Breaking News:

Virus Corona

PREDIKSI Epidemiolog, Gelombang Ketiga Covid-19 Terjadi Jelang Pergantian Tahun 2021

Epidemiolog mengingatkan adanya ancaman gelombang ketiga Covid-19, meski sekarang kasus positif di Indonesia sudah menurun

Editor: Wiedarto
SRIPOKU.COM/ANTON
Ilustrasi virus corona (Covid-19). 

SRIPOKU.COM, JAKARTA--Epidemiolog mengingatkan adanya ancaman gelombang ketiga Covid-19, meski sekarang kasus positif di Indonesia sudah menurun dan keluar dari zona merah. Epidemiolog Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko mengatakan, meski kasus baru Covid-19 menurun, tetapi ancaman gelombang ketiga Covid-19 di tanah air masih tetap harus diwaspadai.

Belajar dari sebelumnya, Tri menjelaskan, beberap kali lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia justru terjadi setelah melewati libur panjang. Saat ini saja, berdasarkan pantauan Kementerian Kesehatan, tingkat mobilitas masyarakat saat ini sudah jauh meningkat dibandingkan masa Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada Juli atau masa PPKM level 4 pada awal Agustus.

Mobilitas di hampir semua provinsi menunjukkan peningkatan. Bahkan, tingkat mobilitas di beberapa daerah seperti Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, sudah melampaui level sebelum pandemi.

Terlebih lagi saat nanti menghadapi hari libur keagamaan serta mendekati libur tahun baru, mobilitas masyarakat diperkirakan akan semakin tinggi. Jika demikian, maka ancaman gelombang ketiga Covid-19 juga semakin besar jika capaian vaksinasi tidak sampai 50 persen pada Desember 2021.

"Prediksi Desember (2021) - Januari (2022) itu kemungkinan puncak gelombang ketiganya," kata Tri dalam keterangan tertulisnya melalui Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Jumat (24/9/2021).

Tri menambahkan, kalaupun capaian vaksinasi bisa samapai 50 persen, tetapi lonjakan kasus masih bisa tetap terjadi ketika mobilitas masyarakat jika tidak dibatasi di periode libur panjang akhir tahun ini. Dalam skenario tersebut, Tri menegaskan, prediksi lonjakan kasus atau puncak gelombang ketiga diperkirakan akan terjadi selambat-lambatnya pada Maret 2022.

Adapun, selain mobilitas yang tinggi, puncak gelombang ketiga nanti juga akan terjadi jika penelusuran kontak lambat dan pengawasan saat pasien Covid-19 isolasi mandiri lemah. Ketiga hal tersebut akan membuat terjadinya lebih banyak lagi mutasi virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19, dan dikhawatirkan beberapa varian yang dihasilkan justru akan membahayakan, mempercepat infeksi, memperparah kondisi pasien dan menyulitkan kesembuhan bagi pasien Covid-19. "Jadi ya memang bakal mengalami puncak lagi, kalau 3T lemah," ujarnya.

Sebagai informasi, 3T yang dimaksudkan adalah tracing (penelusuran atau kontak erat), testing (tes sampel orang kontak erat dengan pasien atau mengalami gejala serupa Covid-19) dan treatment (tata laksanan penanganan atau pengobatan pasien).

Dengan kemungkinan atau potensi terjadinya gelombang ketiga saat usai libur nasional ini, Tri meminta masyaraka untuk tetap patuhi protokol kesehatan. Jangan sampai kondisi yang sudah membaik dan jumlah kasus yang menurun, justru membuat lengah dan abai. Jika hal ini dilupakan, Tri menegaskan, maka risiko peningkatan kasus akan menjadi kenyataan.

"Pandemi belum usai, potensi lonjakan kasus masih bisa terjadi. Karenanya tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan," ucap dia.

Pasalnya, penurunan kasus tidak serta merta membuat Indonesia keluar dari bahaya penularan Covid-19. Sebab, jumlah kasus konfirmasi positif terinfeksi Covid-19 masih bertambah, dan jumlah angka kematian juga masih ada.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Epidemiolog: Puncak Gelombang Ketiga Covid-19 Mungkin Akhir Tahun 2021"
Penulis : Ellyvon Pranita
Editor : Gloria Setyvani Putri

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved