Adat, Modernisasi dan Pembangunan

Adat yang menjadi landasan hidup suatu masyarakat itu diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya melalui proses sosialisasi.

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/Istimewa
Albar S Subari SH, MH Ketua Pembina Adat Sumatera Selatan. 

SRIPOKU.COM - Adat yang menjadi landasan hidup suatu masyarakat itu diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya melalui proses sosialisasi.

Selama proses itu berjalan orangtua memberikan ajaran-ajaran menurut adat yang berlaku kepada anak-anaknya yang belum dewasa.

Dimana adat itu berlaku kuat, sedangkan pandangan hidup masyarakat terpusatkan pada dirinya sendiri.

Sebab, tidak ada atau hanya sedikit saja komunikasi dengan masyarakat lain.

Maka, adat dapat berkelanjutan dengan lestari tanpa mengalami perubahan yang berarti.

Bahkan dapat menjamin kelestarian adat itu diadakan upacara-upacara pada saat anggota masyarakat melalui saat saat yang penting di dalam hidupnya.

Misal pada waktu lahir, waktu menjadi dewasa, waktu nikah, waktu meninggal dan sebagainya.

Secara umum dan juga resmi oleh pemerintah, adat yang tidak bersifat nasional biasanya dikatakannya bersifat daerah.

Kalau istilah daerah kita artikan teritorial, maka dengan demikian dianggap sebagai sesuatu yang melekat pada daerah teritorial.

Padahal sebenarnya adat adalah milik suku, yaitu sekelompok manusia yang memiliki kebudayaan yang berbeda dari kebudayaan suku lainnya.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Sudah tentu setiap suku mempunyai tempat permukiman pokok yang ada di suatu daerah.

Akan tetapi adat tidak terlepas atau terkurung di dalam daerah (teritorial) itu saja.

Dapat terjadi, bahwa sejumlah warga suatu suku meninggalkan daerah pemukiman asalnya untuk merantau dan menetap di daerah lain.

Mereka itu tidak meninggalkan adatnya, tetapi membawanya ke tempat tinggal yang baru.

Dimana ada banyak warga suku suatu suku yang lainnya yang sama bermukim di kawasan baru tersebut.

Maka dapat dipastikan, bahwa mereka itu pada waktunya berkumpul untuk melakukan upacara adat seperti di daerah asalnya.

Di dalam suatu masyarakat yang berpegang kuat pada adat, biasanya terdapat berbagai pranata (institution) di mana adat diterapkan atau dipelihara.

Diantara pranata-pranata yang menerapkan adat dapat disebutkan misalnya pengadilan a-dat, pemerintahan adat, subak di Bali, sistem perkawinan, dan sebagainya.

Sebagai pranata yang memelihara adat, terdapat misalnya rumah adat dan keraton sultan, sunan atau raja lainnya.

Adanya pranata pranata yang masih berfungsi suatu suku atau masyarakat lainnya dapat diartikan sebagai bukti bahwa adatnya dianut kuat oleh masyarakatnya.

Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Pada waktu Indonesia berada di bawah jajahan Belanda, adat mendapatkan perhatian besar dari para sarjana Belanda di bidang ilmu kebudayaan.

Nama nama sarjana dimaksud antara lain van Vollenhoven dan ter Haar pantas disebut di sini oleh karena hasil studinya mengenai adat menjadi klasik sebagai pelopor dan landasan studi lanjutan nya.

Dengan studi itu dapat diungkapkan, bahwa adat di dalam banyak suku tidak sekedar menjadi pedoman tata hidup saja.

Akan tetapi, bahkan berlaku sebagai norma yang meskipun tidak tertulis, dikenal dan ditaati serta dirasakan mengandung keadilan oleh semua warga suku.

Bagi pemerintah hindia Belanda, adat mempunyai arti yang sangat penting.

Pemerintah Kolonialisme itu terkenal akan sistem pemerintahannya yang tidak langsung (indirect bestuur) yang mereka terapkan terhadap masyarakat Indonesia.

Mereka tidak punya cukup banyak tenaga Belanda dan tidak sanggup menyediakan anggaran belanja yang memadai untuk menjalankan pemerintahan yang langsung sampai rakyat yang paling bawah.

Untuk mengatasi hal itu emerintahan Hindia Belanda mengakui adanya kesatuan-kesatuan masyarakat adat yang berada di bawah pempinan pemerintahan sendiri.

Pengakuan dan apabila perlu juga perlindungan itu diberikan oleh pihak Belanda, asal saja kepala pemerintahan adat atas nama masyarakatnya sanggup menandatangani surat pernyataan setia kepada Gubernur Jenderal Belanda atau Raja Nederland.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel TikTok Sriwijayapost di bawah ini:

Logo TikTok Sripoku.com

Modernisasi yang kita maksud adalah suatu proses yang tidak bisa dipisahkan dari pem-bangunan.

Modernisasi berasal dari kata " modern", yang berarti " gaya baru".

Jadi modernisasi berarti pergantian dari gaya lama menjadi gaya baru.

Didalam proses ini terjadi perubahan, khusus nya perubahan yang diusahakan dengan sadar oleh manusia atau masyarakat.

Oleh karena itu diusahakan dengan keinginan, maka sudah semestinya modernisasi tidak hanya mengarah kepada gaya baru.

Akan tetapi gaya baru itu diharapkan lebih menyenangkan dan lebih memuaskan manusia dan masyarakat dari pada gaya lama yang digantikan

Pengertian pembangunan sebenarnya mempunyai arti yang senada dengan modernisasi.

Pembangunan juga menghendaki agar suatu keadaan yang sedang dialami oleh manusia dan masyarakat diubah, sehingga menjadi lebih menguntungkan bagi pihak yang mem-bangun.

Mungkin bedanya antara modernisasi dan pembangunan terletak pada titik berat yang diberikan pada proses perubahan itu.

Dalam modernisasi yang dipentingkan adalah sifat baru dari gaya yang menggantikan gaya lama.

Kalaupun gaya yang baru itu sekaligus menyenangkan atau memuaskan, hal itu dipandang sebagai akibat yang diterima dalam gagasan manusia atau masyarakat saja.

Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Makna modernisasi adalah terutama dalam bidang perasaan, dan tidak atau hanya sedikit terkait dalam bidang fungsionalitas gaya yang baru.

Di dalam pembangunan, yang diutamakan adalah fungsi nyata dari suatu alat atau sistem yang melayani keperluan hidup manusia atau masyarakat.

Misalnya kenaikan produktivitas, penyempurna kualitas, penurunan biaya produksi, penurunan harga jual barang atau jasa, peningkatan efektivitas alat atau mesin, dan sebagai nya.

Seandainya penyempurna fungsi nyata itu sekaligus menambah fungsi sosial (gengsi), maka hal itu diterima sebagai bonus saja.

Selama masyarakat masih berpegang kuat pada adat di dalam kehidupan nya, setiap usaha pembangunan diterima dengan rasa kurang rela oleh orang banyak karena usaha itu meng-ubah.

Atau setidak tidaknya menyimpang dari adat, karena itu mengganggu keserasian hidup mereka.

Karena kadang kadang menyangkut pula dengan keyakinan itu sangat dihindari.

Di antara dua kutub budaya yang sepenuhnya berpegang pada adat dan yang sepenuhnya bersifat modern masih perlu dilakukan komunikasi komunikasi yang berkesinambungan dilakukan.

Contoh yang nyata mengenai kesenjangan budaya adat dengan proyek pembangunan modern dalam perjalanan Undang Undang Nomor 5.tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa.

Menurut Undang undang itu pemerintahan desa di seluruh Indonesia harus dibentuk se-cara seragam.

ilustrasi
Update 29 Agustus 2021. (https://covid19.go.id/)

Pemerintahan desa yang diatur oleh Undang undang itu lepas dari adat.

Meskipun tidak disebut dengan kata kata tegas dalam UU, pola yang hendak disebar ada-lah pola teritorial yang berlaku di Jawa.

Tetapi di luar Jawa, di mana banyak komunitas di luar kota mempunyai pola pemerintahan setempat yang bersifat geneologis (mengikuti pola keturunan seperti marga, soa, fam) dan kaitan dengan adat setempat masih tampak jelas.

Menurut undang undang ini.

Dari pengalaman seperti yang diuraikan di atas timbul pertanyaan : apakah modernisasi dalam pembangunan selalu bertentangan dengan adat?.

Jawabnya tidak selalu.

Apabila di suatu masyarakat ada suatu pranata yang masih berfungsi dan diatur dengan adat.

Maka masyarakat secara terbuka atau secara diam-diam akan menolak pranata baru yang diharuskan kepadanya untuk menggantikan pranata lama.

Hanya kalau ternyata pranata yang baru itu lebih bermanfaat dan lebih memuaskan bagi sebagian besar dari masyarakat itu, maka setahap demi setahap masyarakat menerima nya.

Akan tetapi kalau sebaliknya, maka biasanya pranata baru itu akan mendapatkan perlawanan .

Ada kalanya juga pranata baru diterima oleh masyarakat karena dapat dihubungkan de-ngan suatu pranata lama dengan cara menguntungkan orang banyak.

Misal saja didirikan sebuah pabrik baru di daerah pedesaan yang pada pokoknya hidup dari pertanian, dapat diterima baik oleh masyarakat karena membawa kesempatan bekerja baru di samping bertani.

Namun selama mata pencarian yang utama dalam masyarakat itu masih hidup, kehadiran pabrik baru itu tidak boleh merugikan kepentingan mereka.

Di dalam masyarakat Indonesia dewasa ini ada golongan golongan yang tata hidupnya se-penuhnya atau sebagian diwarnai oleh adat.

Di samping itu ada juga golongan golongan yang hampir sepenuhnya telah melepaskan diri dari dominasi adat, dan selanjutnya hidup secara modern.

Tendensinya adalah bahwa adat setapak demi setapak melemah untuk diganti dengan tata hidup modern.

Proses modernisasi ini diperkuat atau dipercepat mengikuti laju pembangunan yang makin lama makin meluas dan makin mendalam berakar dalam kebudayaan masyarakat. (Albar S Subari SH MH. / Ketua Pembina Adat Sumatera Selatan)

Albar S Subari SH, MH
Ketua Koordinator JPM Sriwijaya Sumsel
Albar S Subari SH, MH - Ketua Koordinator JPM Sriwijaya Sumsel (SRIPOKU.COM/Istimewa)
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved