Breaking News:

Berita Muba

Pandemi Bikin Angka Perceraian di Muba Meningkat, Mayoritas Istri Ajukan Gugatan, Ini Alasannya

Kasus perceraian di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), nampaknya tahun ini mengalami peningkatkan yang cukup signifikan.

Penulis: Fajeri Ramadhoni | Editor: RM. Resha A.U
https://gerberkawasaki.com/
Ilustrasi perceraian. 

SEKAYU, SRIPO -- Kasus perceraian di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), nampaknya tahun ini mengalami peningkatkan yang cukup signifikan.

Terbukti memasuki bulan September 2021 kasus perceraian di Bumi Serasan Sekate, julukan Muba ini, tercatat sebanyak 760 kasus perceraian terdaftar di Pengadilan Agama Sekayu.

Ketua Pengadilan Agama Sekayu, Waluyo, S.Ag.,M.H.I, menyebutkan masa pandemi Covid-19 dalam setahun belakangan menambah satu lagi permasalahan sosial di masyarakat, salah satunya perceraian.

Pengadilan Agama Sekayu sendiri mencatat selama masa pandemi angka perceraian meningkat sebanyak 20 persen.

“Jumlah perkara sampai dengan hari ni ada 754. Untuk mendominasi perkara masuk masih berasal dari kecamatan sekayu yang lebih paling banyak dari kecamatan yang lainnya,”kata Waluyo.

Lanjutnya, dari 754  ditambah 6 untuk perkara tahun lalu jadi total 760 perkara yang diterima di tahun 2021.

“Masalah yang terjadi kebanyakan tidak ada kecocokan lagi dalam rumah tangganya dan yang paling mendasar adalah ekonomi,” ujanrya.

Disinggung meningkat atau tidaknha kasus perceraian pihakny belum bisa menyimpulkan biasanya akhir tahun.

“Belum bisa akhir tahun, namun kalai prediksi kemungkinan ada kenaikan sekitar 20% an,”ungkapnya.

Baca juga: Perceraian Meningkat di Banyuasin, Terdampak Pandemi Masalah Ekonomi Faktor Dominan Gugatan Cerai

Dari data tersebut, diketahui mayoritas dari perempuan atau pihak istri yang banyak mengajukan perceraian.

Karena yang bermasalah ini dari pihak suami karena dinilai tidak bertanggung jawab soal nafkah dan pihak istri merasa dirugikan.

"Imbauan kepada masyarakat kita terutama yang muslim sebelum mengajukan perceraian kami harapkan untuk meminta masukan atau nasihat kepada orangtua atau kepada alim ulama dan tokoh masyarakat untuk meminta masukan. Supaya nanti jangan sampai menyesal. Jadi kalau betul-betul kalau sudah memang tidak tahan lagi pertimbangannya damai, kalau memang sulit ya harus,"tutupnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved