Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Cerita Fajar Abdurrhaman Usahanya Raih Emas di PON, Cedera Jangan Ditanya Itu Biasa

Kalau soal saingan, semua berat-berat, karena rata-rasa atlet daerah lain itu atlet nasional.

Editor: Soegeng Haryadi
SRIPO
Fajar Abdurrahman, atlet senam yang mempersembahkan emas untuk Sumsel di PON XX Papua. 

SETELAH sepekan terakhir hanya mendapatkan medali perunggu bagi kontingen Sumsel, Fajar Abdurrahman memecah kebuntuan dengan menyumbang medali emas cabor senam. Dalam perbincangan dengan wartawan Sripo, Rustam Imron, suami dari dari Ariska Nurrohma ini mengatakan ia rela latihan secara sembunyi-sembunyi di pusat latihan senam di Bandung, karena sebenarnya tak diizinkan atlet lain untuk latihan. Namun dia berhasil meluluhkan hati para atlet Jabar yang latihan dan tanpa sepengetahuan pelatih di sana.

*****

Fajar, usaha Anda berhasil dan kini meraih medali emas. Kata apa yang pertama di benak kamu atas semua itu?
Kata pertama saya syukur. Kalau ditanya perasaan pasti senang bercampur bangga, serta yang terutama bersyukur kepada Allah SWT. Karena usaha keras kita selama ini tak sia-sia dan membuahkan hasil. Rasa syukur dan terima kasih pada Tuhan itulah yang paling utama.

Dari semua atlet yang bertanding di nomor senam kamu ikuti, atlet daerah mana yang paling kamu waspada?
Kalau soal saingan, semua berat-berat, karena rata-rasa atlet daerah lain itu atlet nasional. Seperti atlet Lampung yang berlatih di Rusia. Lalu atlet Riau, yang sebelumnya peraih emas di PON Jabar. Rata-rata mereka atlet nasional, jadi semua merata bagus-bagus.

Selama jelang PON XX Papua, Fajar latihan di mana?
Totali saya latihan di Kota Bandung, karena kebetulan domisili saya di sana dan keluarga juga di sana, anak dan istri di Bandung. Sementara teman-teman atlet lainnya memang latihan di Palembang. Saya latihan di Bandung secara pribadi, karena memang tekad saya mau berprestasi.

Sebelum berangkat ke Papua, apa ada pesan khusus orangtua, baik ibu maupun Bapak?
Yang pasti pesan orangtua harus selalu tenang, karena olahraga senam ini yang kita lawan itu diri sendiri. Semakin dekat dengan yang di atas, maka kita rasanya semakin tenang. Makanya salah satu untuk tenang itu ya ibadah. Dan alhamdulillah saya berupaya tidak meninggalkan ibadah sholat lima waktu.

Sejak umur berapa Fajar menggeluti senam?
Saya mulai coba-coba ikut senam itu sejak tahun 1999, berarti saat itu umur saya sekitar enam tahun.

Kenapa pilih senam, kan banyak olahraga lain yang mungkin menarik?
Kalau kenapa kecemplung ke dunia olahraga, memang waktu itu taka ada bayangan sama sekali. Dulu kan pertama kali tahu senam itu dikenalkan oleh temannya ayah. Dikenali sama sama senam, awalnya tak tertarik, karena awalnya tak tahu gimana mana senam saya tidak tahu.
Ternyata saat di bawah ke tempat senam, saya mulai berfikir ni senam luar biasa, saat itu di SMP Negeri 4 Palembang. Namun saat itu saya masih kelas 1 SD.

Apakah orangtua memang senang olahraga senam?
Sebenarnya kalau orangtua tak begitu senang dengan olahraga. Tapi temannya ayah saya banyak guru olahraga, seperti Yosep Hidayat, yang sering saya panggil om Dayat.

Bagaimana dengan dukungan orangtua/orangtua?
Sejujurnya orangtua tak begitu memberikan kesempatan untuk terus ikut senam, karena mereka khawatir anaknya cidera, karena senam ini kan rawan cidera. Apalagi saat itu dia melihat banyak cidera yang saya alami. Tapi mereka tak melarang, sehingga saya tetap ikut senam. Alhamdulillah saya berhasil meyakinkan mereka, bahwa inilah pilihan saya dan ini akan menjadi bagian hidup saya, sehingga akhirnya mereka mendukung.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved