Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Asesmen Nasional untuk Siswa Bukan Momok, Bukan Penentu Lulus atau Tidak

Berbeda dengan ujian nasional (UN), AN bukanlah momok dan tolok ukur siswa supaya bisa lulus.

Editor: Soegeng Haryadi
ISTIMEWA/HANDOUT
Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim 

MENDIKBUD-RISTEK Nadiem Makarim menegaskan asesmen nasional (AN) bakal menjadi pintu masuk perbaikan sistem pembelajaran Indonesia. Berbeda dengan ujian nasional (UN), AN bukanlah momok dan tolok ukur siswa supaya bisa lulus. Melainkan survei untuk mengukur mutu dari satuan pendidikan, mengetahui kelemahan dan kekuatannya untuk nantinya dibantu oleh pemerintah pusat dan daerah. Berikut petikan wawancaranya dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra dan News Manager Tribun Network Rachmat Hidayat, Kamis (9/9).

*****

Bulan September, kita akan melaksanakan AN. Bisa dijelaskan secara singkat apa yang ingin dituju dari AN?
AN ini untuk mengingatkan saja adalah hal pertama yang kita ganti tadinya itu UN. UN itu berdasarkan mata pelajaran dan berdasarkan penyerapan informasi. Jadinya cara yang paling cepat untuk dapat nilai UN yang tinggi semua orang semua orang tua sudah tahu jawabannya.

Bagaimana caranya udah mendapatkan angka UN yang lebih tinggi?Dengan bimbingan belajar. Anak-anak yang orang tuanya mampu membiayai untuk bimbel ya dia dapat nilai yang lebih tinggi, karena itu berbasis informasi, berbasis konten jadi kita bisa melakukan hafalan untuk UN.

Dulu ini berdampak kepada masa depan siswa, berdampak pada seleksi dia mau masuk sekolah mana, bahkan kepada kelulusan dan ini adalah mekanisme yang salah. Asesmen yang bersifat nasional harusnya bukan mengukur individu siswa.

Baca juga: Mas Menteri Nadiem Makarim Sulit Tidur Saat Pandemi, Berat Lihat Belajar dan Mengajar Terhenti

AN mengukur mutu dari sekolah atau satuan pendidikan. Bukan mengukur mutu untuk dimarahin sekolahnya, atau dipuji-puji sekolahnya.

Prioritas AN adalah untuk memberikan data, memberikan informasi kepada kepala sekolah dan guru-gurunya. Ini lho situasinya, di sini ada kekuatan, di sini ada kelemahan. Ini cara menghadapinya, ini harus difokuskan di sini.

Berbeda dengan UN, AN sama sekali berbeda dengan UN. AN terdiri dari tiga komponen. Pertama, asesmen kompetensi minimum, kedua survei karakter, ketiga adalah survei lingkungan belajar.

Ujung-ujungnya, murid dan gurunya semuanya akan disurvei. Dalam asesmen kompetensi minimum ada numerasi dan literasi. UN dulu ada informasi yang dites jadi ada bahan hafalan, sekarang nggak ada.

Tak perlu preparasi sama sekali karena pertanyaan-pertanyaan di bidang numerasi dan literasi itu menguji kemampuan bernalar, kemampuan menggunakan logika. Bukan matematika yang rumit tapi suatu kontekstual problem dimana kemampuan bernalar, kemampuan problem solving murid diuji. Kita maunya anak anak kita memiliki kemampuan bernalar bukan kemampuan menghafal yang kita inginkan.

Baca juga: Nadiem Makarim 2 Tahun jadi Mendikbud-Ristek, Belajar Menahan Frustrasi: Serasa 20 Tahun

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved