Breaking News:

Liputan Khusus

Marak Cetak Sertifikat Vaksin Seukuran ATM, Jadi Praktis Tapi Waspada Data Sensitif Dicuri

Ramai menyusul viralnya pemberitaan wajibnya membawa kartu vaksin sebagai bukti jika telah melaksanakan vaksinasi Covid-19.

Editor: Soegeng Haryadi
SRIPO/SYAHRUL HIDAYAT
Warga mencatat dan merekam nama dan nomor WA yang menerima jasa cetak kartu vaksin pada spanduk yang dipasang di pagar Puskesmas, Sabtu (14/8). Rencana kebijakan memperlihatkan kartu vaksin untuk masuk mal membuat banyak warga berusaha mencetak secara fisik sertifikat vaksin dalam bentuk kartu seukuran KTP atau ATM. 

PALEMBANG, SRIPO -- Munculnya kebijakan untuk membawa bukti vaksinasi berupa sertifikat vaksin bila ingin ke mal atau tempat publik lainnya memberikan efek pada percetakan.

Belakangan banyak warga yang sudah divaksin mencetak sertifikat vaksin seukuran KTP atau ATM yang bisa dibawa kemana-mana dan tak perlu repot-repot membuka ponsel untuk memperlihatkan sertifikat vaksin digital.

Yudi, pemilik usaha jasa cetak foto di Lubuklinggau mengaku sudah banyak menerima pesanan untuk mencetak sertifikat vaksin seukuran Kartu Tanda Penduduk (KTP). Menurutnya pesanan sudah terjadi sejak awal program vaksinasi kepada warga masyarakat.

"Sejak awal vaksin sudah ada pemesanan, tapi paling ramai semenjak dua minggu terakhir," kata Yudi saat ditemui tempat percetakannya Jl Fatmawati RT 03 Kelurahan Mesat Seni Kecamatan Lubuklinggau Timur II, Jumat (13/8) lalu.

"Kalau untuk ukuran rata-rata seperti KTP, ATM jadi praktis, bisa dimasukkan ke dompet," ujar katanya.

Ia mengatakan, warga yang mencetak kartu vaksin bukan saja dari Kota Lubuklinggau, tetapi banyak juga berasal dari Kabupaten Musirawas, Musirawas Utara dan Kabupaten Empatlawang. Dalam sehari menerima order sedikitnya 30 pesanan, bahkan pernah mencapai 50 pesanan.

"Ramai menyusul viralnya pemberitaan wajibnya membawa kartu vaksin sebagai bukti jika telah melaksanakan vaksinasi Covid-19. Apalagi sekarang naik kereta katanya wajib kartu vaksin juga," ujarnya

Soal harga, Yudi mengaku tak mematok harga tinggi. Untuk perorangan hanya dikenakan Rp 15 ribu per kartu, sementara bila secara kolektif di atas lima orang hanya dikenakan Rp 10 ribu per kartu.

Terkait masalah data-data dalam sertifikat seperti tanggal lahir, Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan QR code, Yudi mengaku sudah mengantisipasi dan menjamin agar tak disalahgunakan. Ia langsung menghapus data-data milik orang yang mencetak kartu vaksin.

"Untuk masalah data saya jamin kerahasiaannya, apabila sudah dicetak langsung kami hapus, karena khawatir nanti ada yang menyalahgunakannya. Jadi selesai (cetak) langsung kami hapus," katanya.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved