Breaking News:

DIBURU Eropa dan Arab Saudi, Ini Khasiat Pinang: Lebih Menguntungkan Ketimbang Sawit

Keuntungan lain dari menanam pinang, petani bisa melakukan sistem tumpang sari dengan menanam cabai, terong dan tomat.

Editor: Wiedarto
SRIPOKU.COM/SETIA BUDI
Warga Talang Bujang Gaya, Desa Kembang, Kecamatan Buay Pemaca, OKU Selatan saat membelah pinang untuk dikupas dan mengambil isinya, Kamis (17/9/2015). 

SRIPOKU.COM, JAMBI--Setelah ekspor kopi ke Eropa, Provinsi Jambi mengeskpor komoditas pinang ke Arab Saudi. Jambi baru bisa memenuhi kebutuhan pinang di Arab Saudi sebesar 18 ton. Padahal ceruk pasar di sana, membutuhkan pinang sebanyak 25 ton setiap bulan.

"Alhamdulilah. Setelah kopi, kita ekspor pinang ke Arab Saudi di tengah pandemi. Ini bisa membantu ekonomi masyarakat," kata Gubernur Jambi, Al Haris, seusai seremonial ekspor pinang perdana, Sabtu (25/9/2021).

Ia mengatakan pinang daerah Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, memiliki kualitas terbaik. Total luas perkebunan pinang di Jambi mencapai 22 ribu hektar. Dengan adanya ekspor 18 ton dengan nominal sekitar USD 3000 per ton, akan memacu para petani untuk memperluas perkebunan.

Kebutuhan Arab Saudi terhadap pinang sebanyak 25 ton per bulan. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Agusrizal menuturkan luas perkebunan pinang di Betara mencapai 12.000 hektar dan Tanjung Jabung Timur sekitar 10.000 hektar.

Kualitas pinang di Betara sangat tinggi, terbaik di Sumatera kata Agus, masa panennya hanya 3,5 tahun dengan hasil 3 kali lipat dibanding pinang tempat lainnya. Pinang Betara sekali panen bisa menghasilkan 2,8 ton per hektar.

Sedangkan pinang biasa hanya 800 kilogram. Untuk harga pinang mencapai Rp 30.000 per kilogram dengan kualitas kering dan bulat. "Setiap petani bisa menghasilkan Rp 84 juta per bulan dalam setiap satu hektar," kata Agus menjelaskan.

Keuntungan lain dari menanam pinang, petani bisa melakukan sistem tumpang sari dengan menanam cabai, terong dan tomat. Biaya perawatan pinang amat murah dibanding sawit yang membutuhkan pupuk.

"Pinang tidak perlu dipupuk dan lebih bernilai ekonomis," kata Agusrizal. Masa penen buah pinang, kata dia ada dua tahap, yakni panen raya terjadi dua kali dalam setahun dan setiap bulan bisa dipanen.

Berbeda dengan kelapa sawit, pinang sangat ramah lingkungan, karena bisa hidup di lahan gambut, tanpa perlu kanalisasi berlebihan. Pasar melirik pinang di Jambi, karena bahan baku terbaik dalam pembuatan kosmetik, minuman dan makanan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ekspor Pinang ke Arab Saudi, Petani Hasilkan Rp 84 Juta Setiap Bulan"
Penulis : Kontributor Jambi, Suwandi
Editor : Teuku Muhammad Valdy Arief

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved