Breaking News:

Virus Corona

Pengamat : Penurunan Tarif Tes PCR tak Pengaruhi Sektor Transportasi Udara

Pengamat transportasi Djoko Setidjowarno, menilai penurunan tarif maksimal tes PCR yakni Rp 450 Ribu hingga Rp 550 ribu,

Penulis: Rahmaliyah | Editor: Yandi Triansyah
handout
Pengamat transportasi Djoko Setidjowarno 

Penurunan Tarif Tes PCR Tak Pengaruhi Sektor Transportasi Udara

Laporan Wartawan Sripoku. com, Rahmaliyah

SRIPOKU. COM, PALEMBANG - Pengamat transportasi Djoko Setidjowarno, menilai penurunan tarif maksimal tes PCR yakni Rp 450 Ribu hingga Rp 550 ribu, tak begitu memberikan efek bagi sektor transportasi udara. 

Dikarenakan 54 persen penumpang umum berdasarkan data sebelum pandemi, yang menggunakan jasa transportasi udara mayoritas untuk kepentingan pekerjaan atau perjalanan bisnis yang notabennya bukan keluar dari biaya pribadi.

"Artinya banyak yang dibiayai, sedangkan sekarang baik APBN dan APBD Atau BUMN anggaran itu (perjalanan dinas) sudah berkurang.

Belum lagi nominal uang perjalanan juga sudah diatur. Kalau dulu dalam sehari biaya perjalanan dinas ada yang sampai Rp 3 juta-Rp 5 juta per hari sekarang diseragamkan oleh Pak Jokowi Rp 370 ribu untuk satu hari, " Jelasnya, Rabu (18/8/2021). 

Dikatakan Djoko, hal inilah yang membuat kondisi perjalanan udara sepi. Kalaupun ada itupun kepala daerah dengan kepentingan yang mendesak.

"Makanya, untuk mereka yang di daerah lebih memilih Virtual. Selain praktis dan tak keluar uang banyak. Ya, Loyo lah kalau ke Jakarta yang biasanya rapat 1-2 jam kelar, " ujarnya. 

Akan tetapi, sisi baiknya dengan penurunan tarif ini bisa menjadi angin segar untuk mendorong pemilihan pariwisata di Indonesia.

Karena, masyarakat lebih menggunakan jasa transportasi udara untuk berlibur atau perjalanan jauh. 

"Setidaknya ini bisa kembali memulihkan sektor pariwisata kita yang memang terdampak sejak pandemi, " Katanya

Sejak pandemi, bukan sektor transportasi udara saja yang mengalami dampak penurunan jumlah penumpang. Angkutan darat seperti bus-bus antar kota juga ikut merasakan. 

"Kalau udara kan ada subsidi angkutan penumpang, sedangkan untuk darat tidak. Sampai saat ini saya masih prihatin. Apalagi sekarang makin marak angkutan plat hitam yang dari investigasi saya banyak menawarkan penumpang tak perlu tes COVID-19, " Katanya 

Djoko berharap, pemerintah bisa memberikan subsidi bagi angkutan antar kota/kabupaten dan menata kembali sesuai aturan untuk angkutan-angkutan plat hitam yang semakin menjamur dan membuat jasa transportasi resmi minim peminat

"Kalau setelah diingatkan/ditata juga tidak mau barulah dijalankan aturan sesuai hukum yang berlaku, " Tutupnya. (Yak) 

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved