Breaking News:

Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dalam Meneladani Nabi Muhammad SAW Melalui Model Pakem

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM MENELADANI NABI MUHAMMAD SAW MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PAKEM

Editor: Welly Hadinata
IST
PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS III DI SDN 5 RAMBUTAN  

PTK (PENELITIAN TINDAKAN KELAS) 

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM MENELADANI NABI MUHAMMAD SAW MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PAKEM (Partisipatif, Aktif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan) PADA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS III DI SDN 5 RAMBUTAN 

Oleh : PERMAINI, S.Ag NIP. 197207142006042002 

PPG DALAM JABATAN ANGKATAN I TAHUN 2021 LPTK IAIN SULTAN AMAI GORONTALO

ABSTRAK

Rasulullah SAW adalah teladan bagi umatnya, beliau diutus membawa agama Islam. Islam sebagai Rahmatan lil Alamin atas permasalahan-permasalahan yang terjadi. Rasulullah SAW adalah manusia yang memiliki perilaku yang sangat terpuji, oleh karena itu sebagai umatnya sudah sepantasnya kita meneladani sikap terpuji beliau dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Tujuan penelitian tindakan kelas ini, untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa dalam meneladani Nabi Muhammad SAW melalui model pembelajaran PAKEM pada mata pelajaran agama islam di kelas III SDN 5 Rambutan. Peningkatan kemampuan pemahaman tentang kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW dapat dilihat dari beberapa indikator dan aspek pengamatan yang diterapkan dalam proses penelitian. Sebagai kompetensi Dasar, siswa mampu menunjukkan sikap percaya diri dan mandiri sebagai implementasi kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas dan teknik pengumpulan data
observasi dan tes hasil belajar. Nilai rata-rata dari siklus I – II dalam penelitian tindakan kelas ini dan
peningkatan prestasi belajar yang diperoleh dapat diartikan bahwa:
1. Minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran Pendidikan agama Islam sangat baik.
2. Siswa mendapat kemudahan dalam menyerap materi ajar Nabi Muhammad SAW Panutanku
karena alat peraga dan nyanyi yang terkait dengan materi.
3. Siswa mampu mempraktekkan sikap percaya diri dan mandiri terutama dalam lingkungan
sekolah.
4. Pembelajaran lebih efisien dan menyenangkan.

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Nabi Muhammad SAW, merupakan Nabi dan Rasul terakhir yang mencerminkan sosok manusia yang berkarakter. Beliau membawa misi risalahnya untuk seluruh umat manusia dan seluruh alam seperti firman Allah QS: AL-Anbiya ayat 107. “Tidaklah kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan menjadi Rahmat bagi seluruh Alam”.
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, Nabi Muhammad selalu percaya diri dan mandiri, karena beliau sejak kecil sudah menjadi yatim piatu. Sehingga beliau terbiasa mengerjakan dan mengambil keputusan sendiri dalam segala langkahnya. Beliau tidak pernah berkeluh kesah, ini menunjukkan bahwa beliau memiliki jiwa yang kuat dan penuh percaya diri.

Tidak mengherankan jika dalam Al-Qur’an beliau disebut manusia paling berakhlak. Seperti Firman Allah QS: Al-Ahzab ayat 21, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharapkan Rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dia banyak menyebut Allah”.

Seluruh perilaku Nabi Muhammad SAW adalah pencerminan dari nilai-nilai luhur dalam Al-Qur’an . Apa saja yang disampaikan beliau baik yang tercantum dalam AlQur’an dan As Sunnah tidak hanya berupa aturan-aturan abstrak, tetapi merupakan ajaran yang konkret yang harus diimplementasikan ke dalam perilaku sehari-hari.

Peserta didik adalah generasi awal yang harus memiliki karakter yang baik karena sangat mempengaruhi kehidupan yang akan datang. Akhlak dan perilaku peserta didik dipandang sebagai salah satu pencerminan keadaan moral bangsa ditengah-tengah zaman globalisasi seperti ini. Banyaknya pengaruh globalisasi saat ini yang masuk ke Indonesia, membuat banyak anak-anak kehilangan kepribadian diri dalam hal berkarakter, apalagi
penanaman dari lingkungan keluarga yang kurang, padahal Pendidikan yang mendasar
berawal dari lingkungan keluarga.

Sebagai muslim seharusnya mengikuti teladan Rasulullah SAW. Apalagi pada saat ini dimana segalanya tidak menentu yang mempengaruhi berbagai bidang kehidupan. Terlebih lagi dalam bidang pendidikan yang
dilaksanakan Daring ataupun Luring yang membuat anak-anak tidak maksimal dalam
mengeksplor kemampuan yang mereka miliki, sehingga berpengaruh terhadap kepercayaan diri dan kemandiriannya dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Tentunya
Ketika belajar tentang materi keteladanan Nabi Muhammad SAW terkait sikap percaya diri dan mandiri dapat. memotivasi peserta didik.

Di dalam silabus Pendidikan agama islam kelas III Sekolah Dasar, semester I diajarkan materi meneladani Nabi Muhammad SAW dalam kompetensi Dasarnya, inilah yang ingin penulis sampaikan pada peserta didik dengan memanfaatkan alat peraga supaya peserta didik termotivasi, dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari serta menjadi pribadi yang kuat sehingga dapat menjadi generasi penerus yang mempunyai
potensi dimasa yang akan datang

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dirumuskan masalah yang diangkat dalam PTK ini adalah “BAGAIMANA UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM MENELADANI NABI MUHAMMAD SAW MELALUI
MODEL PEMBELAJARAN PAKEM (Partisipatif, Aktif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan) PADA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS III DI SDN 5 RAMBUTAN”.

1.3 Analisis Masalah

Analisis masalah dari identifkasi tersebut adalah
• Peningkatan motivasi belajar siswa dalam meneladani Nabi Muhammad SAW. pada
pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas III di SDN 5 Rambutan.
• Hasil belajar yang dimaksud adalah hasil tes yang diperoleh setelah upaya
peningkatan motivasi belajar pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam

1.4 Rumusan Masalah

Apakah melalui Model Pembelajaran PAKEM (Partisipatif, Aktif, Kreatif, Efektif,
Menyenangkan) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam meneladani Nabi
Muhammad SAW. pada pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas III di SDN 5 Rambutan?

1.5 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pokok permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa dalam meneladani Nabi Muhammad
SAW. melalui Model Pembelajaran PAKEM (Partispatif, Aktif, Kreatif, Efektif,
Menyenangkan) pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas III di SDN 5
Rambutan.

1.6 Manfaat penelitian

Manfaat penelitian ini adalah
a. Bagi siswa
1. Meningkatkan kemampuan siswa dalam pelaksanaan tugas-tugas pembelajaran.
2. Meningkatkan kemampuannya dalam meneladani Nabi Muhammad SAW
b. Bagi guru
1. Untuk meningkatkan penguasaan hasil Pembelajaran.
2. Dapat membantu guru mengatasi masalah pembelajaran di dalam dan di luar
kelas.
3. Diharapkan dapat meningkatkan ketrampilan guru dalam proses belajar
mengajar.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1. Penelitian Tindakan Kelas (PTK )

a. Pengertian PTK

Penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas.
Penelitian ini merupakan salah satu upaya guru atau praktisi dalam bentuk berbagai
kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan mutu
pembelajaran di kelas. PTK dapat diartikan sebagai proses pengkajian masalah
pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan
masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam
situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut. Tujuan PTK
adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran serta membantu
memberdayakan guru dalam memecahkan masalah pembelajaran di sekolah.
Penelitian Tindakan Kelas adalah bentuk penelitian yang terjadi di dalam kelas
berupa tindakan tertentu yang dilakukan untuk memperbaiki proses belajar mengajar
guna meningkatkan hasil belajar yang lebih baik dari sebelumnya.
Prinsip Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Adapun 6 (enam) prinsip ptk agar berjalan dengan baik, diantaranya yaitu:
• Tugas pertama dan utama guru di sekolah adalah mengajar siswa sehingga
apapun metode penelitian tindakan kelas yang akan diterapkan tidak akan
mengganggu komitmen sebagai pengajar.
• Metode pengumpulan data yang di gunakan tidak menuntut waktu yang
berlebihan dari guru sehingga berpeluang mengganggu proses pembelajaran.
• Metodologi yang digunakan harus cukup reliable sehingga memungkinkan guru
mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara cukup meyakinkan,
mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya dan
memperoleh data yang dapat digunakan untuk menjawab hipotesis yang
dikemukakannya.
• Masalah penelitian yang diusahakan oleh guru seharusnya merupakan masalah
yang merisaukannya. Bertolak dari tanggung jawab profesionalnya, guru sendiri
memiliki komitmen yang diperlukan sebagai motivator intrinsik bagi guru
untuk bertahan dalam pelaksanaan kegiatan yang jelas-jelas menuntut lebih dari yang sebelumnya diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas pengajarnya.
• Dalam menyelenggarakan penelitian tindakan kelas, guru harus selalu bersikap
konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan
dengan pekerjaannya. Hal ini penting ditekankan karena selain melibatkan
anak-anak, penelitian tindakan kelas juga hadir dalam suatu konteks
organisasional sehingga penyelenggaraannya harus mengindahkan tata krama
kehidupan berorganisasi.
• Kelas merupakan cakupan tanggung jawab seorang guru, namun dalam
pelaksanaan penelitian tindakan kelas sejauh mungkin digunakan classroom
excedding perspektive, artinya permasalahan tidak dilihat terbatas dalam
konteks dalam kelas atau mata pelajaran tertentu,melainkan dalam perspektif
yang lebih luas ini akan berlebih-lebih lagi terasa urgensinya apabila dalam
suatu penelitian tindakan kelas terlibat dari seorang pelaku.

b. Langkah-langkah PTK

Penelitian tindakan kelas diawali dengan perencanaan tindakan (Planning),
penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil
tindakan (Observation and evaluation). Sedangkan prosedur kerja dalam penelitian
tindakan kelas terdiri atas empat komponen, yakni perencanaan (planning), pelaksanaan
(acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting), dan seterusnya hingga
perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai (kriteria keberhasilan).

Langkah-langkah penelitian tindakan kelas diantaranya :
1. Perencanaan (Planning), yaitu persiapan yang dilakukan untuk pelaksanaan
Penellitian Tindakan Kelas, seperti: menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
dan pembuatan media pembelajaran. Pelaksanaan Tindakan (Acting), yaitu
deskripsi tindakan yang akan dilakukan, skenario kerja tindakan perbaikan yang
akan dikerjakan serta prosedur tindakan yang akan diterapkan.
2. Observasi (Observe), yaitu kegiatan yang dilakukan untuk melihat pelaksanaan
semua rencana yang telah dibuat dengan baik, tidak ada penyimpanganpenyimpangan yang dapat memberikan hasil yang kurang maksimal dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Kegiatan observasi dapat dilakukan dengan cara memberikan lembar observasi atau dengan cara lain yang sesuai dengan data yang
dibutuhkan.
3. Refleksi (Reflecting), yaitu kegiatan evaluasi mengenai perubahan yang terjadi
atau hasil yang diperoleh atas yang terhimpun sebagai bentuk dampak tindakan
yang sudah dirancang. Berdasarkan langkah ini, maka akan diketahui perubahan
yang terjadi. Bagaimana dan sejauh mana tindakan yang ditetapkan mampu
mencapai perubahan atau mengatasi masalah secara signifikan. Bertolak dari
refleksi ini pula suatu perbaikan tindakan dalam bentuk replanning dapat
dilakukan.

2.2 Proses Pembelajaran
Pembelajaran mengandung arti dari makna belajar, pengajaran atau pembelajaran.
Belajar merujuk pada perubahan perilaku individu sebagai akibat dan proses pengalaman
baik yang dialami ataupun yang sengaja dirancang, sedangkan pengajaran atau
pembelajaran merujuk pada proses memberi suasana terjadinya perubahan perilaku yang
terikat tujuan. Secara umum proses belajar dapat dipahami secara konseptual dengan
menggunakan pendekatan behavior dan kognitif. (U. Saripudin W. 1991 : 7).

Para ahli telah mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
seseorang. Faktor-faktor yang mereka kemukan cukup beragam, tapi pada dasarnya dapat
dikategorikan ke dalam dua faktor, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa dan
faktor yang dating dari luar diri peserta didik atau faktor lingkungan.

Faktor yang dating dari diri siswa terutama kemampuan yang demikian yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping kemampuan, faktor lain yang juga mempunyai kontribusi terhadap hasil belajar seseorang oalah motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan
kebiasaan belajar, ketekunan, faktor fisik dan faktor psikis. Adanya pengaruh dari dalam
diri siswa merupakan hal yang logis jika dilihat bahwa perbuatan belajar adalah perubahan
tingkah laku individu yang disadarinya. Jadi, sejauh mana usaha siswa untuk mengkondisikan dirinya bagi perbuatan belajar, sejauh itu pula hasil belajar akan ia capai.

Meskipun demikian, hasil belajar yang dicapai oleh pelajar masih dipengaruhi oleh
faktor yang datang dari luar dirinya, yang disebut lingkungan. Salah satu lingkungan
belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar disekolah ialah kualitas
pengajaran yang dikelola oleh guru. Hasil belajar pada hakekatnya tersirat dalam tujuan pengajaran. Oleh sebab itu, hasil belajar disekolah dipengaruhi oleh kapasitas siswa dan
kualitas pengajaran (Tim Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam:2001)

2.3. Motivasi
Motivasi (Tim Dirjen Pembinaan kelembagaan Agama Islam:2001) ialah kekuatan
tersembunyi di dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk berkelakuan dan bertindak
dengan cara khas. Kadang-kadang kekuatan itu berpangkal pada naluri, kadang-kadang
pula berpangkal pada suatu keputusan rasional, tetap lebih sering hal itu merupakan
perpaduan kedua proses tersebut. Motivasi mempunyai banyak relevansi dengan tugas
guru yang selalu dihadapkan kepada pengambilan keputusan mengenai pengorganisasian
suatu tugas kegiatan belajar.
Kalau seseorang sudah memliki motivasi makai ada dalam ketegangan, da ia siap
mengerjakan hal-hal yang diperlukan dan dikehemdakinya, hal itu motivasi kerana
menyangkut pemenuhan seperangkat kebutuhan, yang oleh Maslow dikelasifikasikan
menurut kekuatan gaya pendorong atas lima kelompok :
1. Kebutuhan spikologis
2. Kebutuhan akan keamanan
3. Kebutuhan berkerabat
4. Kebutuhan akan penghargaan
5. Kebutuhan berusaha

Motivasi belajar artinya dorongan dari diri siswa untuk mencapai tujuan belajar,
misalnya pemahaman materi atau pengembangan belajar. Dengan adanya motivasi, siswa
akan senantiasa semangat untuk terus belajar tanpa ada paksaan dari pihak manapun.

Berdasarkan stratgi yang digunakan untuk mencapainya, klasifikasi kebutuhan
sebagaimana dikemukakan oleh maslow dapat dikelompokkan atas dua motivasi yaitu:

1. Motivasi intrinsik, mengacu pada fakotr-faktor dari dalam. Kebanyakkan teori
Pendidikan Modren mengambil motivasi intrinsik sebagai pendorong sebagai
aktifitas dlampengejaran dan dalam pemecahan masalah
2. Motivasi ekstrinsik, mengacu pada faktor-faktor dariluar dan diterapkan pada
peserta didik oleh guru atau orang lin. Motivasi ekstrinsik bisa berbemtuk
penghargaan, pujian, hukuman, atau celaan.

2.4 Model Pembelajaran PAKEM

PAKEM merupakan model pembelajaran dan menjadi pedoman dalam bertindak
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan pelaksanaan pembelajaran PAKEM,
diharapkan berkembangnya berbagai macam inovasi kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang partisipatif, aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Guru harus menyadari bahwa pembelajaran memiliki sifat yang sangat kompleks.
Artinya, pembelajaran tersebut harus menunjukkan kenyataan bahwa pembelajaran
berlangsung dalam suatu lingkungan Pendidikan dan guru pun harus mengerti bahwa
peserta didik pada umumnya memiliki taraf perkembangan yang berbeda-berbeda. Cara
memahami materi yang diajarkan berbeda-beda, ada yang menguasai materi lebih cepat
dengan ketrampilan motorik, ada yang menguasai materi lebih cepat dengan mendengar
dan ada juga yang menguasai materi lebih cepat dengan melihat atau membaca.
Dalam Model PAKEM, guru dituntut untuk dapat melakukan kegiatan
pembelajaran yang dapat melibatkan peserta didik melalui partisipatif, aktif, kreatif, efektif
dan menyenangkan yang pada akhirnya membuat peserta didik dapat menciptakan,
membuat karya, gagasan, pendapat, ide atas hasil penemuannya dan usahanya sendiri,
bukan dari guru.

Pembelajaran Partisipatif yaitu pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam
kegiatan pembelajaran secara optimal. Pembelajaran menitikberatkan pada keterlibatan
peserta didik pada kegiatan pembelajaran bukan pada dominasi guru dalam penyampaian
materi pelajaran.

Pembelajaran Aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang lebih banyak
melibatkan aktivits siswa dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk
dibahas dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga mereka mendapatkan berbagai
pengalaman yang dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensinya. Guru lebih banyak
memposisikan dirinya sebagai fasilitator, yang bertugas memberi kemudahan belajar
kepada siswa. Siswa terlibat secara aktif, sedangkan guru lebih banyak memberikan arahan
dan bimbingan.

Pembelajaran Kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru
untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreativitas siswa selama pembelajaran
berlangsung, dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang bervariasi.
Pembelajaran Efektif mampu memberikan pengalaman baru kepada siswa
membentuk kompetensi siswa, serta mengantarkan mereka ketujuan yang ingin dicapai
secara optimal.Pembelajaran efektif menuntut keterlibatan siswa secara aktif, karena mereka merupakan pusat kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi.

Pembelajaran menyenangkan merupakan suatu proses pembelajaran yang
didalamnya terdapat suatu keterikatan yang kuat antara guru dan siswa tanpa ada perasaan
terpaksa atau tertekan (Mulyasa,2006:194) Pembelajaran menyenangkan adalah adanya
pola hubungan yang baik antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran.

Terdapat empat aspek yang memepengaruhi model PAKEM, yaitu Pengalaman,
Komunikasi, Interaksi, dan Refleksi.
1. PENGALAMAN, di aspek pengalaman siswa diajarkan untuk dapat belajar mandiri.
Di dalamnya terdapat banyak cara untuk penerapannya, antara lain seperti pengamatan,
percobaan, penyelidikan dan wawancara. Di aspek pengalaman anak belajar banyak
melalui berbuat dan dengan melalui pengalaman langsung, dapat mengaktifkan banyak
panca indera yang dimiliki anak.
2. KOMUNIKASI, aspek komunikasi dapat dilakukan dengan beberapa bentuk, antara
lain mengemukakan pendapat, presentasi laporan dan memajangkan hasil kerja. Di
aspek ini ada hal-hal yang ingin didapatkan, misalnya anak dapat mengungkapkan
gagasan, dapat mengkonsolidasi fikirannya, mengeluarkan gagasannya dapat diketahui
oleh guru.
3. INTERAKSI, aspek interaksi dapat dilakukan dengan cara interaksi, tanya jawab, dan
saling melempar pertanyaan. Dengan hal-hal seperti itulah kesalahan maknayang
diperbuat oleh anak-anak berpeluang untuk terkoreksi dan makna yang terbangun
semakin mantap, sehingga dapat menyebabkan hasil belajar yang meningkat.
4. REFLEKSI, dalam aspek ini yang dilakukan adalah memikirkan Kembali apa yang
telah diperbuat/difikirkan oleh anak selama mereka belajar. Hal ini dilakukan supaya
terdapatnya perbaikan gagasan/makna yang telah dikeluarkan oleh anak dan agar
mereka tidak mengulangi kesalahan. Disini anak diharapkan juga dapat menciptakan
gagasan-gagasan baru.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Subjek Penelitian

Dalam penelitian tindakan kelas ini subjek yang diambil adalah siswa kelas III di SDN
5 Rambutan Kabupaten Banyuasin sumatera selatan yang berjumlah 15 peserta didik, yakni
8 orang laki-laki dan 7 orang perempuan.
3.2 Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Tempat penelitian tindakan kelas III di SDN 5 Rambutan, waktu pelaksanan PTK
diambil saat tahun pelajaran 2021/2022 pada semester ganjil.
3.3 Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian Tindakan ini akan dilaksanakan dalam dua siklus, tiap siklus
dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai seperti yang telah didesain dalam
faktor yang ingin diteliti. Observasi awal juga dilakukan untuk mengetahui tindakan yang
tepat yang akan diberikan dalam rangka memantapkan pemahaman siswa terhadap
pengetahuan materi ajar.
Prosedur penelitian Tindakan kelas untuk tiap siklus dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Persiapan Tindakan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah:
a. Menyususn rencana pelaksaan pembelajaran (RPP)
• Identitas mata pelajaran
• Kemampuan dasar
• Materi pembelajaran
• Strategi pembelajaran
• Media dan alat pembelajaran
• Penilaian
b. Melakukan pertemuan Bersama-sama antara observer dan yang akan diamati untuk
menentukan urutan kegiatan observasi dan menyamakan persepsi mengenai fokus
kriteria, atau kerangka piket interpretasi disamping Teknik observer yang akan
digunakan
c. Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar mengajar
dikelas, sesuai dengan materi yang akan disampaikan.
d. Merancang alat evaluasi untuk melihat apakah kemampuan siswa dalam peguasaan materi ajar Nabi Muhammad SAW Panutannku, alat evaluasi yang digunakan
adalah tes tertulis.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti melakukan Tindakan yang berupa intervensi terhadap
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang menjadi tugas sehari-hari, dengan demikian
setelah disepakati rancangan penelitian dicoba untuk dilaksanakan di dalam kelas karena
pada dasarnya tahapan ini adalah pelaksanaan rencana tindakan yang dikembangkan pada
tahap perencanaan. Akan tetapi walaupun peneliti telah merasa bahwa rencana tadi telah
begitu matang, pada pelaksanaannya tidak sesederhana seperti apa yang telah
direncanakan. Sebab, biasanya rencana itu belum dapat memberikan gambaran dan fikiran
yang dapat mengungkapkan keadaan yang sebenarnya, karena mungkin saja
perkembangannya berbeda dengan apa yang dibuat. Oleh sebab itu umpan balik merupakan
hal yang sangat berharga bagi peneliti untuk menjaga supaya rencana tindakan tidak terlalu
menyimpang jauh antara pengamatan dan hasil tindakan.
3.4 Data dan Cara Pengambilan Sampel
Data yang didapat dari pelaksanaan tindakan ini adalah data kuantitatif dan kualitatif
yang terdiri atas data proses belajar, hasil belajar, rencana pembelajaran dan hasil observasi
terhadap pelaksanaan pembelajaran dan jurnal. Analisa data, baik data kuantitatif maupun
data kualitatif dianalisis secara deskriptif dengan menampilkan hasil data dalam bentuk
tabel dan diagram. Dari hasil analisis dideskripsikan kemudian dibuat refleksinya dan
disimpulkan.
Cara pengambilan data adalah sebagai berikut :
a) Data mengenai proses pembelajaran diambil dengan menggunakan lembar
pengamatan yang dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung.
b) Data tentang pelaksanaan pembelajaran, diambil dengan menggunakan format
observasi.
3.5 Deskripsi Per Siklus
Kegiatan Perencanaan, Pelaksanaan, Pengamatan dan Reflesksi diulang sampai
terpenuhinya target yang telah ditetapkan dalam indikator kinerja, dan setiap tahapan
siklus berdasarkan atas masukan dari siklus sebelumnya (Fadilah:2017).

3.5.1 Siklus 1
Pada siklus 1 ini guru memberikan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga
berupa gambar atau poster.
3.5.2 Siklus 2
Berdasarkan hasil dari siklus 1 yang masih ada kekurangan dan masih dapat ditingkatkan
maka peneliti melaksanakan siklus ke 2. Siklus 2 dilaksanakan dengan memberikan alat
peraga berupa gambar atau poster yang lebih banyak dan lebih bervariasi.

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.1 Pelaksanaan Siklus I
Siklus I dilaksanakan pada tanggal 10 agustus 2021. Pada siklus ini
pembelajaran dengan menggunakan alat peraga berupa gambar atau poster pada materi
ajar Nabi Muhammad SAW. panutanku. Pembelajaran pada Siklus 1 diakhiri dengan
tes lisan.

Dari hasil tes siklus I diperoleh rata-rata kelas 62 hasil evaluasi siklus I
menunjukkan motivasi belajar peserta didik terhadap materi ajar Nabi Muhammad SAW.
panutanku secara umum rata-ratanya masih kurang dari nilai minimum pelajaran PAI yaitu
70.

4.2 Pelaksanaan Siklus II
Melihat hasil tes siklus I disertai saran-saran dari observer pada refleksi (umpan
balik). Pada siklus II dilaksanakan pada tanggal 19 Agustus 2021, peneliti melaksanakan
pembelajaran menggunakan alat peraga poster yang lebih banyak dan lebih bervariatif pada
materi ajar yang diberikan.
Dengan suasana yang berbeda serta didukung oleh penggunaan alat peraga poster
yang lebih banyak dan bervariatif sebagai bahan ajar visual yang menarik partisipatif serta
keaktifan siswa saat proses pembelajaran, terbukti banyaknya siswa yang ingin menjawab
pertanyaan-pertanyaan guru.

Dari hasil tes siklus II diperoleh rata-rata kelas 72,3 hasil evaluasi siklus II
menunjukkan motivasi belajar peserta didik terhadap materi ajar Nabi Muhammad SAW panutanku secara umum rata-ratanya sudah melampaui nilai KKM pelajaran PAI kelas III
yaitu 70, maka hasil evaluasi siklus II menunjukkan pemahaman siswa terhadap
pembelajaran Nabi Muhammad Panutanku mengalami peningkatan yang sangat berarti.

4.3 Diskusi Hasil Pembahasan
Berdasarkan dari pelaksanaan penelitian tindakaan kelas tentang penggunaan model
pembelajaran PAKEM pada materi Nabi Muhammad Panutannku di kelas III SDN 5
Rambutan. Pelaksanaan tindakan kelas yang dilakukan menunjukkan adanya peningkatan nilai ratarata hasil test/ hasil evaluasi di akhir masing-masing siklus.

Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran PAKEM dapat membantu
mengatasi kesulitan dalam pemahaman materi ajar. Sebagai tahapan lanjutan diharapkan
model pembelajaran PAKEM dapat menstimulasi daya imajinasi siswa dalam proses
pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian Tindakan kelas pada kelas III SDN 5 Rambutan tentang
penggunaan model pembelajaran PAKEM pada materi Nabi Muhammad SAW
Panutanku, menunjukkan adanya peningkatan . Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata
hasil belajar test pada masing-masing siklus, yaitu nilai rata-rata siklus I = 62 Siklus II =
72,3.
Pengaruh dari penggunaan model pembelajaran PAKEM dapat dirasakan sebagai
berikut:
1. Suasana belajar lebih menyenangkan
2. Peserta didik lebih aktif dan termotivasi dalam proses pembelajaran.

5.2 SARAN
Berdasarkan hasil dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini penulis ingin
menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada umumnya harus disampaikan
dengan metode serta model pembelajaran yang bervariasi, sehingga tidak
membosankan peserta didik.
2. Perlu adanya usaha guru dalam memotivasi peserta didik dalam pembelajaran,
sehingga pembelajaran dapat tercapai.

Daftar Pustaka
Fadilah, Nur.2017.Peningkatan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Melalui
Penerapan Card Sort Learning. IN Nadwa/ Jurnal Pendidikan Islam Vol. 11. UIN
Walisongo
https://id.wikipedia.org/wiki/Penelitian_tindakan_kelas diakses pada tanggal 23 juli 202
Saripudin,U, Winataputra, 1991, Perencanaan Pelajaran, Universitas Terbuka, Jakarta
Rusman, 2011, Model- Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru,
Rajawali Pers, Jakarta

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved