Berita Religi
Kelak Akan Dibangunkan Rumah di Surga, Inilah Keutamaan Membaca Surat Ad-Dukhan Pada Hari Jumat
Selain Surat Al-Kahfi, inilah keutamaan surat Ad-Dukhan yang sunnah dibaca di malam atau hari Jumat.
Penulis: Tria Agustina | Editor: Welly Hadinata
SRIPOKU.COM - Surat apa sih yang sunnah dibaca di malam Jumat selain surat Al-Kahfi? Ternyata inilah surat yang bisa diamalkan bahkan memiliki banyak keutamaan.
Surat Ad-Dukhan merupakan surat urutan ke 44 yang berisi 59 ayat dan tergolong surat Makkiyah karena diturunkan di Mekkah.
Surah yang mempunyai arti asap ini berisi tentang ancaman kaum musyrikin di masa lalu dengan tanah yang tandus membuat mereka kelaparan.
Sehingga seakan-akan seperti ruang terbuka dan terlihat asap keluar.
Jadi, selain surat Al-Kahfi, ada pula surat yang bisa dibaca di malam Jumat atau di hari Jumat yakni surat Ad-Dukhan.
"Selain surah Al-Kahfi ada juga surah Ad-Dukhan. Surat Ad-Dukhan itu ada di juz 25 dan ada di halaman 496 kalau teman-teman menggunakan Alquran hafalan atau per halaman," terang Ustaz Syam.
"Surat Ad-Dukhan sebagai salah satu sunnah di hari Jumat Insya Allah," tambahnya.
Baca juga: Perbanyak Baca Surat Ini Setelah Sholat Subuh, Niscaya Rezeki, Ampunan dan Hajat Dikabulkan Allah
Ustaz Syam pun menjelaskan keutamaan surat Ad-Dukhan yang sunnah dibaca di malam atau hari Jumat.
Salah satu daripada keutamaan surat Ad-Dukhan itu disebutkan bahwasanya ada 13 keutamaan, berikut 5 di antaranya.
Pertama, dari Abi Rofi' ia berkata tentang membaca surat Ad-Dukhan, siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam jumat, maka pada waktu subuh ia telah diampuni dosanya dan dinikahkan dengan salah satu bidadari-bidadari yang bermata indah. (HR. Ad-Daraimi)
Kedua, tujuh puluh ribu malaikat memintakan ampunan bagi yang membaca Surah Ad-Dukhan. Sebagaimana hadits Nabi menerangkan, dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang membaca Hamim Ad-Dukhon di malam hari, maka di pagi harinya tujuh puluh ribu malaikat memintakan ampun untuknya.” (HR. At-Tirmidzi)
Ketiga, dibangunkan rumah di surga. Dari Abu Umamah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Siapa yang membaca Hamim Ad-Dukhan di malam jum’at atau di hari jum’at, maka Allah akan membangunkannya rumah di surga.” (HR. At-Thabrani)
Keempat, membaca Surah Ad-Dukhan dapat membawa seseorang terlihat semakin bercahaya dan penuh wibawa. Kondisi ini dapat membuat seseorang menjadi lebih dihormati dan disegani oleh setiap kalangan sekitarnya. Dalam sebuah hadits disebutkan,
“Tergolong orang-orang yang hebat dalam membaca Surah Ad-Dukhan akan selalu ditemani para malaikat pencatat yang paling dimuliakan dan taat kepada Allah SWT, dan adapun orang yang terbata-bata membaca Surah Ad-Dukhon lalu bersusah payah untuk mempelajarinya maka dia akan mendapatkan dua kali pahala” (HR. Bukhari).
Kelima, malam yang dimaksud dalam firman Allah SWT. Seperti halnya Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirannya berkaitan dengan QS. Ad-Dukhan [44]: 3-4 bahwa ahli tafsir berbeda pendapat tentang malam ini. Sebagian berkata malam yang dimaksud itu adalah Lailatul Qodar. Qatadah berkata bahwa itu adalah Lailatul Qadar. Sedangkan ulama’ lainnya berpendapat bahwa malam itu adalah malam Nisfhu Sya’ban. Lalu at-Thabari berkata, “ Yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar, karena Allah ta’ala mengabarkan bahwa Lailatul Qadar seperti demikian.” (Tafsir Ath-Thabari Juz 11, hlm. 221)
Bacaan Surat Ad-Dukhan
حمٓ
ḥā mīm
1. Haa miim.
وَٱلْكِتَٰبِ ٱلْمُبِينِ
wal-kitābil-mubīn
2. Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan,
إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ
innā anzalnāhu fī lailatim mubārakatin innā kunnā munżirīn
3. sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
fīhā yufraqu kullu amrin ḥakīm
4. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,
أَمْرًا مِّنْ عِندِنَآ ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ
amram min ‘indinā, innā kunnā mursilīn
5. (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul,
رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
raḥmatam mir rabbik, innahụ huwas-samī’ul-‘alīm
6. sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,
رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَآ ۖ إِن كُنتُم مُّوقِنِينَ
rabbis-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, ing kuntum mụqinīn
7. Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini.
لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْىِۦ وَيُمِيتُ ۖ رَبُّكُمْ وَرَبُّ ءَابَآئِكُمُ ٱلْأَوَّلِينَ
lā ilāha illā huwa yuḥyī wa yumīt, rabbukum wa rabbu ābā`ikumul-awwalīn
8. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu.
بَلْ هُمْ فِى شَكٍّ يَلْعَبُونَ
bal hum fī syakkiy yal’abụn
9. Tetapi mereka bermain-main dalam keragu-raguan.
فَٱرْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِى ٱلسَّمَآءُ بِدُخَانٍ مُّبِينٍ
fartaqib yauma ta`tis-samā`u bidukhānim mubīn
10. Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata,
يَغْشَى ٱلنَّاسَ ۖ هَٰذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ
yagsyan-nās, hāżā ‘ażābun alīm
11. yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.
رَّبَّنَا ٱكْشِفْ عَنَّا ٱلْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُونَ
rabbanaksyif ‘annal-‘ażāba innā mu`minụn
12. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, lenyapkanlah dari kami azab itu. Sesungguhnya kami akan beriman”.
أَنَّىٰ لَهُمُ ٱلذِّكْرَىٰ وَقَدْ جَآءَهُمْ رَسُولٌ مُّبِينٌ
annā lahumuż-żikrā wa qad jā`ahum rasụlum mubīn
13. Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan,
ثُمَّ تَوَلَّوْا۟ عَنْهُ وَقَالُوا۟ مُعَلَّمٌ مَّجْنُونٌ
ṡumma tawallau ‘an-hu wa qālụ mu’allamum majnụn
14. kemudian mereka berpaling daripadanya dan berkata: “Dia adalah seorang yang menerima ajaran (dari orang lain) lagi pula seorang yang gila”.
إِنَّا كَاشِفُوا۟ ٱلْعَذَابِ قَلِيلًا ۚ إِنَّكُمْ عَآئِدُونَ
innā kāsyiful-‘ażābi qalīlan innakum ‘ā`idụn
15. Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar).
يَوْمَ نَبْطِشُ ٱلْبَطْشَةَ ٱلْكُبْرَىٰٓ إِنَّا مُنتَقِمُونَ
yauma nabṭisyul-baṭsyatal-kubrā, innā muntaqimụn
16. (Ingatlah) hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan.
۞ وَلَقَدْ فَتَنَّا قَبْلَهُمْ قَوْمَ فِرْعَوْنَ وَجَآءَهُمْ رَسُولٌ كَرِيمٌ
wa laqad fatannā qablahum qauma fir’auna wa jā`ahum rasụlung karīm
17. Sesungguhnya sebelum mereka telah Kami uji kaum Fir’aun dan telah datang kepada mereka seorang rasul yang mulia,
أَنْ أَدُّوٓا۟ إِلَىَّ عِبَادَ ٱللَّهِ ۖ إِنِّى لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ an addū ilayya ‘ibādallāh, innī lakum rasụlun amīn
18. (dengan berkata): “Serahkanlah kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israil yang kamu perbudak). Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dipercaya kepadamu,
وَأَن لَّا تَعْلُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ ۖ إِنِّىٓ ءَاتِيكُم بِسُلْطَٰنٍ مُّبِينٍ
wa al lā ta’lụ ‘alallāh, innī ātīkum bisulṭānim mubīn
19. dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata.
وَإِنِّى عُذْتُ بِرَبِّى وَرَبِّكُمْ أَن تَرْجُمُونِ
wa innī ‘użtu birabbī wa rabbikum an tarjumụn
20. Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu, dari keinginanmu merajamku,
وَإِن لَّمْ تُؤْمِنُوا۟ لِى فَٱعْتَزِلُونِ
wa il lam tu`minụ lī fa’tazilụn
21. dan jika kamu tidak beriman kepadaku maka biarkanlah aku (memimpin Bani Israil)”.
فَدَعَا رَبَّهُۥٓ أَنَّ هَٰٓؤُلَآءِ قَوْمٌ مُّجْرِمُونَ
fa da’ā rabbahū anna hā`ulā`i qaumum mujrimụn
22. Kemudian Musa berdoa kepada Tuhannya: “Sesungguhnya mereka ini adalah kaum yang berdosa (segerakanlah azab kepada mereka)”.
فَأَسْرِ بِعِبَادِى لَيْلًا إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ
fa asri bi’ibādī lailan innakum muttaba’ụn
23. (Allah berfirman): “Maka berjalanlah kamu dengan membawa hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar,
وَٱتْرُكِ ٱلْبَحْرَ رَهْوًا ۖ إِنَّهُمْ جُندٌ مُّغْرَقُونَ
watrukil-baḥra rahwā, innahum jundum mugraqụn
24. dan biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan”.
كَمْ تَرَكُوا۟ مِن جَنَّٰتٍ وَعُيُونٍ
kam tarakụ min jannātiw wa ‘uyụn
25. Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan,
وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ
wa zurụ’iw wa maqāming karīm
26. dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah,
وَنَعْمَةٍ كَانُوا۟ فِيهَا فَٰكِهِينَ
wa na’mating kānụ fīhā fākihīn
27. dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya,
كَذَٰلِكَ ۖ وَأَوْرَثْنَٰهَا قَوْمًا ءَاخَرِينَ
każālik, wa auraṡnāhā qauman ākharīn
28. demikianlah. Dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain.
فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ ٱلسَّمَآءُ وَٱلْأَرْضُ وَمَا كَانُوا۟ مُنظَرِينَ
fa mā bakat ‘alaihimus-samā`u wal-arḍ, wa mā kānụ munẓarīn
29. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh.
وَلَقَدْ نَجَّيْنَا بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ مِنَ ٱلْعَذَابِ ٱلْمُهِينِ
wa laqad najjainā banī isrā`īla minal-‘ażābil-muhīn
30. Dan sesungguhnya telah Kami selamatkan Bani Israil dari siksa yang menghinakan,
مِن فِرْعَوْنَ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَالِيًا مِّنَ ٱلْمُسْرِفِينَ
min fir’aụn, innahụ kāna ‘āliyam minal-musrifīn
31. dari (azab) Fir’aun. Sesungguhnya dia adalah orang yang sombong, salah seorang dari orang-orang yang melampaui batas.
وَلَقَدِ ٱخْتَرْنَٰهُمْ عَلَىٰ عِلْمٍ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ
wa laqadikhtarnāhum ‘alā ‘ilmin ‘alal-‘ālamīn
32. Dan sesungguhnya telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (Kami) atas bangsa-bangsa.
وَءَاتَيْنَٰهُم مِّنَ ٱلْءَايَٰتِ مَا فِيهِ بَلَٰٓؤٌا۟ مُّبِينٌ
wa ātaināhum minal-āyāti mā fīhi balā`um mubīn
33. Dan Kami telah memberikan kepada mereka di antara tanda-tanda kekuasaan (Kami) sesuatu yang di dalamnya terdapat nikmat yang nyata.
إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَيَقُولُونَ
inna hā`ulā`i layaqụlụn
34. Sesungguhnya mereka (kaum musyrik) itu benar-benar berkata,
إِنْ هِىَ إِلَّا مَوْتَتُنَا ٱلْأُولَىٰ وَمَا نَحْنُ بِمُنشَرِينَ
in hiya illā mautatunal-ụlā wa mā naḥnu bimunsyarīn
35. “tidak ada kematian selain kematian di dunia ini. Dan kami sekali-kali tidak akan dibangkitkan,
فَأْتُوا۟ بِـَٔابَآئِنَآ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
fa`tụ bi`ābā`inā ing kuntum ṣādiqīn
36. maka datangkanlah (kembali) bapak-bapak kami jika kamu memang orang-orang yang benar”.
أَهُمْ خَيْرٌ أَمْ قَوْمُ تُبَّعٍ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۚ أَهْلَكْنَٰهُمْ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ مُجْرِمِينَ
a hum khairun am qaumu tubba’iw wallażīna ming qablihim, ahlaknāhum innahum kānụ mujrimīn
37. Apakah mereka (kaum musyrikin) yang lebih baik ataukah kaum Tubba’ dan orang-orang yang sebelum mereka. Kami telah membinasakan mereka karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdosa.
وَمَا خَلَقْنَا ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَٰعِبِينَ
wa mā khalaqnas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā lā’ibīn
38. Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main.
مَا خَلَقْنَٰهُمَآ إِلَّا بِٱلْحَقِّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
mā khalaqnāhumā illā bil-ḥaqqi wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn
39. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
إِنَّ يَوْمَ ٱلْفَصْلِ مِيقَٰتُهُمْ أَجْمَعِينَ inna yaumal-faṣli mīqātuhum ajma’īn
40. Sesungguhnya hari keputusan (hari kiamat) itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya,
يَوْمَ لَا يُغْنِى مَوْلًى عَن مَّوْلًى شَيْـًٔا وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ
yauma lā yugnī maulan ‘am maulan syai`aw wa lā hum yunṣarụn
41. yaitu hari yang seorang karib tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya sedikitpun, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan,
إِلَّا مَن رَّحِمَ ٱللَّهُ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ
illā mar raḥimallāh, innahụ huwal-‘azīzur-raḥīm
42. kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
إِنَّ شَجَرَتَ ٱلزَّقُّومِ
inna syajarataz-zaqqụm
43. Sesungguhnya pohon zaqqum itu,
طَعَامُ ٱلْأَثِيمِ
ṭa’āmul-aṡīm
44. makanan orang yang banyak berdosa.
كَٱلْمُهْلِ يَغْلِى فِى ٱلْبُطُونِ kal-muhli yaglī fil-buṭụn
45. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut,
كَغَلْىِ ٱلْحَمِيمِ
kagalyil-ḥamīm
46. seperti mendidihnya air yang amat panas.
خُذُوهُ فَٱعْتِلُوهُ إِلَىٰ سَوَآءِ ٱلْجَحِيمِ
khużụhu fa’tilụhu ilā sawā`il-jaḥīm
47. Peganglah dia kemudian seretlah dia ke tengah-tengah neraka.
ثُمَّ صُبُّوا۟ فَوْقَ رَأْسِهِۦ مِنْ عَذَابِ ٱلْحَمِيمِ
ṡumma ṣubbụ fauqa ra`sihī min ‘ażābil-ḥamīm
48. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas.
ذُقْ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْكَرِيمُ
żuq, innaka antal-‘azīzul-karīm
49. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.
إِنَّ هَٰذَا مَا كُنتُم بِهِۦ تَمْتَرُونَ
inna hāżā mā kuntum bihī tamtarụn
50. Sesungguhnya ini adalah azab yang dahulu selalu kamu meragu-ragukannya.
إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِى مَقَامٍ أَمِينٍ
innal-muttaqīna fī maqāmin amīn
51. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman,
فِى جَنَّٰتٍ وَعُيُونٍ
fī jannātiw wa ‘uyụn
52. (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air;
يَلْبَسُونَ مِن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُّتَقَٰبِلِينَ
yalbasụna min sundusiw wa istabraqim mutaqābilīn
53. mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan,
كَذَٰلِكَ وَزَوَّجْنَٰهُم بِحُورٍ عِينٍ każālik, wa zawwajnāhum biḥụrin ‘īn
54. demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari. يَدْعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَٰكِهَةٍ ءَامِنِينَ
yad’ụna fīhā bikulli fākihatin āminīn
55. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran),
لَا يَذُوقُونَ فِيهَا ٱلْمَوْتَ إِلَّا ٱلْمَوْتَةَ ٱلْأُولَىٰ ۖ وَوَقَىٰهُمْ عَذَابَ ٱلْجَحِيمِ
lā yażụqụna fīhal-mauta illal-mautatal-ụlā, wa waqāhum ‘ażābal-jaḥīm
56. mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka,
فَضْلًا مِّن رَّبِّكَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
faḍlam mir rabbik, żālika huwal-fauzul-‘aẓīm
57. sebagai karunia dari Tuhanmu. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar.
فَإِنَّمَا يَسَّرْنَٰهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
fa innamā yassarnāhu bilisānika la’allahum yatażakkarụn
58. Sesungguhnya Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran.
فَٱرْتَقِبْ إِنَّهُم مُّرْتَقِبُونَ
fartaqib innahum murtaqibụn
59. Maka tunggulah; sesungguhnya mereka itu menunggu (pula).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/surat-ad-dukhan-lagi.jpg)