Breaking News:

KEMANA-Mana Diantar Pembantu, Curhatan Bocah 11 Tahun: Siapa Bilang Enak Jadi Anak Bupati

Anugrah Baskoro Sutopo (11) menulis sebuah buku tentang suka dukanya menjadi anak seorang bupati di usianya yang masih anak-anak.

Editor: Wiedarto
(KOMPAS.COM/MUHLIS AL ALAWI)
TUNJUKUN BUKU--Anugrah Baskoro Sutopo (11) menunjukkan sebuah buku yang ditulisnya tentang tidak selalu enak menjadi anak seorang bupati diusianya yang masih anak-anak. Anak semata wayang Bupati Wonogiri, Joko Sutopo itu menuangkan kegelisahan dan protes hidupnya dalam 14 tulisan pada sebuah buku berjudul Unboxing Me, Siapa Bilang Jadi Anak Bupati Selalu Enak ? Ceritaku Sebelum 12. 

SRIPOKU.COM, YOGYAKARTA--Anugrah Baskoro Sutopo (11) menulis sebuah buku tentang suka dukanya menjadi anak seorang bupati di usianya yang masih anak-anak. Anak semata wayang Bupati Wonogiri, Joko Sutopo (Jekek) itu menuangkan kegelisahan dan protes hidupnya dalam 14 tulisan pada sebuah buku berjudul Unboxing Me, Siapa Bilang Jadi Anak Bupati Selalu Enak ? Ceritaku Sebelum 12.

Buku yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama dilaunching pertama kalinya di Hotel Best Western Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (9/10/2021).

Kepada Kompas.com, Nugrah sapaan akrab Anugrah menyebut 14 tulisan yang dituangkan dalam satu buku itu merupakan fakta kehidupan yang dialami selama beberapa tahun saat ayahnya, Jekek disibukkan dengan kegiatan sebagai Bupati Wonogiri. “Jarang ketemu ayah. Dan ayah jarang ikut kalau liburan,” kata Nugrah yang ditemui usai launching buku perdananya.

Nugrah yang tinggal di Yogyakarta bersama ibunya (Verawati) merasakan makin jarang bertemu dengan sosok seorang bapak setelah ayahnya menjabat sebagai Bupati Wonogiri sejak 2016.

Padahal bagi Nugrah, sosok ayah menjadi hal sangat penting bagi hidupnya. Terlebih saat sekolah, banyak anak-anak seusianya diantar oleh kedua orangtuanya. Lantaran kedua orang tuanya disibukkan oleh kerja, bapaknya sebagai bupati dan ibunya sebagai PNS. Kondisi itu menjadikan Nugrah sering diantar oleh pembantu rumah tangganya.

Aneka peristiwa dan interaksi yang terjadi dalam kurun waktu lima tahun kemudian menjadi bahan Nugrah dalam tulisannya. Agar tidak lupa, Nugrah mencurahkan protesnya dalam bentuk tulisan yang disimpan didalam handphonenya.

Saat akan menulis cerita hidupnya sebagai anak bupati, Nugrah sempat diingatkan ibunya karena akan disangka buku itu hanyalah buatan orang lain, bukan hasil dari susah payahnya belajar menulis. Tak hanya itu, kehadiran buku ini bisa jadi disangka sebagai skenario pencitraan mengingat ayahnya adalah seorang bupati. “Enggak sih. Memang aku ingin nulis,” kata Nugrah.

Setelah berhasil menulis kegundahannya sebagai anak bupati dalam sebuah buku, Nugrah pun memilih ke depan tidak ingin menjadi seorang kepala daerah seperti bapaknya. “Saya suka menulis dan mendesain,” jelas Nugrah.

Nugrah berharap lewat dengan tulisan di bukunya itu dapat mengedukasi orang tua agar meluangkan waktu bagi anak-anaknya.

Ibunda Nugrah, Verawati menyebut anak semata wayangnya itu mulai ingin menulis setelah dirinya meluncurkan buku berjudul 'Membangun Keluarga 4W 5 Sempurna; Wareg, Waras, Wasis, Wanggon, Waskita' awal Mei 2019.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved