rekening proyek itu sama," ujar JPU Roy Riyadi.

Diantaranya tercatat ada aliran dana sebesar Rp 2,5 miliar dan Rp 2,343 miliar untuk Sumsel 1.

"Termasuk ada juga aliran dana untuk sewa helikopter sebesar Rp. 300.000.000. Dan itu tercatat juga untuk Sumsel 1," ujar Roy.

Sementara itu, dalam persidangan terkait catatan-catatan tersebut, terdakwa Syarifuddin yang dimintai keterangannya pun membantah hal tersebut.

"Dicatatan tersebut juga ada tertulis bahwasanya ada dana untuk Syarifuddin ke Belanda. Tapi saksi terdakwa tadi menyangkal, kata Sayrifuddin ia berangkat ke Belanda tahun 2008," jelas Roy.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved