Breaking News:

SEBULAN Dikuasai Taliban, Tak Ada Uang, Bank Terpaksa Tutup: Ekonomi Afghanistan di Ujung Tanduk

Teranyar, seluruh bank di Afghanistan kehabisan dolar, dan kemungkinan besar lembaga keuangan itu terpaksa tutup operasional.

Editor: Wiedarto
unsplash.com/Celyn Kang
ilustrasi uang dolar Amerika 

SRIPOKU.COM, KABUL--Sejak ibu kota Afghanistan, Kabul, direbut Taliban sebulan lalu, perekonomian di negara itu bergejolak. Teranyar, seluruh bank di Afghanistan kehabisan dolar, dan kemungkinan besar lembaga keuangan itu terpaksa tutup operasional.

Hal itu bisa diatasi jika pemerintah Taliban segera mengeluarkan dana, kata tiga orang yang mengetahui langsung masalah tersebut.

Tekanan uang tunai mengancam ekonomi negara yang sudah babak belur menjadi semakin buruk, yang sebagian besar bergantung pada ratusan juta dolar yang dikirim oleh Amerika Serikat ke bank sentral di Kabul yang menuju ke Afghanistan melalui bank.

Para bankir khawatir dolar yang lebih sedikit dapat meningkatkan biaya makanan atau listrik dan mempersulit pembelian impor, yang kemudian bisa menambah kesengsaraan bagi warga Afghanistan, seperti diwartakan Reuters, Rabu (15/9/2021).

Meskipun krisis uang tunai telah berlangsung berminggu-minggu, bank-bank negara itu dalam beberapa hari terakhir berulang kali menggarisbawahi kekhawatiran mereka kepada pemerintah baru dan bank sentral, kata dua orang tersebut.

Bank telah mengurangi layanan dan memberlakukan batas pembayaran mingguan 200 dolar di tengah kehabisan tabungan, dengan antrian panjang di luar cabang saat orang-orang mencoba mendapatkan dolar.

Kacaunya bank sentral, yang cadangan devisanya dibekukan setelah Taliban mengambil alih, juga dapat menghambat upaya komunitas internasional untuk mendukung rakyat Afghanistan.

Bank komersial telah mengajukan banding ke bank sentral dalam beberapa hari terakhir untuk membebaskan pasokan dolar AS.

Tetapi mereka belum mendapatkan jawaban atas permintaan mereka dan khawatir bahwa brankas pemerintah, di istana presiden dan kantor pusat bank sentral, sangat kosong sehingga mungkin tidak dalam posisi untuk membantu.

"Kami hanya memiliki likuiditas pembayaran beberapa hari saja," kata salah satu orang yang mengetahui langsung masalah tersebut. "Jika pemerintah tidak segera bereaksi, akan terjadi demonstrasi dan kekerasan."

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved